Logo
>

EMDE Melonjak Sembilan Persen, Siapa yang Gerakkan Saat Asing Sepi?

Lonjakan harga disertai volume tinggi dan tekanan jual di atas, sementara katalis properti mulai menghangat di tengah minimnya aksi asing.

Ditulis oleh Yunila Wati
EMDE Melonjak Sembilan Persen, Siapa yang Gerakkan Saat Asing Sepi?
Pergerakan saham EMDE pada hari ini cukup menarik diperhatikan. Sahamnya terbang hingga lebih dari 9 persen. (Foto: dok Megapolitan Development)

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Megapolitan Development Tbk atau EMDE dalam beberapa hari terakhir tampak begitu gesit. Pada sesi terakhir perdagangan Selasa, 21 April 2026, sahamnya menguat 9,64 persen ke level 91.

Kenaikan ini terjadi setelah harga bergerak dari area 73–74 pada pertengahan April. Lalu, secara bertahap harganya mulai menembus area 90. Bahkan dalam satu sesi, EMDE bisa menyentuh level tertinggi 104, sebelum ditutup di 91 dengan nilai transaksi Rp25,40 miliar dan volume 2,69 juta lot.

Jika ditarik ke belakang, pergerakan ini terlihat wajar. Pada 16 April, saham EMDE memang sudah mencatat kenaikan sebesar 15,07 persen, dengan lonjakan nilai transaksi Rp17,58 miliar. Sejak saat itu, aktivitasnya terjaga hingga hari ini. 

Pola seperti ini memperlihatkan adanya peningkatan minat transaksi yang berlangsung dalam beberapa hari. Dalam arti, ini bukan lonjakan sesaat.

Asing Tidak Bermain Aktif

Yang membuat pergerakan ini semakin menarik adalah aksi investor asing yang tidak signifikan. Jika dibedah datanya, asing tercatat melakukan aksi jual pada 16 April sebesar Rp293,35 juta. Lalu pada 20 April kembali terjadi net sell sebanyak Rp55,61 juta. 

Aksi beli hanya terjadi pada 17 April, di mana transaksi yang dikumpulkan sebanyak Rp113,45 juta. Jadi, jika dilihat secara keseluruhan, tidak ada dominasi akumulasi asing yang konsisten. Artinya, kenaikan harga lebih banyak digerakkan oleh aktivitas domestik dibanding aliran dana global.

Dari sisi struktur transaksi, misalnya, kenaikan harga justru disertai dengan lonjakan frekuensi dan volume yang cukup signifikan. 

Pada 21 April, frekuensinya mencapai 13.510 kali dengan volume 2,69 juta lot. Frekuensi ini meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dengan begitu, tampak ada perputaran saham yang lebih cepat seiring meningkatnya partisipasi pelaku pasar dalam beberapa sesi terakhir.

Saham Berada di Posisi Terkuat

Bicara soal teknikal, posisi saham EMDE saat ini berada dalam fase penguatan yang cukup kuat. Harga sudah berada di atas MA5 (83), MA10 (77), dan MA20 (76), serta mulai mendekati area MA100 (90) dan MA200 (92). 

Indikator teknikal ini menunjukkan rangkuman strong buy, dengan RSI di level 70,7 yang mendekati area jenuh beli, serta CCI di atas 240 yang mengindikasikan tekanan beli yang tinggi dalam jangka pendek.

Secara teknikal, area pivot berada di 84 dengan resistance terdekat di 90 dan 97. Fakta bahwa harga sempat menyentuh 104 menunjukkan adanya dorongan yang melampaui resistance normal, meskipun belum mampu bertahan di level tersebut hingga penutupan. 

Ada tekanan jual yang mulai muncul di area atas setelah lonjakan cepat.

Struktur orderbook juga memperlihatkan ketimpangan yang cukup jelas. Total antrean jual mencapai 348.538 lot, jauh lebih besar dibanding antrean beli sebesar 163.843 lot. 

Pada level harga terdekat, bid di 90 sebanyak 8.462 lot berhadapan dengan offer di 91 sebesar 1.330 lot. Namun, tekanan utama terlihat pada lapisan atas, seperti di harga 95 yang mencatat antrean jual mencapai 132.619 lot, menjadi salah satu penumpukan terbesar di sisi penawaran.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga naik, suplai saham di level atas mulai menebal. Artinya, setiap kenaikan harga berhadapan dengan potensi tekanan jual yang cukup besar, terutama dari pelaku pasar yang memanfaatkan momentum kenaikan untuk melakukan distribusi.

Sentimen Makro

Di luar pergerakan teknikal, terdapat beberapa faktor yang ikut membentuk sentimen. EMDE tengah mendorong pengembangan proyek di kawasan Mega Sentul serta peluncuran hunian di Cinere Golf Residence yang menjadi salah satu fokus pertumbuhan. 

Selain itu, kebijakan perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah hingga 2027 memberikan ruang bagi sektor properti untuk menjaga permintaan, terutama di segmen residensial.

Faktor lain yang mulai diperhatikan adalah ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia pada paruh kedua 2026. Sentimen ini cenderung memberikan dorongan pada saham properti, termasuk EMDE, karena berkaitan langsung dengan kemampuan pembiayaan konsumen dan permintaan properti.

Pergerakan saham EMDE saat ini memperlihatkan kombinasi antara peningkatan aktivitas transaksi domestik, dorongan teknikal yang kuat, serta sentimen sektoral yang mulai menghangat. Namun di saat yang sama, ketebalan antrean jual di level atas menunjukkan bahwa kenaikan ini juga diiringi dengan munculnya tekanan distribusi yang mulai terlihat dalam struktur pasar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79