KABARBURSA.COM – Langkah PT Capitalinc Investment Tbk, berkode emiten MTFN, menggelontorkan dana eksplorasi sebesar Rp46,13 miliar di awal tahun ini. Tujuannya Adalah untuk mengeksplorasi Sumur AK-2 melalui anak usahanya PT Cahaya Batu Raja Blok (CBRB), dengan nilai Rp45,72 miliar.
Namun, langkah ini menuai sorotan tajam, karena secara administratif kinerja keuangannya belum stabil. Pasar bertanya, apa sebenarnya yang sedang dipertaruhkan perusahaan yang bergerak di sektor investasi pertambangan ini?
Dengan nilai yang tidak kecil, 99 persen belanja eksplorasi terpusat pada satu titik geografis dan satu sumur. Sementara proyek Sumur Bantuas-1 di Kalimantan Timur melalui PT Kutai Etam Petroleum (KEP) hanya menyerap Rp410 juta.
Komposisi ini menunjukkan bahwa MTFN sedang mengambil posisi yang sangat terkonsentrasi, bukan menyebar risiko melalui banyak sumur kecil. Secara strategis, ini mencerminkan keyakinan internal yang cukup tinggi terhadap prospek subsurface di wilayah Sumatera Selatan, terutama karena proyek tersebut mengacu pada data seismik 2D dan 3D, kajian geologi-geofisika, serta data sumur.
Namun, yang membuat langkah ini semakin menarik adalah fakta bahwa kedua proyek tersebut saat ini baru mencapai tahap pembebasan lahan, dan setelahnya justru direncanakan untuk dilakukan pengalihan aset.
Ini membuka ruang tafsir bahwa MTFN tidak sepenuhnya mengincar produksi jangka panjang dari sumur tersebut, melainkan lebih ke arah value creation berbasis eksplorasi awal, lalu monetisasi melalui pengalihan atau divestasi.
Pola ini lebih menyerupai pendekatan asset play ketimbang pengembangan lapangan penuh.
Laba Bersih Masih Catatkan Kerugian
Jika melihat kinerja kuartalan, gambaran MTFN masih jauh dari stabil. Pada Q3 2025, perusahaan membukukan pendapatan Rp125 miliar, namun laba bersih tahun berjalan justru mencatat rugi Rp4 miliar. Bahkan, laba sebelum pajak juga negatif Rp4 miliar.
Ini bukan insiden satu kali. Dalam empat kuartal terakhir, volatilitas laba sangat tinggi. Kuartal kedua 2025 sempat mencatat laba bersih Rp11 miliar, tetapi Q1 2025 rugi Rp10 miliar. Pada Q4 2024, kerugiannya bahkan membengkak hingga Rp77 miliar.
Artinya, arus laba MTFN masih fluktuatif dan belum membentuk pola pemulihan yang konsisten. Dari sisi operasional, laba usaha Q3 2025 hanya Rp3 miliar, sementara beban lain-lain justru menekan hasil akhir menjadi rugi.
Ini menunjukkan bahwa sumber tekanan tidak hanya berasal dari operasional inti, tetapi juga dari pos non-operasional yang belum stabil.
Rasio keuangan mempertegas kondisi ini. Return on Assets (ROA) Q3 2025 tercatat -0,81 persen, sementara Return on Equity (ROE) hanya 0,80 persen. Ini berarti aset perusahaan belum bekerja secara produktif, dan imbal hasil kepada pemegang saham nyaris tidak signifikan.
EPS kuartalan juga negatif di Q3 2025, yakni -0,13. Dengan kondisi seperti ini, belanja eksplorasi Rp46,13 miliar jelas bukan keputusan ringan.
Namun, yang menarik, EBITDA kuartalan justru menunjukkan pemulihan dari titik terburuk. Dari posisi negatif Rp117,5 miliar pada Q4 2024, EBITDA berbalik positif Rp2,98 miliar pada Q3 2025. Ini mengindikasikan bahwa secara kas operasional, tekanan ekstrem sudah mulai mereda, meskipun belum bisa dikatakan sehat.
Interest coverage ratio yang melonjak ekstrem pada Q2 2025 dan tetap tinggi di Q3 2025 juga memberi sinyal bahwa beban bunga saat ini bukan tekanan utama, meskipun angka tersebut perlu dibaca hati-hati karena fluktuasinya sangat tajam.
Dalam konteks ini, belanja eksplorasi MTFN tampaknya bukan didorong oleh kelonggaran kas yang besar, melainkan oleh kebutuhan strategis untuk menciptakan katalis baru. Dengan fundamental yang belum solid dan profitabilitas yang masih rapuh, MTFN membutuhkan cerita pertumbuhan yang bisa mengubah persepsi pasar.
Proyek eksplorasi ini, apalagi dengan rencana pengalihan aset, berpotensi menjadi pemicu tersebut jika berhasil menghasilkan nilai komersial yang menarik.
Sentimen pasar terhadap langkah ini cenderung akan terbelah. Di satu sisi, ini bisa dibaca sebagai upaya agresif untuk keluar dari stagnasi kinerja. MTFN tidak menunggu kondisi keuangan membaik dulu, tetapi justru mencoba menciptakan momentum baru lewat eksplorasi.
Di sisi lain, risiko tetap besar karena belanja ini dilakukan saat laba belum stabil dan ekuitas belum menghasilkan imbal hasil optimal.
Dengan kata lain, MTFN sedang berada dalam fase spekulatif-strategis. Langkah eksplorasi ini bukan refleksi kekuatan finansial, melainkan refleksi kebutuhan akan narasi pertumbuhan.
Jika proyek ini berhasil dimonetisasi lewat pengalihan aset dengan valuasi yang menarik, maka keputusan ini akan terlihat visioner. Namun jika tidak, beban ini justru berpotensi menambah tekanan keuangan.
Dalam konteks pasar, ini membuat MTFN lebih cocok dibaca sebagai saham bertema katalis, bukan saham berbasis fundamental solid. Investor yang masuk bukan sedang membeli kestabilan, melainkan sedang berspekulasi pada potensi nilai dari proyek eksplorasi ini.
Dan seperti semua cerita eksplorasi, hasil akhirnya tidak akan ditentukan oleh niat, melainkan oleh data subsurface, minat pembeli aset, dan kemampuan manajemen mengonversi proyek ini menjadi uang nyata.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.