KABARBURSA.COM - Pagi di Davos pada hari kedua World Economic Forum (WEF) 2026 terasa sedikit lebih bersahabat. Matahari terbit di balik pegunungan Alpen, memantulkan cahaya di hamparan salju yang semalam membeku. Di sela udara dingin yang menusuk, para pemimpin dunia, pelaku pasar, dan pengusaha global bergerak cepat dari satu forum ke forum lain—mencari kejelasan arah di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Di balik percakapan santai di lorong-lorong Davos, satu kegelisahan terasa sama: ke mana arah ekonomi global bergerak, dan apa artinya bagi pasar?

Kapitalisme dan Kepercayaan Pasar
Hari kedua WEF memperlihatkan bahwa diskusi tentang ekonomi global tidak lagi berhenti pada angka pertumbuhan. Larry Fink, CEO BlackRock, secara terbuka menyampaikan bahwa kapitalisme global menghadapi tantangan legitimasi. Ketimpangan yang melebar dan kepercayaan publik yang menurun berpotensi menjadi sumber risiko ekonomi jangka menengah.

Bagi pasar, pesan ini penting. Ketika legitimasi sosial melemah, risiko kebijakan meningkat. Investor akan menuntut premi risiko lebih tinggi, dan volatilitas pasar cenderung naik. Isu kepercayaan, yang dulu dianggap non-finansial, kini menjadi bagian dari kalkulasi ekonomi.
Geopolitik Semakin Menentukan Arah Pasar
Diskusi hari kedua juga menegaskan bahwa batas antara ekonomi dan geopolitik semakin kabur. Isu tarif, kebijakan perdagangan, dan kontrol atas sumber daya strategis dibahas bukan sebagai kemungkinan, melainkan sebagai realitas yang sedang berlangsung.

Bagi pelaku pasar, ini berarti satu hal: ketidakpastian struktural. Fragmentasi global mendorong investor menjadi lebih selektif, terutama terhadap negara dan sektor yang rentan terhadap perubahan kebijakan geopolitik.
Sektor yang sangat terintegrasi dengan perdagangan global—manufaktur, logistik, energi, dan komoditas—menjadi yang paling sensitif terhadap dinamika ini.
AI: Antara Harapan Besar dan Koreksi Ekspektasi
Teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), tetap menjadi magnet diskusi di Davos. Namun, hari kedua menghadirkan nada yang lebih realistis. Dalam salah satu sesi utama, pimpinan global PwC menyoroti bahwa lebih dari separuh perusahaan belum mampu mengubah investasi AI menjadi peningkatan produktivitas yang nyata.

Bagi investor, ini adalah sinyal penting. AI tetap menjanjikan pertumbuhan jangka panjang, tetapi realisasinya akan bertahap. Valuasi sektor teknologi akan semakin bergantung pada eksekusi, bukan sekadar narasi inovasi.
Membaca Arah Kebijakan Indonesia
Dalam sejumlah percakapan informal dengan pelaku usaha lintas negara, perhatian terhadap Indonesia cukup terasa. Investor dan pengusaha ingin memahami arah kebijakan ekonomi Indonesia, stabilitas makro, serta konsistensi regulasi di tengah dunia yang terfragmentasi.

Bagi pasar, Indonesia berada pada posisi yang menarik. Di satu sisi, risiko global meningkat. Di sisi lain, negara dengan stabilitas relatif, sumber daya strategis, dan pasar domestik besar tetap memiliki daya tarik jangka panjang.
Kunci bagi Indonesia adalah menjaga kredibilitas kebijakan dan kepercayaan pasar—dua hal yang semakin mahal nilainya di tengah ketidakpastian global.
Pasar Global Sedang Bergerak
Hari kedua WEF Davos 2026 memperkuat pesan bahwa pasar global sedang bergerak memasuki fase penyesuaian baru. Fokus investor tidak lagi semata pada imbal hasil tinggi, tetapi pada ketahanan, stabilitas, dan manajemen risiko.

Di balik salju Davos dan percakapan global yang padat, pasar membaca satu pesan penting: dunia belum menemukan titik keseimbangan baru. Dan selama proses pencarian itu berlangsung, volatilitas akan menjadi bagian dari lanskap ekonomi global. (*)
