Logo
>

Menakar Isu Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan dan Peluang Investasinya

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Menakar Isu Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan dan Peluang Investasinya

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Mobil listrik sering disebut-sebut sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon dan memerangi perubahan iklim. Namun, muncul pertanyaan: Apakah klaim ramah lingkungan ini benar adanya, ataukah hanya sekadar greenwashing yang gagal mencapai tujuan utamanya?

    Serangkaian kritik terhadap mobil listrik mencuat, mulai dari isu kebakaran mobil, proses penambangan baterai, hingga kekhawatiran soal jangkauan dan biaya. Artikel ini mencoba membedah salah satu klaim utama: Apakah mobil listrik benar-benar menghasilkan emisi karbon lebih sedikit dibandingkan mobil berbahan bakar bensin atau diesel?

    Kritik Terhadap Mobil Listrik

    Di Amerika Serikat, Senator Florida Rick Scott mengklaim ada “banyak bukti” yang menunjukkan mobil listrik tidak sebersih seperti yang diyakini banyak orang. Ia bersama koleganya dari Partai Republik bahkan mengajukan undang-undang bernama DIRTY CAR EV Act untuk menganalisis jejak karbon mobil listrik.

    Di Inggris, surat kabar Daily Mail melaporkan bahwa manfaat lingkungan mobil listrik mungkin tidak akan pernah terasa karena banyak mobil listrik yang tidak mencapai target jarak tempuhnya sebelum diganti dengan model baru. Hal ini menyebabkan mobil-mobil bekas menumpuk tanpa pemanfaatan.

    Kritik terhadap mobil listrik tidak hanya datang dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, tetapi juga Indonesia. Ekspansi besar-besaran hilirisasi nikel di Indonesia–yang merupakan bahan utama baterai mobil listrik–memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya emisi karbon dioksida (CO2).

    Menurut laporan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) berjudul Indonesia’s Nickel Companies: The Need for Renewable Energy Amid Increasing Production, produksi nikel yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara menjadi penyumbang utama lonjakan emisi.

    Laporan tersebut memperkirakan rencana kenaikan produksi empat perusahaan nikel besar di Indonesia—PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, PT Merdeka Battery Materials (MBMA) Tbk, PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO)—akan meningkatkan emisi karbon hingga mencapai 38,5 juta ton pada 2028. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah mobil listrik benar-benar dapat disebut “hijau” jika rantai pasokannya masih bergantung pada sumber energi kotor.

    Aktor Rowan Atkinson, dalam artikelnya di The Guardian, juga merasa “tertipu” dengan klaim karbon mobil listrik. Ia mengutip penelitian Volvo yang menunjukkan emisi gas rumah kaca selama proses produksi mobil listrik hampir 70 persen lebih tinggi dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

    “Rasanya seperti pilihan perangkat keras yang aneh untuk memimpin perjuangan melawan krisis iklim,” tulis Atkinson.

    Menurut Dewan Internasional Transportasi Bersih (ICCT), kendaraan listrik di Eropa dapat melunasi utang karbon mereka setelah menempuh jarak sekitar 18.000 kilometer (11.000 mil). Hal ini menunjukkan meskipun emisi karbon dalam produksi kendaraan listrik lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional, emisi tersebut dapat diimbangi dalam waktu relatif singkat melalui penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

    Selain itu, keuntungan lingkungan dari kendaraan listrik akan terus meningkat seiring dengan peralihan jaringan listrik ke sumber energi yang lebih bersih. Dilansir dari Carbonbrief di Jakarta, Kamis 19 Desember 2024, dalam analisis siklus hidup yang dilakukan ICCT pada 2021, ditemukan kendaraan listrik yang dibeli di Eropa mampu memangkas emisi hingga 66-69 persen dibandingkan mobil berbahan bakar fosil. Angka ini diproyeksikan akan meningkat menjadi 74-77 persen pada 2030, sejalan dengan semakin rendahnya emisi karbon dalam campuran energi listrik di Eropa.

    Sementara itu, analisis terbaru dari Carbon Brief mengungkapkan mobil Tesla Model Y–kendaraan listrik terlaris di dunia–akan melunasi utang karbonnya setelah menempuh jarak sekitar 21.000 kilometer (13.000 mil) di Inggris. Data ini memperkuat pandangan bahwa kendaraan listrik, meskipun memiliki emisi tinggi di awal siklus hidupnya, tetap menjadi solusi yang jauh lebih ramah lingkungan dalam jangka panjang dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.

    Bagi pengemudi di Inggris rata-rata, upaya melunasi utang karbon Ini akan memakan waktu kurang dari dua tahun.

    [caption id="attachment_107628" align="alignnone" width="1179"] Tesla Model Y melunasi utang karbonnya setelah menempuh jarak 13.000 mil (21.000 km) di Inggris. Grafik ini menunjukkan emisi karbon siklus hidup kendaraan listrik dibandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar fosil. Meskipun emisi awal dari produksi baterai cukup tinggi, kendaraan listrik dengan cepat mengimbangi emisi tersebut dan secara drastis mengurangi emisi karbon sepanjang siklus hidupnya.[/caption]

    Sayangnya, penelitian mengenai utang karbon kendaraan listrik di Indonesia belum spesifik dilakukan. Namun, beberapa studi telah membandingkan emisi karbon antara mobil listrik dan kendaraan konvensional di Indonesia. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2017, mobil listrik murni menghasilkan 0 gram per km emisi CO2 sementara mobil konvensional berbahan bakar bensin menyumbang 125 gram per km emisi CO2.

    Selain itu, Kementerian Perindustrian menyatakan total emisi yang dihasilkan selama siklus hidup kendaraan listrik lebih rendah, yaitu 39 ton CO2 ekuivalen (tCO2e), dibandingkan dengan kendaraan konvensional yang mencapai 55 tCO2e.

    Sementara itu, ICCT melaporkan kendaraan listrik di Indonesia dapat mengurangi emisi hingga 85 persen jika pengisian dayanya menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.

    Meskipun data spesifik mengenai utang karbon dan waktu pelunasannya di Indonesia belum tersedia, studi-studi di atas menunjukkan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia berpotensi signifikan dalam mengurangi emisi karbon, terutama jika didukung oleh sumber energi yang lebih bersih.

    Apa Kata Ilmu Pengetahuan?

    Untuk mengevaluasi jejak karbon sebuah produk, penting untuk mempertimbangkan siklus hidupnya secara keseluruhan, mulai dari proses produksi hingga daur ulang. Banyak kritik terhadap mobil listrik berfokus pada emisi karbon selama proses produksinya–yang memang membutuhkan energi besar–terutama untuk memproduksi baterai.

    Menurut penelitian Argonne National Laboratory, produksi mobil listrik menghasilkan sekitar 60 persen lebih banyak emisi karbon dibandingkan mobil berbahan bakar fosil. Hal ini menciptakan utang karbon awal bagi mobil listrik.

    Namun, analis Eoin Devane dari Komite Perubahan Iklim Inggris mengatakan utang karbon ini biasanya terbayar dalam waktu sekitar dua tahun penggunaan kendaraan.

    Sebagian besar jejak karbon mobil berbahan bakar fosil berasal dari penggunaannya, ketika knalpot terus-menerus mengeluarkan karbon dioksida ke atmosfer. Sebaliknya, mobil listrik menggunakan energi lebih efisien dan dapat diisi ulang dengan sumber energi tanpa emisi.

    Transport & Environment (T&E), sebuah kelompok advokasi, menghitung bahwa sebuah mobil bensin baru menghasilkan sekitar 27 ton karbon jika digunakan sejauh 100.000 km dan 49 ton karbon jika menempuh 200.000 km. Mobil listrik, meskipun memiliki “utang karbon” awal, tetap lebih ramah lingkungan dalam jangka panjang.

    Lucien Mathieu dari T&E mengatakan bahkan dalam skenario terburuk—di mana mobil listrik diproduksi dan digunakan dengan listrik berbasis batu bara—mobil listrik tetap lebih ramah lingkungan setelah mencapai 70.000 km atau sekitar enam tahun penggunaan.

    Masa Depan Mobil Listrik

    Keuntungan mobil listrik akan terus meningkat seiring transisi energi global dari gas dan minyak ke tenaga angin dan matahari. Colin Walker dari Energy and Climate Intelligence Unit menegaskan, “Bahkan dengan jaringan listrik yang kotor, mobil listrik tetap lebih baik untuk lingkungan. Dan manfaatnya akan semakin besar seiring jaringan listrik yang semakin bersih.”

    Baterai juga masih berada di tahap awal perkembangan, yang berarti teknologi ini berpotensi menjadi semakin efisien. Auke Hoekstra dari Eindhoven University of Technology menyebutkan baterai adalah solusi jangka panjang yang baik untuk mencapai emisi nol bersih. “Mesin bensin pada dasarnya tidak memiliki masa depan,” katanya.

    Baterai bukan satu-satunya cara mencapai emisi nol bersih. Teknologi seperti bahan bakar sintetis (e-fuels) atau hidrogen juga dapat digunakan untuk menggantikan bensin. Namun, efisiensi energi dalam metode ini jauh lebih rendah dibandingkan langsung menggunakan listrik.

    Rowan Atkinson juga menyoroti bahwa mengganti mobil tua yang jarang digunakan dengan mobil listrik baru mungkin tidak efisien karena adanya “utang karbon”. Menurut Devane, ada baiknya menunggu sampai benar-benar membutuhkan kendaraan baru sebelum beralih ke mobil listrik. Selain itu, jika memungkinkan, mengandalkan transportasi umum tetap menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.

    Konsensus ilmiah sangat jelas: dalam perbandingan langsung, mobil listrik lebih bersih daripada mobil berbahan bakar bensin atau diesel. Meskipun produksi dan penggunaan mobil listrik masih menghasilkan emisi, tingkatnya jauh lebih rendah dibandingkan mesin berbahan bakar fosil.

    Manfaat ini akan terus meningkat seiring negara-negara beralih ke sumber energi terbarukan. Untuk saat ini, memasang baterai di mobil tampaknya menjadi satu-satunya cara praktis untuk mengarahkan puluhan juta kendaraan ringan yang terjual setiap tahun menuju emisi nol bersih.

    Peluang dan Tantangan Investasi di Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia

    Transisi global menuju EV telah menciptakan peluang signifikan bagi Indonesia, terutama mengingat kekayaan sumber daya nikel yang dimilikinya. Sebagai komponen utama baterai EV, nikel menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai pasokan global. Namun, seiring dengan peluang tersebut, terdapat tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berdampak positif terhadap pasar modal Indonesia.

    Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, dengan total sumber daya mencapai 17,7 miliar ton bijih dan cadangan sebesar 5,2 miliar ton bijih. Kekayaan ini telah menarik minat investor global untuk berinvestasi dalam pengembangan ekosistem baterai EV di Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengungkapkan bahwa potensi investasi dalam ekosistem baterai berbasis nikel dapat mencapai USD20 hingga USD25 miliar (sekitar Rp312 triliun hingga Rp390 triliun dengan kurs Rp16.000) dalam lima tahun ke depan.

    Beberapa perusahaan internasional telah memulai investasi besar di Indonesia. Misalnya, CNGR Advanced Material Co dari Tiongkok berencana membangun fasilitas produksi terintegrasi senilai USD10 miliar (Rp160 triliun) di Indonesia dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Selain itu, Hyundai dan LG Energy Solution telah meresmikan pabrik sel baterai pertama di Karawang, dengan investasi sebesar USD1,1 miliar (Rp17,6 triliun) sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem EV di Indonesia.

    Dampak terhadap Pasar Modal Indonesia

    Peningkatan investasi di sektor nikel dan baterai berdampak positif terhadap pasar modal Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam industri ini, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), berpotensi mengalami peningkatan minat dari investor. Hal ini tercermin dari kenaikan harga saham dan volume perdagangan yang signifikan.

    Selain itu, menurut data Kementerian Investasi, realisasi investasi di sektor baterai kendaraan listrik mencapai Rp9,22 triliun selama triwulan III 2024. Kemudian investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp91,51 triliun, atau sekitar 21,2 persen dari total investasi yang tercatat selama periode tersebut.

    Namun, meski investasi di ekosistem nikel tercatat positif, hal itu yang berbanding lurus dengan saham-saham sejumlah emiten nikel. Pada semester II tahun 2024, sejumlah saham emiten nikel di Indonesia mengalami penurunan signifikan. Beberapa perusahaan, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat penurunan harga saham yang mencolok.

    Misalnya, saham INCO turun dari Rp4.880 per saham pada awal Juni menjadi Rp3.600 per saham pada Kamis, 19 Desember 2024 atau turun sekitar 27,57 persen. Demikian pula saham NCKL dan MBMA juga mengalami penurunan serupa. Masing-masing turun 24,38 persen dan 32,54 persen pada periode yang sama.

    [caption id="attachment_107629" align="alignnone" width="1979"] Perbandingan penurunan harga saham emiten nikel.[/caption]

    MDKA lebih gila lagi, sahamnya longsor 40,19 persen dalam rentang Juni-Desember 2024. Emiten yang 7,68 persen sahamnya dimiliki Garibaldi Thohir ini diperkirakan mengalami kerugian Rp1,35 triliun untuk tahun 2024, naik signifikan dari kerugian Rp319 miliar pada tahun sebelumnya. Pengecualian untuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), saham emiten yang juga memproduksi emas ini mengalami pertumbuhan tipis sebesar 0,34 persen.

    Beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan harga saham emiten nikel di Indonesia antara lain:

    1. Kelebihan Pasokan Global: Produksi nikel yang berlebihan, terutama dari Indonesia dan China, menyebabkan surplus pasokan di pasar global. Hal ini menekan harga nikel dunia, yang berdampak negatif pada pendapatan dan profitabilitas perusahaan tambang nikel.
    2. Penurunan Permintaan dari China: Sebagai konsumen nikel terbesar dunia, penurunan permintaan dari China akibat perlambatan ekonominya berkontribusi pada turunnya harga nikel. Kondisi ini mempengaruhi kinerja keuangan emiten nikel yang bergantung pada ekspor ke negara tersebut.
    3. Tekanan Harga Komoditas: Harga nikel global mengalami penurunan signifikan sepanjang 2024. Per September 2024, harga nikel turun sekitar 4,76 persen. Sepanjang 2023, harga nikel bahkan turun 44,74 persen, penurunan paling tajam sejak 2008. Penurunan harga ini menggerus margin keuntungan perusahaan tambang nikel.
    4. Kebijakan Pemerintah Indonesia: Pembatasan izin operasi dan penjualan nikel oleh pemerintah Indonesia menyebabkan beberapa perusahaan mengurangi target produksi mereka. Kebijakan ini menciptakan ketidakpastian di kalangan investor yang tercermin pada penurunan harga saham.

    Meskipun ada tantangan saat ini, prospek jangka panjang industri nikel tetap positif, terutama dengan meningkatnya permintaan untuk baterai kendaraan listrik. Namun, perusahaan perlu menyesuaikan strategi mereka untuk menghadapi fluktuasi harga dan dinamika pasar global.

    Secara keseluruhan, penurunan harga saham emiten nikel di Indonesia pada semester II 2024 disebabkan oleh kombinasi faktor global dan domestik. Investor perlu memantau perkembangan pasar dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi industri ini di masa mendatang.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).