Logo
>

WIFI Ditekan ke 2.130 saat Sentimen Besar tak Tercermin di Harga

Saham WIFI terkoreksi meski investor global masuk dan ekspansi Internet Rakyat berjalan, menandai tarik-menarik antara tekanan teknikal dan dorongan fundamental.

Ditulis oleh Yunila Wati
WIFI Ditekan ke 2.130 saat Sentimen Besar tak Tercermin di Harga
WIFI masih dalam tekanan yang cukup tinggi meskipun sentimen positif gencar masuk dan fundamental mencatatkan pendapatan serta laba bersih yang meningkat. (Foto: dok Solusi Sinergi Digital)

KABARBURSA.COM – Meskipun di belakang layer saham PT Solusi Sinergi Digital (WIFI) mengalir sejumlah sentiment yang tidak kecil, namun pergerakannya berada dalam tekanan. Pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, harga terkoreksi sebesar 5,75 persen ke level 2.130. 

Koreksi ini menembus MA20 dan menandai adanya perubahan ritme jangka pendek setelah sebelumnya bergerak dalam fase penguatan.

Penurunan ini muncul di tengah kombinasi yang kontras antara tekanan teknikal dan dorongan fundamental. Dari sisi pergerakan, koreksi yang terjadi disertai tekanan jual yang cukup terasa, menunjukkan adanya distribusi di area atas setelah fase kenaikan sebelumnya. 

Dalam struktur gelombang MNC Sekuritas, posisi WIFI saat ini berada pada bagian wave C dari wave (B), yang menempatkan saham ini dalam fase koreksi lanjutan sebelum arah berikutnya terbentuk.

Area pergerakan terdekat berada di rentang 2.040 hingga 2.120 sebagai zona spekulatif. Selama harga bergerak di sekitar area ini, pergerakan cenderung memasuki fase uji keseimbangan antara tekanan jual dan potensi pembentukan dasar baru. 

Di sisi atas, target harga berada di kisaran 2.420 hingga 2.700, sementara batas bawah di 1.975 menjadi level pengaman dalam struktur teknikal saat ini.

Peningkatan Jumlah Investor

Namun jika ditarik lebih dalam, pergerakan harga tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan sentimen di sisi kepemilikan. Pada akhir 2025, jumlah investor WIFI meningkat signifikan, bertambah 12.432 pihak dalam satu bulan menjadi total 63.074 pemegang saham. 

Struktur kepemilikan juga menunjukkan porsi publik yang cukup besar, dengan free float mencapai 40,02 persen atau sekitar 2,12 miliar saham, yang membuat likuiditas saham relatif terbuka di pasar.

Perubahan kepemilikan ini juga diikuti oleh masuknya investor institusi global. Data Bloomberg mencatat BlackRock mulai mengoleksi saham WIFI sejak akhir Desember 2025 dengan nilai portofolio sekitar Rp10,26 miliar pada harga rata-rata di kisaran 3.494. 

Selain itu, nama lain seperti Grace Partners of DuPage LP dan Nationwide Fund Advisors juga tercatat masuk dengan nilai investasi puluhan miliar rupiah, membentuk lapisan baru dalam struktur investor.

Ekspansi WIFI: Internet Rakyat

Dari sisi bisnis, langkah ekspansi WIFI juga berjalan agresif. Peluncuran layanan Internet Rakyat (IRA) menjadi salah satu tonggak penting, dengan klaim sebagai layanan fixed wireless access 5G 1,4 GHz pertama di dunia yang terintegrasi dengan jaringan backbone fiber milik perusahaan. 

Layanan ini ditawarkan dengan harga Rp100 ribu untuk kecepatan hingga 100 Mbps, guna menyasar penetrasi pasar yang lebih luas dengan pendekatan harga terjangkau.

Ekspansi tidak berdiri sendiri. WIFI menargetkan pembangunan hingga 5.500 site jaringan aktif pada 2026 serta jangkauan lebih dari 5 juta pelanggan di wilayah Jawa, Maluku, dan Papua. 

Infrastruktur backbone sepanjang hampir 7.000 kilometer yang dimiliki menjadi basis utama dalam pengembangan jaringan ini, diperkuat oleh kemitraan dengan perusahaan global seperti Qualcomm, Huawei, hingga FiberHome.

Pendapatan Meningkat, Laba Bersih Naik

Kinerja keuangan juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga September 2025, pendapatan meningkat 101 persen menjadi Rp1,01 triliun, sementara laba bersih naik 71 persen menjadi Rp260,09 miliar. 

Peningkatan ini diikuti oleh penguatan aset dan ekuitas, yang mencerminkan ekspansi bisnis yang berjalan bersamaan dengan penguatan struktur permodalan.

Di tengah seluruh perkembangan tersebut, pergerakan harga saham WIFI justru berada dalam fase penyesuaian. Tekanan teknikal jangka pendek muncul bersamaan dengan perubahan struktur investor dan ekspansi bisnis yang masih berjalan. 

Kondisi ini membentuk satu fase transisi, di mana pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen sesaat, tetapi juga oleh proses penyesuaian terhadap arah bisnis yang sedang berkembang.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79