KABARBURSA.COM – Perubahan pengendali PT Agung Menjangan Mas Tbk, berkode emiten AMMS, belum membawa katalis positif bagi pergerakan saham. Terbukti, pada Senin, 5 Januari 2026, saham terkoreksi sangat signifikan, nyaris 3 persen.
Pelepasan saham besar-besaran oleh PT Mandara Mas Semesta menandai berakhirnya kontrol lama dan dimulainya babak baru AMMS di bawah kendali Radiant Ruby Company Ltd. Skala transaksi yang mencapai lebih dari 51 persen saham menempatkan aksi ini sebagai pengambilalihan penuh, bukan sekadar reposisi kepemilikan minoritas.
Dari sisi struktur kepemilikan, pergeseran ini sangat drastis. Mandara Mas Semesta yang sebelumnya menguasai 77,54 persen saham kini tinggal memegang 29 persen. Artinya, kontrol efektif sepenuhnya berpindah tangan.
Radiant Ruby Company Ltd masuk sebagai pemegang saham pengendali baru dengan kepemilikan mayoritas, yang diperoleh dari kombinasi saham Mandara dan sebagian saham milik Hartono Limmantoro.
Dengan status pengendali, Radiant kini memiliki ruang penuh untuk menentukan arah strategis perseroan, mulai dari restrukturisasi bisnis, perubahan manajemen, hingga aksi korporasi lanjutan.
Namun, yang langsung menimbulkan tanda tanya pasar adalah disparitas harga. Pengambilalihan dilakukan di harga Rp30 per saham, sementara harga AMMS di pasar reguler bergerak jauh di atas level tersebut.
Pada perdagangan terakhir, saham AMMS diperdagangkan di kisaran 490 dan terkoreksi hampir 3 persen dalam sehari. Koreksi ini mencerminkan reaksi pasar yang mulai mencerna ulang valuasi dan ekspektasi.
Ketika saham berpindah tangan di harga yang sangat rendah dibandingkan harga pasar, investor ritel cenderung mempertanyakan apakah harga pasar saat ini masih mencerminkan nilai wajar, atau justru sudah terlalu sarat spekulasi.
Sentimen ini terlihat jelas pada pergerakan harian saham AMMS. Setelah sempat dibuka tinggi dan bergerak di area 500-an, tekanan jual muncul dan menyeret harga turun mendekati 490. Rentang pergerakan yang cukup lebar, dari level tertinggi 555 hingga terendah 472, menunjukkan volatilitas yang meningkat.
Ini bukan pola distribusi yang rapi, melainkan fase penyesuaian harga yang dipicu oleh ketidakpastian arah pasca-pergantian pengendali. Volume transaksi yang relatif aktif memperlihatkan adanya tarik-menarik antara pelaku yang masih berspekulasi atas potensi perubahan strategis dan pihak yang mulai mengamankan keuntungan.
Dari sudut pandang sentimen, perubahan pengendali ini bersifat dua sisi. Di satu sisi, masuknya investor baru tanpa afiliasi dengan pengendali lama membuka peluang terjadinya transformasi bisnis. Pasar biasanya menyukai narasi “pemilik baru, arah baru”, terutama jika diikuti dengan perombakan manajemen atau ekspansi yang lebih agresif.
Status Radiant Ruby sebagai perusahaan investasi juga memberi ruang spekulasi bahwa AMMS bisa dijadikan kendaraan untuk strategi korporasi tertentu ke depan.
Namun di sisi lain, belum adanya penjelasan rinci mengenai rencana bisnis pasca-akuisisi membuat sentimen positif ini masih mentah. Radiant berbasis di British Virgin Islands dan dikendalikan oleh individu yang sebelumnya tidak terkait dengan AMMS.
Bagi pasar, ini menimbulkan fase tunggu dan lihat. Tanpa kejelasan roadmap, pasar cenderung menguji harga, bukan mendorongnya naik secara berkelanjutan. Inilah yang tercermin dalam tekanan jual jangka pendek meski struktur kepemilikan sudah berganti.
Secara keseluruhan, perubahan pengendali AMMS adalah katalis besar, tetapi efeknya tidak instan. Pasar hari ini lebih menunjukkan fase penyesuaian dan evaluasi ulang, bukan euforia. Pergerakan saham yang terkoreksi menandakan bahwa investor mulai memisahkan fakta struktural dari ekspektasi spekulatif. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh langkah konkret Radiant Ruby Company Ltd setelah resmi menjadi pengendali.
Jika diikuti dengan aksi strategis yang jelas, sentimen bisa berbalik konstruktif. Namun tanpa itu, pasar akan terus menguji harga, menjadikan saham AMMS bergerak volatil dalam fase transisi pengendalian ini.(*)