Logo
>

Awal Tahun, Harapan Baru: Saat Pasar Percaya Diri dan Rupiah Diuji

Januari 2026 memberi gambaran yang menarik tentang harapan itu

Ditulis oleh Lutfi Alkatiri
Awal Tahun, Harapan Baru:  Saat Pasar Percaya Diri dan Rupiah Diuji
Keyakinan bahwa ekonomi Indonesia sedang belajar melangkah pelan lebih dewasa. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Setiap awal tahun selalu membawa perasaan yang sama: harapan. Di rumahrumah, orang menyusun rencana; di kantor-kantor, target baru ditulis; dan di pasar keuangan, optimisme mencari pijakannya sendiri. Januari 2026 memberi gambaran yang menarik tentang harapan itu. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju, mencetak rekor baru (All Time High), seolah ingin berkata bahwa kepercayaan pada ekonomi Indonesia belum pudar. Namun, di saat yang sama, rupiah kembali membuka tahun dengan langkah yang lebih berat. Nilainya melemah, seperti dua Januari tahun-tahun sebelumnya. Ini bukan cerita baru, tetapi justru karena berulang itulah ia layak dibaca lebih dalam. 

Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk memahami: ke mana arah ekonomi kita sedang bergerak?

Pasar yang belajar percaya

Jika kita menengok tiga awal tahun terakhir, pasar saham Indonesia tampak semakin dewasa. Pada Januari 2024, IHSG melonjak dengan dorongan kuat dana asing dan saham-saham perbankan besar.

Tahun berikutnya, Januari 
2025, pasar bergerak lebih hati-hati, seolah menimbang dunia yang semakin tak pasti. 

Lalu datang Januari 2026, dengan cerita yang sedikit berbeda: reli 
pasar ditopang oleh banyak sektor seperti konsumsi non-primer, energi, 
infrastruktur bukan hanya satu atau dua nama besar.

Bagi pembaca awam, ini mungkin sekadar grafik yang menanjak. Tetapi bagi perekonomian, ini adalah sinyal penting. Ketika banyak sektor bergerak 
bersama, itu berarti kepercayaan tidak terkunci pada satu harapan sempit. 
Pasar mulai percaya bahwa ekonomi berjalan dengan banyak kaki, bukan 
satu penopang rapuh.

Ekonom Harvard, Paul Krugman, pernah menulis bahwa dalam jangka 
panjang, produktivitaslah yang menentukan segalanya. Pasar saham, 
betapapun riuhnya, pada akhirnya hanya cermin dari keyakinan bahwa 
ekonomi riil yaitu konsumsi, investasi, masih punya tenaga untuk melangkah.

Rupiah yang kembali diuji

Tetapi harapan tidak pernah datang tanpa ujian. Rupiah kembali melemah 
di awal 2026, melanjutkan pola yang terlihat pada 2024 dan 2025.

Fenomena ini sering terjadi: awal tahun diwarnai penguatan dolar global, penyesuaian portofolio investor internasional, dan ketidakpastian kebijakan moneter dunia. Yang menarik, pelemahan ini tidak serta-merta menggoyahkan pasar saham. 
Seolah ada kesepahaman diam-diam yaitu rupiah boleh goyah sebentar, 
selama fondasi ekonomi tetap dijaga.

Di sinilah kebijakan diuji. Bank sentral berada di persimpangan yang tidak 
mudah antara menjaga stabilitas nilai tukar, tanpa memadamkan  pertumbuhan. Pilihan untuk bersikap hati-hati, menjaga likuiditas, dan 
meredam gejolak adalah pilihan yang tidak heroik, tetapi justru menentukan.
Seorang ekonom senior, Olivier Blanchard dari MIT, pernah mengingatkan bahwa kepercayaan tidak bisa menggantikan kebijakan yang baik. Tanpa kebijakan yang kokoh, kepercayaan hanya bertahan seumur sentimen.

Fiskal yang dibaca pasar

Jika moneter berhadapan dengan angin global, kebijakan fiskal menghadapi 
tuntutan dari dalam negeri. Tahun 2026 bukan tahun yang lapang bagi 
anggaran negara. 

Ruang fiskal lebih sempit, sementara harapan masyarakat tetap tinggi: pembangunan berlanjut, perlindungan sosial terjaga, dan ekonomi terus bergerak.

Pasar membaca ini dengan tajam. Reli IHSG di awal tahun bukan sekadar 
respons atas laba perusahaan, tetapi juga cerminan harapan bahwa 
kebijakan fiskal tetap disiplin dan terarah. Bahwa negara tidak tergelincir 
pada janji-janji jangka pendek, melainkan menjaga keberlanjutan jangka panjang.

Ekonom Joseph Stiglitz pernah menulis bahwa pasar tidak pernah sepenuhnya mengoreksi dirinya sendiri. Ia membutuhkan aturan, arah, dan 
institusi yang dipercaya. Dalam konteks Indonesia, kepercayaan itu lahir 
ketika kebijakan fiskal dan moneter berjalan seiring, tidak saling 
meniadakan.

Antara optimisme dan kebijaksanaan

Awal 2026 memberi kita pelajaran yang tenang, bukan gemuruh. Pasar 
saham yang mencetak rekor memberi semangat. Rupiah yang melemah 
mengingatkan agar tidak lengah. Keduanya bukan bertentangan, melainkan saling melengkapi seperti harapan dan kehati-hatian yang harus berjalan bersama.

Optimisme adalah modal penting. Tetapi ia hanya akan bertahan jika 
dibingkai oleh kebijakan yang bijaksana dan konsisten. Tahun baru bukan hanya soal angka indeks atau kurs, melainkan tentang pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari oleh pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan 
masyarakat.

Di sanalah harapan menemukan bentuknya tidak dalam bentuk euforia 
sesaat, melainkan dalam keyakinan bahwa ekonomi Indonesia sedang belajar melangkah pelan lebih dewasa, terus diuji, tetapi tetap maju.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Lutfi Alkatiri

Lutfi Alkatiri merupakan pejabat profesional di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang saat ini mengemban amanat sebagai Deputi Direktur Inovasi Keuangan Digital. Dalam kapasitasnya, ia memiliki peran sentral dalam merumuskan regulasi dan mengawasi perkembangan teknologi finansial di Indonesia, termasuk tata kelola aset digital dan mekanisme regulatory sandbox untuk memastikan inovasi keuangan berjalan aman dan terpercaya.

Selain fokus pada kebijakan inovasi, Lutfi aktif sebagai narasumber strategis dalam berbagai program edukasi nasional, seperti inisiatif Digital Financial Literacy yang menyasar generasi muda di berbagai wilayah Indonesia. Ia berperan penting dalam mendorong kolaborasi lintas lembaga, termasuk keterlibatannya dalam penyelenggaraan kompetisi teknologi seperti BI-OJK Hackathon, guna memperkuat ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.