KABARBURSA.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) baru saja melaporkan telah mencatat pertumbuhan transaksi remitansi yang melesat. Namun jika melihat pada sisi harga saham, tekanan masih ada. Pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, saham masih ditutup di zona merah.
Bagaimana pergerakan BRIS selanjutnya? Apakah melesatnya transaksi remitansi mampu menjadi katalis positif yang mendongkrak pergerakan saham?
Dalam catatannya, transaksi remitansi bertumbuh menjadi 1,8 juta transaksi hingga Desember 2025 atau naik 9 persen secara tahunan, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp116 triliun. Malaysia menjadi salah satu kontributor utama arus remitansi.
Sementara, layanan BSI Remitansi telah menjangkau sejumlah negara di Asia, Timur Tengah, hingga Amerika Utara. Secara operasional, capaian tersebut menunjukkan peningkatan volume transaksi dan ekspansi jaringan layanan lintas negara.
Akan tetapi, di pasar saham, BRIS ditutup di level Rp2.340 pada 20 Februari 2026 atau turun 0,43 persen secara harian. Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang Rp2.330 hingga Rp2.370.
Secara teknikal, ringkasan indikator menunjukkan komposisi yang relatif berimbang dengan kecenderungan beli pada osilator, sementara rata-rata pergerakan masih terbagi antara sinyal beli dan jual.
Analisis Teknikal BRIS
Jika melihat dari teknikalnya, RSI BRIS berada di level 46,356 yang mencerminkan posisi netral. Stochastic berada di 74,859 dengan sinyal beli, sedangkan StochRSI di 89,737 masuk kategori beli berlebih.
Sementara, Williams %R berada di minus 23,611 dengan sinyal beli, dan Ultimate Oscillator di 58,392 juga menunjukkan beli. Di sisi lain, MACD masih berada di wilayah negatif di minus 71,737 dengan sinyal jual, sementara ROC di minus 6,024 juga menunjukkan jual.
Untuk ADX BRIS berada di level 57,274 yang mengindikasikan kekuatan tren tinggi dalam kerangka indikator tersebut. ATR di angka 170 juga menunjukkan volatilitas yang relatif tinggi.
Dari sisi moving average, harga BRIS saat ini berada di atas MA5 dan MA10 yang masing-masing berada di kisaran 2.311–2.314 dan 2.257–2.313, serta di atas MA200 di rentang 2.113–2.173. Namun harga tersebut masih berada di bawah MA20 di kisaran 2.356–2.364 serta di bawah MA50 dan MA100 yang berada lebih tinggi di atas 2.400 hingga 2.600.
Komposisi ini menempatkan struktur harga dalam fase transisi jangka pendek, dengan kecenderungan pemulihan terbatas namun masih berada di bawah rata-rata menengah.
Rentang Harga Pergerakan BRIS
Berdasarkan pivot point klasik, level 2.294 menjadi support terdekat dan 2.387 menjadi pivot utama, sementara resistance berada di area 2.444 dan 2.537. Dengan posisi harga saat ini di 2.340, pergerakan berada di antara support dan pivot utama.
Selama harga bergerak di bawah area pivot 2.387 dan MA20, tekanan teknikal menengah masih menjadi referensi struktur tren. Sementara itu, posisi di atas MA200 menunjukkan harga masih berada di atas rata-rata jangka panjang.
Data fundamental berupa pertumbuhan transaksi remitansi mencerminkan peningkatan aktivitas bisnis dan volume transaksi perusahaan hingga akhir 2025. Dalam konteks pergerakan saham, data tersebut menjadi bagian dari informasi fundamental yang tersedia bagi pelaku pasar.
Respons harga terhadap data tersebut tercermin pada dinamika penawaran dan permintaan di pasar, yang saat ini masih menunjukkan pergerakan dalam rentang konsolidasi dengan volatilitas yang relatif tinggi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.