KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tidak hanya dibentuk oleh fluktuasi harga komoditas, tetapi juga oleh perubahan struktur kinerja yang kini mulai menunjukkan tekanan dari dalam.
Di saat pendapatan menurun dan rugi bersih kembali melebar, aksi penjualan saham oleh salah satu direksi menambah lapisan dinamika baru yang perlu dibaca lebih dalam.
Sepanjang tahun buku 2025, MDKA mencatatkan rugi bersih sebesar USD62,06 juta, meningkat 11,3 persen dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang sebesar USD55,76 juta. Pelebaran rugi ini terjadi di tengah menurunnya pendapatan menjadi USD1,89 miliar dari USD2,24 miliar pada 2024, atau turun sekitar 15,4 persen secara tahunan.
Meski demikian, struktur biaya menunjukkan penyesuaian yang cukup signifikan. Beban pokok pendapatan turun 18,6 persen menjadi USD1,68 miliar, sehingga laba kotor justru meningkat menjadi USD216,43 juta dari USD176,35 juta.
Perbaikan ini berlanjut ke level operasional, di mana laba usaha tercatat USD146,68 juta atau naik 23,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan juga terlihat pada laba sebelum pajak yang mencapai USD32,22 juta, meningkat 48,7 persen secara tahunan. Namun setelah memperhitungkan beban pajak sebesar USD16,07 juta serta porsi laba yang diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali sebesar USD78,21 juta, hasil akhirnya justru membawa MDKA kembali mencatatkan rugi bersih pada tahun buku 2025.
Dari sisi margin, tekanan masih terlihat pada level bawah. Net profit margin berada di kisaran negatif 3,3 persen sepanjang 2025, meskipun margin operasional dan EBITDA menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
EBITDA tercatat meningkat menjadi USD373 juta dari USD329 juta, mencerminkan bahwa kinerja operasional masih tumbuh meskipun tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih.
Nikel Kontributor Utama Pendapatan
Perubahan juga terlihat pada komposisi bisnis. Segmen nikel tetap menjadi kontributor utama dengan pendapatan mencapai USD1,43 miliar meskipun turun 22 persen secara tahunan.
Sementara itu, proyek Tujuh Bukit mencatatkan peningkatan pendapatan menjadi USD327 juta, namun kontribusi laba sebelum pajaknya justru mengalami penurunan tajam pada periode kuartalan terakhir.
Di sisi operasional, dinamika komoditas juga ikut membentuk kinerja. Harga jual rata-rata emas (ASP) meningkat 32 persen secara tahunan menjadi USD3.138 per ons, namun diikuti oleh lonjakan biaya kas emas hingga 39 persen menjadi USD1.409 per ons.
Pada tembaga, harga jual naik 8 persen, sementara biaya juga meningkat, menjaga margin tetap terbatas.
Sementara itu, produksi nikel (NPI) tercatat turun 10 persen secara tahunan menjadi 73.872 ton, meskipun margin kas justru meningkat signifikan sebesar 52 persen. Kombinasi ini menunjukkan adanya perbedaan arah antara volume produksi dan efisiensi biaya di masing-masing komoditas.
Dari sisi neraca, total aset MDKA meningkat 9 persen menjadi USD5,71 miliar. Namun di saat yang sama, kas dan bank justru turun 21,3 persen menjadi USD354,78 juta, menunjukkan adanya penurunan likuiditas di tengah ekspansi aset.
Liabilitas meningkat 19,9 persen menjadi USD2,78 miliar, sementara ekuitas hanya naik tipis 0,3 persen menjadi USD2,92 miliar. Kondisi ini memperlihatkan adanya tekanan pada struktur keuangan, terutama dengan meningkatnya kewajiban yang tidak diimbangi pertumbuhan modal yang signifikan.
Direksi Lepas 95.000 Saham
Di tengah kondisi tersebut, aksi korporasi juga muncul dari internal manajemen. Direktur MDKA Jason Laurence Greive, tercatat melepas 95.000 saham pada 5 Maret 2026 di harga Rp3.850 per saham. Transaksi ini dilakukan dengan tujuan divestasi tanpa perjanjian pembelian kembali, sehingga kepemilikan sahamnya turun menjadi 483.200 lembar dari sebelumnya 578.200 lembar.
Meskipun transaksi ini tidak mengubah struktur pengendalian maupun porsi hak suara secara signifikan yang tetap berada di kisaran 0,002 persen, langkah ini tetap menjadi bagian dari dinamika yang terjadi di tengah kondisi kinerja perusahaan.
Pergerakan saham MDKA sendiri masih menunjukkan aktivitas yang relatif terjaga. Pada perdagangan terakhir, saham ditutup di level 3.130 atau naik tipis 0,97 persen, setelah bergerak dalam rentang 3.070 hingga 3.210.
Volume transaksi tercatat sebesar 460,36 ribu lot dengan nilai Rp144,1 miliar, mencerminkan likuiditas yang masih aktif di pasar.
Di dalam orderbook, antrean penawaran terlihat lebih tebal dibandingkan permintaan di beberapa level harga atas, sementara bid relatif tersebar di bawahnya. Struktur ini menunjukkan adanya tekanan di sisi supply, meskipun harga masih mampu bertahan di kisaran yang sama sepanjang sesi perdagangan.
Kombinasi antara penurunan pendapatan, pelebaran rugi bersih, perbaikan operasional yang tidak sepenuhnya mengalir ke laba, serta aksi pelepasan saham oleh manajemen membentuk satu gambaran yang tidak sederhana.
Di satu sisi, aktivitas operasional menunjukkan perbaikan, namun di sisi lain tekanan tetap terlihat pada hasil akhir dan struktur keuangan yang bergerak tidak seimbang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.