Logo
>

Wall Street Mulai Tenang, Tapi Bayang-Bayang Trump Masih Menggantung

Pasar saham AS mencoba bangkit usai tertekan isu Greenland. Pernyataan Donald Trump meredakan ketegangan, meski kekhawatiran geopolitik masih membayangi Wall Street.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Wall Street Mulai Tenang, Tapi Bayang-Bayang Trump Masih Menggantung
Wall Street berangsur pulih setelah gejolak isu Greenland. Pernyataan Donald Trump meredakan pasar, namun risiko geopolitik tetap menghantui investor. Foto: IG @potus

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Pasar saham Amerika Serikat perlahan mencoba berdiri kembali setelah mengalami hari terburuk sejak Oktober. Namun, di balik pemulihan tipis itu, kegelisahan masih terasa di Wall Street. Sumbernya bukan dari laporan keuangan atau data ekonomi, melainkan dari satu isu geopolitik yang terdengar absurd tapi berdampak nyata: ambisi Presiden Donald Trump terhadap Greenland.

    Dilansir dari AP, Kamis, 22 Januari 2026, Indeks S&P 500 menguat 0,3 persen setelah Trump menyampaikan pidato di hadapan pemimpin bisnis dan pejabat pemerintah di Eropa. Dalam pidato itu, Trump menegaskan bahwa ia tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih “sepotong es” tersebut. Pernyataan ini dianggap sebagai penurunan tensi, setelah sebelumnya pasar diguncang retorika agresif, termasuk ancaman tarif lintas Atlantik.

    Pernyataan Trump membantu S&P 500 memangkas sebagian penurunan 2,1 persen yang terjadi sehari sebelumnya dan mendekatkannya kembali ke rekor tertinggi sepanjang masa yang tercapai awal bulan ini. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 188 poin atau 0,4 persen, sedangkan Nasdaq Composite cenderung stagnan.

    Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang AS ikut melandai setelah melonjak sehari sebelumnya—lonjakan yang sempat dibaca sebagai sinyal kekhawatiran inflasi jangka panjang. Penurunan ini terbantu oleh meredanya gejolak di Jepang, setelah imbal hasil obligasi pemerintahnya sempat melonjak akibat kekhawatiran atas besarnya utang negara.

    Nilai tukar dolar AS juga bergerak lebih stabil terhadap euro, franc Swiss, dan sejumlah mata uang utama lainnya, setelah sebelumnya tergelincir. Meski begitu, rasa waswas belum sepenuhnya pergi.

    Buktinya, harga emas kembali naik 1 persen dan untuk pertama kalinya menembus USD4.800 per ons—setara sekitar Rp80,64 juta per ons. Lonjakan ini menunjukkan sebagian investor masih memilih berlindung di aset aman, meski pasar saham mulai bangkit.

    Trump: Pasar Turun Itu “Receh”

    Trump sendiri mengakui bahwa keinginannya terhadap Greenland ikut memicu penurunan pasar saham AS pada Selasa. Namun ia mengecilkan dampaknya.

    Ia menyebut gejolak tersebut sebagai “receh dibandingkan dengan kenaikan pasar selama tahun pertama masa jabatan keduanya” dan meyakini pasar akan terus naik ke depan. Meski menegaskan tidak akan memakai kekuatan militer, Trump tetap mendorong “negosiasi segera” agar Amerika Serikat bisa memperoleh Greenland dari Denmark.

    Bagi pelaku pasar, ini bukan pola baru. Trump punya rekam jejak melontarkan ancaman besar yang membuat pasar panik, lalu mundur sebagian dan berakhir pada kesepakatan yang dianggap tidak separah skenario awal.

    Dari pola ini, muncul istilah populer di Wall Street: TACO, singkatan dari Trump Always Chickens Out—Trump selalu mundur jika pasar bereaksi cukup keras. Namun, di sisi lain, Trump juga kerap berhasil mencapai kesepakatan yang sebelumnya dianggap mustahil, lalu membanggakannya sebagai kemenangan besar.

    Contoh paling nyata adalah pengumuman tarif tinggi pada apa yang ia sebut sebagai “Liberation Day”, yang akhirnya bermuara pada kesepakatan dagang dengan banyak ekonomi besar dunia. Pola tarik-ulur inilah yang membuat pasar kerap bergerak liar setiap kali Trump berbicara.

    Di tengah ketidakpastian geopolitik, sejumlah saham berhasil menjadi penopang pasar. Halliburton melonjak 5 persen setelah perusahaan jasa ladang minyak itu melaporkan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis.

    United Airlines juga naik 2,1 persen setelah mencatat laba akhir 2025 yang lebih baik dari perkiraan. CEO United Airlines, Scott Kirby, menyatakan momentum pendapatan kuat masih berlanjut hingga 2026.

    Kenaikan saham-saham ini membantu menutup tekanan dari Netflix, yang anjlok 4,6 persen. Penurunan ini terjadi meski Netflix mencetak laba lebih tinggi dari perkiraan, karena investor lebih fokus pada melambatnya pertumbuhan pelanggan dan proyeksi laba kuartal berjalan yang di bawah ekspektasi.

    Kraft Heinz dan Bayang-Bayang Buffett

    Tekanan juga datang dari sektor konsumer. Kraft Heinz jatuh 6 persen setelah Berkshire Hathaway memperingatkan investor bahwa mereka mungkin tertarik menjual 325 juta saham di perusahaan makanan tersebut.

    Berkshire sebelumnya telah membukukan penurunan nilai sebesar USD3,76 miliar—sekitar Rp63,17 triliun—atas investasinya di Kraft Heinz pada musim panas lalu. Warren Buffett juga secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap rencana Kraft Heinz untuk memecah perusahaan menjadi dua. Dua perwakilan Berkshire bahkan mundur dari dewan direksi Kraft pada musim semi lalu.

    Di pasar obligasi AS, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun ke 4,27 persen dari 4,30 persen, meski masih di atas level 4,24 persen pada Jumat lalu. Ini terjadi sebelum Trump kembali melontarkan ancaman tarif.

    Trump mengancam akan mengenakan tarif 10 persen mulai Februari terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, dan Finlandia—negara-negara yang menentang kendali AS atas Greenland. Tarif ini akan menambah beban di atas tarif 15 persen yang sudah tercantum dalam perjanjian dagang AS–Uni Eropa yang hingga kini belum diratifikasi.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).