Logo
>

ANTM Gelontorkan Rp245 Miliar untuk Eksplorasi, Sejalan dengan Capex?

Belanja eksplorasi emas, nikel, dan bauksit hanya menyerap sebagian kecil dari capex 2025. Langkah ini dinilai lebih sebagai fondasi jangka panjang ketimbang pendorong kinerja jangka pendek.

Ditulis oleh Yunila Wati
ANTM Gelontorkan Rp245 Miliar untuk Eksplorasi, Sejalan dengan Capex?
Aktivitas operasional PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di kawasan pertambangan. (Foto: Dok. Antam)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – PT Aneka Tambang Tbk, berkode emiten ANTM, melaporkan penggunaan dana sebesar Rp245,76 miliar hingga akhir 2025. Dana sebesar itu dipergunakan untuk eksplorasi tambang emas dan nikel. Namun, apakah ini sejalan dengan capex-nya di 2025?

    Diketahui, Antam menyiapkan belanja modal sekitar Rp7 triliun di 2025. Dana tersebut tidak hanya dipergunakan untuk tambang nikel dan emas, tetapi juga penguatan ekosistem baterai kendaraan listrik, pengembangan pabrik pemurnian di Gresik, serta proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah. 

    Secara proporsional, Rp245,76 miliar hanya sekitar 3,5 persen dari total capex Rp7 triliun. Dalam bisnis pertambangan, eksplorasi tidak dimaksudkan untuk langsung menghasilkan pendapatan, melainkan untuk memastikan kesinambungan pasokan bahan baku bagi proyek-proyek hilirisasi dan fasilitas pengolahan yang jauh lebih mahal. 

    Dengan kata lain, eksplorasi adalah “asuransi jangka panjang” bagi investasi besar yang sudah dan akan ditanamkan Antam.

    Fokus eksplorasi Antam pada 2025 konsisten dengan arah capex-nya. Untuk emas, kegiatan difokuskan di Pongkor melalui pengeboran bawah tanah, pengeboran permukaan, pemetaan geologi, dan pengambilan conto. 

    Ini sejalan dengan rencana Antam memperkuat segmen emas sebagai salah satu penopang stabilitas pendapatan, terutama lewat peningkatan fasilitas pengolahan dan pemurnian. Tanpa eksplorasi, fasilitas baru berisiko kekurangan feedstock di masa depan.

    Di sisi nikel, eksplorasi dilakukan di Konawe Utara, Pomalaa, dan Buli melalui anak usaha PT Sumberdaya Arindo. Metode yang digunakan cukup komprehensif, mulai dari pengeboran single tube, pemetaan geologi, pengukuran grid, percontoan, hingga survei geofisika dan analisis laboratorium. 

    Eksplorasi ini selaras dengan agenda besar Antam di ekosistem baterai kendaraan listrik. Hilirisasi nikel tidak hanya membutuhkan smelter, tetapi juga kepastian volume dan kualitas cadangan. Tanpa eksplorasi agresif, investasi hilir justru bisa kehilangan dasar ekonominya.

    Hal serupa berlaku pada bauksit. Eksplorasi di Tayan, Landak, dan Mempawah-Toho jelas terkoneksi langsung dengan proyek SGAR di Mempawah. Smelter alumina tidak akan berarti jika pasokan bauksitnya tidak terjamin. 

    Pendekatan terintegrasi melalui Unit Geomin juga memperlihatkan bahwa Antam tidak sekadar mengebor, tetapi membangun basis data jangka panjang lewat GIS, survei geologi, geofisika, geodesi, hingga perhitungan cadangan. 

    Hal ini penting karena nilai ekonomi tambang modern tidak hanya terletak pada tonase, tetapi juga pada kualitas data dan kepastian sumber daya.

    Dari sudut pandang strategi, ini menegaskan bahwa laporan eksplorasi Antam konsisten dengan rencana capex 2025. Tidak ada diskoneksi antara apa yang mereka belanjakan dan apa yang mereka janjikan. 

    Eksplorasi emas, nikel, dan bauksit langsung mendukung tiga pilar utama belanja modal: emas sebagai stabilizer, nikel sebagai mesin pertumbuhan EV, dan bauksit sebagai basis hilirisasi alumina.

    Selain itu, pernyataan bahwa capex Antam didanai dari arus kas internal juga memberi konteks penting. Artinya, eksplorasi Rp245,76 miliar bukan pembebanan mendadak, melainkan bagian dari alokasi kas yang sudah direncanakan. 

    Jika eksplorasi ini dilakukan secara agresif tanpa dukungan kas, pasar mungkin akan membaca ini sebagai sinyal tekanan. Namun dalam kasus Antam, ini lebih mencerminkan kepercayaan diri terhadap kemampuan pendanaan internal.

    Yang perlu dipahami, eksplorasi tidak akan langsung terlihat dampaknya pada laporan laba rugi. Tidak ada kenaikan pendapatan, bahkan justru menambah beban. Namun secara strategis, ini adalah pengeluaran yang memperpanjang umur bisnis. Dalam konteks capex Rp7 triliun, eksplorasi ini adalah pondasi kecil yang menopang bangunan besar.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79