KABARBURSA.COM - Bursa ekuitas Wall Street menutup perdagangan Kamis di zona merah. Tekanan datang berlapis. Kejatuhan saham perusahaan private equity, disusul pelemahan Apple dan Walmart, menyeret indeks utama menjauh dari teritori positif. Kenaikan di sektor industri hanya mampu menjadi penahan, bukan penyelamat.
Indeks S&P 500 yang merepresentasikan pasar secara luas turun 0,28 persen atau 19,42 poin ke level 6.861,89. Nasdaq Composite terkoreksi 0,31 persen atau 70,90 poin menjadi 22.682,73. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot lebih dalam, 0,54 persen atau 267,50 poin, dan berhenti di 49.395,16, sebagaimana dilaporkan Reuters di New York, Kamis 19 Februari 2026 atau Jumat 20 Februari 2026 pagi WIB.
Guncangan bermula dari sektor private equity. Blue Owl Capital mengumumkan penjualan aset senilai USD1,4 miliar serta pembekuan penarikan dana (redemption) pada salah satu produknya guna mengelola beban utang dan mengembalikan modal kepada investor. Langkah korporasi ini memantik kecemasan baru mengenai kualitas kredit dan eksposur lembaga pembiayaan terhadap saham-saham perangkat lunak.
Imbasnya langsung terasa. Saham Apollo Global Management, Ares Management, KKR & Co, serta Carlyle Group terkoreksi antara 1,9 persen hingga 5,2 persen. Blue Owl sendiri terperosok 6 persen. Sentimen negatif merambat cepat, mempertebal aversi risiko.
Apple ikut menjadi pemberat signifikan. Sahamnya turun 1,4 persen dan menjadi kontributor terbesar pelemahan S&P 500. Walmart pun terkoreksi 1,4 persen setelah CEO baru John Furner membuka masa jabatannya dengan proyeksi fiskal 2027 yang konservatif, meski dibarengi rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai USD30 miliar.
Di sektor teknologi, khususnya yang beririsan dengan kecerdasan buatan (AI), volatilitas masih membayangi. Valuasi yang dinilai terlalu premium serta minimnya bukti konkret bahwa belanja masif AI berujung pada lonjakan pendapatan dan laba membuat pelaku pasar bersikap selektif. Beragam industri—dari perangkat lunak hingga logistik—ikut terseret kekhawatiran bahwa disrupsi AI yang akseleratif dapat merombak model bisnis dan memperketat kontestasi.
“Pasar sedang berupaya memilah lini bisnis mana yang benar-benar terancam AI. Teknologi ini bergerak sangat cepat. Fase seperti ini terasa wajar. Kita berada pada titik siklus ketika disadari bahwa tidak semua pelaku akan menjadi pemenang dan tidak semua ekspektasi akan terealisasi,” ujar Keith Buchanan, Manajer Portofolio GLOBALT Investments di Atlanta.
Di tengah tekanan, ada pula titik terang. Saham Deere & Company melesat 11,6 persen setelah produsen alat berat pertanian itu menaikkan proyeksi laba tahunan dan mencatat kinerja kuartal pertama melampaui ekspektasi pasar.
Indeks sektor energi S&P 500 menguat 0,6 persen, terdorong kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya kekhawatiran potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Namun sektor keuangan justru melemah 0,9 persen, menambah beban indeks.
Omnicom Group mencuri perhatian dengan lonjakan 15 persen setelah membukukan pendapatan kuartal IV di atas estimasi analis. Sebaliknya, Carvana anjlok hampir 8 persen akibat laba kuartalan yang mengecewakan. EPAM Systems bahkan terjerembap 17 persen setelah merilis proyeksi kuartal pertama yang berhati-hati.
Di sisi makro, risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbelah dalam menentukan arah suku bunga tahun ini. Ketidakpastian itu menambah lapisan kehati-hatian di pasar yang sudah sarat volatilitas.(*)