Artikel ini Dilaporkan langsung dari Shanghai oleh Eka Sastra, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) 2024-2029
KABARBURSA.COM - Selama lebih dari tiga dekade, ekonomi dunia digerakkan oleh keyakinan bahwa pasar bebas dan globalisasi akan secara otomatis menciptakan efisiensi dan pertumbuhan. Namun sejak pertengahan 2010‑an, fondasi tersebut mulai menunjukkan retakan serius.
Dunia Tak Melambat Tapi Berubah
Dunia hari ini bukan sedang mengalami perlambatan siklikal. Tepatnya, sedang menapak perubahan arah struktural.
Transformasi ini ditandai oleh pergeseran dari globalisasi berbasis pasar menuju geo‑ekonomi. Dalam hal ini, negara kembali tampil sebagai aktor utama yang secara aktif mengarahkan produksi, perdagangan, dan penguasaan teknologi.
Di pusat pergeseran ini berdiri China. Bukan hanya sebagai kekuatan ekonomi besar, tetapi sebagai arsitek dari konfigurasi ekonomi global yang baru.
Globalisasi Retak, Geo‑Ekonomi Bangkit
Data periode 2015–2024 menunjukkan gejala yang konsisten: pertumbuhan perdagangan dunia bergerak lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global. Fenomena ini menandai berakhirnya era hyper‑globalization, ketika perdagangan lintas negara menjadi motor utama ekspansi ekonomi dunia.
Seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, krisis pandemi, dan rivalitas teknologi, negara‑negara besar kembali memprioritaskan keamanan ekonomi, ketahanan rantai pasok, dan kemandirian industri strategis. Kebijakan ekonomi tidak lagi netral, tetapi menjadi instrumen kekuasaan dalam persaingan global.

Dari Pabrik Dunia ke Arsitek Sistem Ekonomi Baru
Transformasi ekonomi China dalam satu dekade terakhir menunjukkan arah yang sangat jelas. Sejak 2015, China secara konsisten meningkatkan belanja riset dan pengembangan (R&D), menjadikannya salah satu negara dengan investasi inovasi terbesar di dunia.
Peningkatan kapasitas inovasi ini berjalan seiring dengan perubahan struktur ekspor. China tidak lagi bertumpu pada manufaktur berbiaya rendah, melainkan semakin mendominasi ekspor produk berteknologi menengah dan tinggi. Negara tidak menarik diri dari mekanisme pasar, melainkan hadir untuk mengarahkan pasar menuju tujuan strategis nasional.


China dan Fragmentasi Ekonomi Global
Peran China dalam ekonomi global memunculkan respons yang berbeda di berbagai kawasan. Bagi banyak negara di Global South, China dipandang sebagai mitra pembangunan yang menyediakan modal, infrastruktur, dan akses pasar. Namun bagi negara‑negara maju,China semakin dipersepsikan sebagai rival sistemik, terutama dalam sektor teknologi dan industri strategis.
Akibatnya, ekonomi dunia tidak terbelah secara ideologis, tetapi terfragmentasi secara fungsional. Rantai nilai global direstrukturisasi, dan negara berkembang menghadapi dilema antara memanfaatkan peluang investasi dan menghindari ketergantungan jangka panjang.
Indonesia di Tengah Arus Besar China
Dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia menjadi salah satu mitra ekonomi utama China. Sejak pertengahan 2010‑an, China secara konsisten menempati posisi mitra dagang terbesar Indonesia. Namun struktur perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi defisit pada produk manufaktur bernilai tambah tinggi.
Kebijakan hilirisasi, khususnya di sektor mineral, membuka peluang penting bagi industrialisasi. Namun tanpa penguatan kapasitas industri domestik, peningkatan R&D, dan integrasi pelaku usaha nasional, hilirisasi berisiko menciptakan ketergantungan baru dalam bentuk enclave industry.


Bagi pelaku pasar, membaca arah kebijakan dan dinamika geopolitik kini sama pentingnya dengan membaca laporan keuangan. Di era geo-ekonomi, imbal hasil (return) semakin ditentukan oleh kemampuan negara dan korporasi mengelola relasi antara pasar, negara, dan kepentingan strategis jangka panjang.
Dalam konteks Indonesia, sektor hilirisasi mineral, energi terbarukan, serta manufaktur berbasis teknologi menawarkan peluang jangka menengah hingga panjang. Namun risikonya tidak lagi semata-mata bersifat pasar, melainkan juga terkait konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, dan kualitas tata kelola.
Bagi pasar dan investor, pergeseran menuju era geo-ekonomi menuntut pembacaan baru atas risiko dan peluang. Arus investasi ke sektor-sektor berbasis sumber daya dan industri strategis masih akan berlanjut, namun faktor kebijakan negara, stabilitas regulasi, dan arah industrial policy kini menjadi variabel penentu utama.
Menjadi Aktor, Bukan Arena
Implikasi Pasar dan Investor. Dalam era geo‑ekonomi, pertanyaan utama bagi Indonesia bukanlah apakah China membawa ancaman atau peluang. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia memiliki kapasitas negara, konsistensi kebijakan, dan visi industrialisasi jangka panjang untuk mengelola peluang tersebut.
Negara yang pasif akan menjadi arena persaingan kekuatan besar. Sebaliknya, negara yang mampu mengartikulasikan strategi industri dan teknologi yang jelas akan tampil sebagai aktor yang menentukan arah pembangunan ekonominya sendiri.
Catatan Sumber Data: World Bank (World Development Indicators), IMF (World Economic Outlook), WTO, UNCTAD, dan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.(*)