KABARBURSA.COM — Pasar Battery Energy Storage Systems atau BESS global lagi ngebut. Diam-diam tapi pasti, teknologi penyimpanan listrik ini mulai jadi tulang punggung baru transisi energi dunia. Dorongannya datang dari tiga arah sekaligus. Energi terbarukan makin masif, jaringan listrik butuh stabilitas, dan kendaraan listrik terus bertambah di jalanan.
BESS bekerja dengan logika sederhana tapi krusial. Saat pasokan listrik lagi melimpah dan kebutuhan rendah, energi disimpan. Begitu permintaan naik dan suplai keteteran, listrik dilepas kembali. Skema ini bikin BESS makin relevan, bukan cuma buat perusahaan listrik, tapi juga sektor komersial sampai rumah tangga.
Dorongan permintaan ini kian terasa ketika kendaraan listrik ikut nimbrung. Dilansir dari Carbon Credits, Selasa, 20 Januari 2026, analisis terbaru J.P. Morgan menunjukkan pengiriman baterai penyimpanan energi stasioner bakal melonjak 50 persen pada 2025, lalu naik lagi 43 persen pada 2026. Lonjakan ini bukan tanpa efek samping. Pasokan litium global diperkirakan bakal masuk fase defisit.

Analis memperkirakan, porsi BESS terhadap permintaan litium global akan menyentuh sekitar 30 persen pada 2026 dan naik ke 36 persen pada 2030. Secara total, permintaan litium dunia dalam satuan lithium-carbonate-equivalent diproyeksi menembus kisaran 2,8 juta ton pada 2030. Angka ini mencerminkan betapa rakusnya ekosistem energi baru terhadap bahan baku baterai.
Bukan cuma sektor penyimpanan energi yang bikin pasar memanas. Kendaraan listrik juga ikut menekan pasokan. J.P. Morgan bahkan menaikkan proyeksi permintaan litium dari sektor EV sebesar 3 hingga 5 persen untuk periode 2025 sampai 2030. Sinyalnya jelas. Adopsi kendaraan listrik global berjalan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Tekanan permintaan ini makin diperkuat oleh kebijakan pemerintah di banyak negara. Target bauran energi terbarukan dan jaringan listrik yang lebih bersih membuka peluang besar bagi teknologi penyimpanan energi. Perusahaan listrik mulai mengandalkan BESS untuk mengelola beban puncak, mengintegrasikan energi terbarukan yang fluktuatif, sampai menyediakan layanan teknis seperti pengaturan frekuensi dan kemampuan black-start saat sistem mati total.
Masalahnya, suplai litium tidak semudah menaikkan saklar. Di sisi hulu, banyak produsen masih menahan diri untuk menghidupkan kembali kapasitas produksi yang sempat menganggur. Alasannya klasik tapi masuk akal. Mereka menunggu harga naik ke level yang benar-benar menguntungkan.
Menurut catatan J.P. Morgan, harga spodumene di kisaran 1.200 hingga 1.500 dolar AS per ton atau sekitar Rp20,16 juta sampai Rp25,2 juta per ton dibutuhkan agar pasokan baru layak masuk pasar. Harga spot memang sudah naik dari sekitar 800 dolar AS per ton atau Rp13,44 juta menjadi mendekati 950 dolar AS per ton atau sekitar Rp15,96 juta. Kenaikan ini jadi sinyal awal bahwa pasar mulai mengetat.

Proyeksi harga litium pun ikut disesuaikan. Untuk periode 2026 hingga 2027, harga diperkirakan berada di rentang 1.100 sampai 1.200 dolar AS per ton atau sekitar Rp18,48 juta hingga Rp20,16 juta. Dalam jangka panjang, proyeksi harga dinaikkan ke kisaran 1.300 dolar AS per ton atau sekitar Rp21,84 juta.
Level harga seperti ini jelas memperbaiki keekonomian proyek litium, terutama bagi perusahaan yang punya keterkaitan langsung dengan pasar BESS. Harga tinggi juga membuka pintu bagi pemain baru dan mendorong ekspansi proyek yang sudah ada.
Di sisi pasar, BESS sendiri sedang berubah cepat. Penyimpanan skala jaringan listrik tumbuh pesat untuk membantu utilitas mengelola produksi energi terbarukan yang tidak stabil. Penyimpanan di belakang meteran, baik untuk sektor komersial, industri, maupun rumah tangga, ikut naik seiring turunnya biaya baterai. Teknologi baterai lithium-ion juga terus membaik, dengan umur pakai lebih panjang, efisiensi lebih tinggi, dan aspek keselamatan yang makin diperhatikan.
Dukungan kebijakan pemerintah di berbagai negara ikut mempercepat adopsi. Insentif dan regulasi yang ramah penyimpanan energi bermunculan. Namun di balik itu, risiko rantai pasok tetap jadi batu sandungan. Litium, nikel, kobalt, dan mineral kritis lain masih menjadi bottleneck. Mengamankan suplai yang stabil menjadi tantangan utama industri ini.
J.P. Morgan menilai kombinasi permintaan tinggi dan suplai terbatas menciptakan defisit struktural di pasar litium. Kondisi ini mendorong harga naik dan membuat perusahaan pemasok litium untuk aplikasi BESS terlihat semakin menarik di mata investor.
Dalam lanskap inilah Surge Battery Metals mulai mencuri perhatian. Perusahaan ini tengah mengembangkan sumber daya litium lempung dengan kadar tertinggi yang pernah dilaporkan di Amerika Serikat. Proyek Nevada North Lithium Project menjadi contoh pasokan litium domestik berkualitas tinggi yang dicari oleh produsen baterai dan pengembang penyimpanan energi skala besar. Narasinya sederhana tapi kuat. Pasokan dalam negeri yang bisa memperkuat rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Setelah pasar litium melewati fase lesu yang cukup panjang, proyek-proyek berkualitas mulai menonjol. Surge Battery Metals berada di posisi yang relatif siap karena telah mengantongi persetujuan BLM untuk rencana eksplorasi, memiliki sumber daya litium lempung berkadar tertinggi yang dilaporkan di AS, serta kas yang cukup kuat untuk mendorong pengembangan proyek Nevada North.

Proyek ini menyimpan sumber daya terindikasi sebesar 11,24 juta ton lithium carbonate equivalent dengan kadar 3.010 ppm litium. Angka tersebut menunjukkan skala sekaligus kualitas aset yang tidak bisa dianggap remeh. Lokasinya yang dangkal dan berada di Nevada, wilayah yang dikenal ramah terhadap aktivitas pertambangan, menjadi nilai tambah tersendiri.
Dengan kombinasi tersebut, Surge termasuk sedikit penjelajah litium yang punya peluang nyata melangkah lebih jauh menuju tahap produksi ketika kondisi pasar membaik. Permintaan BESS yang terus meningkat menjadi angin tambahan di belakang layar, memperkuat potensi keunggulan perusahaan ini di tengah peta persaingan litium global.

Prospek Jangka Panjang BESS
Pasar penyimpanan energi berbasis baterai masih akan terus melaju dalam satu dekade ke depan. Arahnya makin jelas, dan jalurnya kian padat. Proyeksi terbaru menunjukkan, baterai penyimpanan energi stasioner bakal menyerap porsi besar permintaan litium global. Angkanya tidak main-main. Pada 2030, kontribusinya diperkirakan berada di kisaran 30 hingga 36 persen dari total permintaan dunia.
Mesin utama pertumbuhan ini datang dari proyek skala utilitas. Pembangkit besar, jaringan listrik nasional, dan sistem penyangga energi jadi lokomotifnya. Namun jangan salah, instalasi komersial dan rumah tangga juga ikut menyumbang dorongan. Pelan tapi pasti, baterai tak lagi cuma milik industri besar. Ia masuk ke gedung, pabrik, bahkan halaman rumah.
Di sisi harga, arah angin masih berpihak pada pemasok. Harga spot litium saat ini berada di sekitar 950 dolar AS per ton atau setara Rp15,96 juta. Untuk jangka panjang, proyeksi harga mengarah ke 1.300 dolar AS per ton atau sekitar Rp21,84 juta. Kondisi ini memberi ruang napas bagi produsen yang mampu menambang dan memasok litium secara efisien. Di titik inilah nilai besar bisa dikunci.
Para analis industri juga mencatat sejumlah tren baru yang mulai membentuk wajah pasar. Teknologi smart-grid kian terintegrasi, dengan kecerdasan buatan dan perangkat lunak dipakai untuk mengatur penyimpanan dan distribusi energi agar lebih presisi.
Solusi penyimpanan hibrida juga makin sering muncul, menggabungkan baterai dengan sistem lain seperti pembangkit hidro pompa atau penyimpanan termal. Di saat yang sama, isu daur ulang ikut naik panggung. Seiring meluasnya adopsi BESS, litium dan logam kritis lain dari baterai bekas akan menjadi sumber pasokan sekunder yang makin penting.
Gabungan tren ini mendorong jaringan listrik global menjadi lebih lentur, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan. Energi tidak lagi sekadar diproduksi dan dipakai, tapi diatur dengan kecermatan tinggi.
Di tengah lanskap seperti itu, langkah strategis perusahaan jadi penentu. Surge Battery Metals, misalnya, berada di posisi yang relatif sejalan dengan arah industri. Fokusnya pada aset litium berkualitas tinggi cocok dengan lonjakan permintaan dari sektor BESS. Tantangannya tinggal soal eksekusi.
Beberapa pertimbangan strategis mengemuka. Proyek harus didorong dengan efisien agar tidak tertinggal momentum pasar. Kemitraan dengan produsen baterai dan perusahaan utilitas perlu dibangun untuk mengamankan kontrak penyerapan produksi. Disiplin operasional dan efisiensi biaya juga tak bisa ditawar, karena di sanalah margin ditentukan.
Saat ini, Surge masih memacu eksplorasi litium di proyek Nevada North Lithium Project dengan target mendefinisikan sumber daya yang cukup untuk menopang produksi di masa depan. Uji metalurginya menunjukkan hasil yang menjanjikan, termasuk kemampuan menghasilkan litium karbonat dengan kemurnian 99 persen. Meski begitu, perusahaan masih melangkah menuju tahap studi kelayakan penuh. Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, Surge berpotensi menjadi pemasok penting bagi pasar BESS di masa depan, meski untuk saat ini pasokan global masih relatif terbatas.
Gambaran besarnya, masa depan penyimpanan energi terlihat cerah. Battery Energy Storage Systems sudah keluar dari status pasar ceruk. Lonjakan energi terbarukan, pertumbuhan kendaraan listrik, dan pembaruan jaringan listrik mendorong permintaan litium serta material baterai lain semakin tinggi.
Prospeknya pun cenderung positif. Pertumbuhan permintaan, kemajuan teknologi, dan dukungan kebijakan saling menguatkan. Di sisi lain, keterbatasan pasokan dan harga yang lebih tinggi justru membuka peluang bagi perusahaan yang mampu mengirimkan litium secara konsisten dan efisien.
Menjelang 2030, BESS berpeluang menyerap lebih dari sepertiga permintaan litium global. Perusahaan-perusahaan seperti Surge Battery Metals berada di jantung perubahan ini. Mereka ikut membangun sistem kelistrikan yang lebih bersih, lebih kuat, dan lebih efisien.
Pada akhirnya, bukan cuma siapa yang punya sumber daya yang akan menang. Eksekusi, timing, dan kemitraan akan menentukan siapa yang benar-benar menikmati hasil. Di pasar penyimpanan energi yang kian ramai, perusahaan yang fokus pada kualitas aset, pengembangan cerdas, dan selaras dengan arah pasar punya peluang paling besar untuk bersinar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.