KABARBURSA.COM – Dari pabrik etilena hingga turbin angin, Barito Pacific Tbk (BRPT) tengah menjahit ulang wajah bisnisnya. Anak usaha bermunculan, dari Star Energy sampai Chandra Daya Investasi yang menandai ambisi baru di sektor hilir energi dan infrastruktur. Tak lagi sekadar pemain petrokimia, konglomerasi Grup Prajogo Pangestu itu merentangkan pengaruh ke industri logistik, air, dan listrik. Lantas, apakah transformasi ini cukup menjadikan BRPT sebagai pilar energi nasional berikutnya?
Barito Pacific tengah berbelok arah. Perusahaan yang dulu dikenal sebagai raksasa petrokimia ini perlahan menanggalkan label lamanya. Kini, konglomerasi milik Prajogo Pangestu itu menjelma menjadi kelompok usaha yang menjangkau lebih luas: dari hilirisasi kimia dan energi, merambah ke logistik, air, dan kawasan industri. Transformasi ini tidak datang tiba-tiba. Ia bertumbuh dari fondasi yang dibangun selama dua dekade terakhir.
Ada tiga fase yang membentuk wajah baru Barito. Pertama, rekam ekspansi masif dari 2005 hingga 2020, ketika perusahaan memperkuat lini produksi petrokimia dan mengakuisisi unit-unit strategis seperti Star Energy. Kedua, peta proyek anyar yang digarap agresif sejak 2020—mulai dari pembangunan pabrik soda kostik dan EDC di Cilegon, akuisisi aset Shell di Singapura, hingga rencana masuk ke bisnis kilang minyak.
Ketiga, pembangunan penyangga infrastruktur: kawasan industri Patimban, jaringan air dan pelabuhan, hingga kelahiran anak usaha seperti CDIA yang siap menjadi tulang punggung logistik energi dan industri kimia Barito ke depan.
Langkah-langkah ini bukan sekadar deretan ekspansi. Ia menunjukkan strategi terukur untuk menguasai rantai nilai dari hulu hingga hilir. Data publik expose, laporan keuangan, hingga prospektus anak usaha memperlihatkan skala dan arah manuver Barito yang tak lagi berpijak semata pada bahan baku plastik dan kimia. Apakah ini akan cukup menjadikan Barito Pacific sebagai poros baru industri energi nasional? Sejumlah fakta bisa menjawabnya.

Transformasi BRPT tak Lagi Sekadar Petrokimia
Dalam enam tahun terakhir, BRPT merancang ulang cetak biru bisnisnya. Tak lagi bertumpu pada lini petrokimia semata, perusahaan ini mulai membentangkan sayap menuju hilirisasi energi dan logistik strategis. Sejumlah proyek bernilai jumbo disiapkan, mulai dari akuisisi kilang minyak, pendirian fasilitas produksi kimia dasar, hingga diversifikasi ke energi baru dan terbarukan.
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Barito untuk membangun konglomerasi industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dari Cilegon hingga Jurong, dari geothermal hingga kilang, semuanya dirancang sebagai penopang jangka panjang untuk rantai pasok industri nasional.
Rincian proyek dan jadwal pelaksanaannya tersaji dalam tabel berikut.

Menenun Kawasan, Utilitas, dan Energi
BRPT tengah mengembangkan kawasan industri seluas 600 hektare di Patimban, Subang, Jawa Barat. Kawasan ini dirancang untuk terhubung langsung ke Pelabuhan Patimban—terminal ekspor otomotif dan peti kemas yang menjadi proyek strategis nasional. Hingga akhir 2024, proses penimbunan lahan (landfilling) telah mencakup sekitar 40 hektare, sementara gerbang utama kawasan ditargetkan rampung pada kuartal ketiga 2025.
Untuk mendukung infrastruktur dasar, Barito melalui anak usahanya, PT Griya Idola, menjalin kerja sama dengan PT Krakatau Tirta Industri. Kolaborasi ini meliputi pembangunan sistem penyediaan air bersih dan instalasi pengolahan air limbah dalam kawasan industri tersebut. Penandatanganan kerja sama dilakukan pada Desember 2024, sebagai bagian dari upaya percepatan penyediaan utilitas sebelum tenant industri mulai beroperasi.
Sekitar 120 kilometer ke barat, di Cikupa, Tangerang, berdiri Griya Idola Industrial Park, kawasan industri seluas kurang lebih 110 ha yang menjadi kantong logistik Grup Barito. Di lokasi berbeda, yakni di Slipi, Jakarta Barat, berdiri dua menara kantor hijau bersertifikasi Greenship: Wisma Barito Pacific I & II, sebagai pusat aktivitas operasional grup.

Rangkaian infrastruktur ini diikat oleh anak usaha baru bernama Chandra Daya Investasi (CDIA). Perusahaan utilitas ini akan melantai di Bursa Efek pada 9 Juli 2025 yang menargetkan dana Rp2,37 triliun. Uang segar itu disiapkan untuk membangun PLTGU 120 megawatt, dermaga 35 ribu ton DWT, 72 tangki kimia berkapasitas 130 ribu ton, dan instalasi air berdebit 1.800 liter per detik. EGCO Group—raksasa listrik asal Thailand—sudah mengantongi 30 persen saham, menandakan proyek ini bukan sekadar wacana.
Ritme pembangunan yang saling bertaut menunjukkan pola bahwa Barito tak lagi sekadar pabrik plastik dan kimia. Ia sedang merancang ekosistem industri dari pasokan listrik, air, dermaga, hingga lahan manufaktur—yang menopang lonjakan kapasitas petrokimia (target 9,57 juta ton per tahun pada 2026) serta ekspansi energi terbarukan lewat Star Energy dan Barito Wind. Strategi “tulang punggung” ini diyakini bisa memangkas biaya logistik, meredam risiko pasokan, sekaligus menggaet tenant otomotif dan baterai kendaraan listrik yang mulai melirik Jawa Barat.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.