Logo
>

Menakar Kesiapan EBT di Kepulauan Maluku, Magnet Baru Ekonomi Timur

Pemerintah dorong energi terbarukan untuk menopang pusat pertumbuhan ekonomi baru di Maluku dan Maluku Utara, dengan PLTS jadi andalan wilayah kepulauan.

Ditulis oleh Gusti Ridani
Menakar Kesiapan EBT di Kepulauan Maluku, Magnet Baru Ekonomi Timur
PLTS Pulau Tiga yang direvitalisasi melalui program NZMates berlokasi di Dusun Nusa Ela, Desa Ureng, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Foto: Dok. Humas PLN.

KABARBURSA.COM – Pemerintah mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk memperluas akses listrik yang andal dan merata di wilayah kepulauan, khususnya Maluku dan Maluku Utara, seiring tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di kawasan timur Indonesia. Langkah ini dinilai penting agar pembangunan industri dan aktivitas ekonomi tidak terhambat oleh keterbatasan pasokan energi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan kesiapan listrik harus menjadi bagian dari perencanaan pertumbuhan ekonomi di daerah. Menurutnya, kawasan seperti Weda Bay di Halmahera hingga Saumlaki berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru, sehingga dukungan energi harus disiapkan sejak awal.

“Adanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru diperlukan persiapan ketersediaan energi khususnya di wilayah-wilayah yang memungkinkan tumbuhnya industri-industri baru seperti di Teluk Weda, Halmahera dan di Saumlaki kelak jika sudah beroperasi,” ujar Yuliot saat berkunjung ke Kantor PT PLN (Persero) UP3B Maluku di Ambon, dikutip Rabu 29 April 2026.

Karena tekanan, kehadiran listrik di wilayah-wilayah tersebut tidak dapat memperlambat laju pembangunan ekonominya.

Menurut dia, pasokan energi harus tersedia bersamaan dengan tumbuhnya investasi dan industri agar manfaat pembangunan benar-benar dapat dirasakan masyarakat.

“Dengan akan dibangunnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Maluku dan Maluku Utara, kami berharap jangan sampai terjadi kegiatan ekonomi sudah terbangun namun pasokan listriknya belum tersedia sehingga terjadi penundaan,” katanya.

Selain mempertahankan kawasan industri baru, pemerintah juga memberikan perhatian besar pada pemerataan listrik hingga desa-desa, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan.

Dalam konteks ini, energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dilengkapi sistem penyimpanan energi dinilai menjadi solusi yang paling relevan.

Menurut Yuliot, penggunaan PLTS dengan penyimpanan energi dapat membantu menghadirkan listrik di wilayah yang sulit dijangkau jaringan konvensional.

Skema ini diterapkan di daerah kepulauan yang memiliki tantangan geografis dan sebaran penduduk yang tidak merata.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) tidak boleh terus tertinggal dalam akses energi, terutama setelah lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka.

“Wilayah 3T adalah benteng kita bersama. Ketika listrik hadir, di situ ada pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang bergerak, dan harapan yang tumbuh,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, mengatakan kondisi kelistrikan di wilayah tersebut terus mengalami perbaikan.

Meski tantangan geografis sebagai daerah kepulauan masih sangat besar, PLN disebut berkomitmen menjaga kerahasiaan pasokan sekaligus memperluas jangkauan layanan.

“Tantangan geografis wilayah kepulauan tetap menjadi perhatian kami dalam memastikan listrik yang andal dan merata, dan ke depan kami berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam memudahkan kegiatan energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyediaan listrik yang andal dan berkelanjutan,” ujar Noer.

Saat ini, sistem kelistrikan di Maluku dan Maluku Utara ditopang oleh 168 sistem yang melayani sekitar 889.973 pelanggan.

Dari sisi kapasitas, wilayah ini memiliki daya mampu sebesar 457,15 megawatt (MW) dengan beban puncak sekitar 292,82 MW. Artinya, secara umum masih tersedia ruang cadangan untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik ke depan.

Namun, pemerintah melihat tantangan ke depan bukan hanya soal kapasitas, melainkan juga soal pemerataan akses dan ketepatan waktu pasokan listrik seiring dengan percepatan pembangunan kawasan ekonomi baru.

Oleh karena itu, dorongan terhadap energi terbarukan di wilayah kepulauan diposisikan bukan sekadar pilihan teknologi, tetapi bagian dari strategi pembangunan yang lebih inklusif.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang