Logo
>

Bank Dunia: Negara-negara Termiskin di Dunia Makin Terjebak Utang

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bank Dunia: Negara-negara Termiskin di Dunia Makin Terjebak Utang

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Menurut Bank Dunia, 26 negara termiskin di dunia yang menjadi tempat tinggal bagi 40 persen populasi termiskin kini memiliki utang lebih besar daripada sebelumnya sejak 2006. Negara-negara ini juga semakin rentan terhadap bencana alam dan guncangan lainnya. Dalam laporan bertajuk Fiscal Vulnerabilities in Low-Income Countries, Bank Dunia menyebut perekonomian negara-negara tersebut saat ini lebih buruk dibandingkan kondisi mereka sebelum pandemi Covid-19, meskipun sebagian besar negara lainnya sudah kembali ke jalur pertumbuhan.

    Pendapatan per kapita tahunan di negara-negara termiskin ini tidak lebih dari USD1.145. Lebih dari setengah negara tersebut, yang jumlahnya dua kali lipat dari tahun 2015, menghadapi kesulitan utang atau berisiko tinggi mengalaminya. Tidak ada satu pun yang berada pada risiko rendah. Dalam laporannya, Bank Dunia juga menyoroti penurunan bantuan pembangunan resmi hingga ke level terendah selama 21 tahun terakhir, yaitu hanya 7 persen dari PDB pada 2022.

    Rasio utang negara-negara berpendapatan rendah ini terhadap PDB mencapai 72 persen, yang merupakan angka tertinggi dalam 18 tahun terakhir. Pandemi Covid-19 mendorong peningkatan belanja di negara-negara ini secara drastis, mengakibatkan defisit primer naik tiga kali lipat menjadi 3,4 persen dari PDB pada 2020. Sejak itu, mereka kesulitan mengurangi defisit tersebut, yang masih bertahan di 2,4 persen PDB pada 2023, hampir tiga kali lipat lebih besar dari rata-rata defisit negara berkembang lainnya.

    Sebagian besar dari negara-negara ini juga terjebak dalam konflik bersenjata atau mengalami krisis sosial yang menghambat investasi asing dan ekspor komoditas utama mereka. Bencana alam memperparah situasi, dengan kerugian tahunan rata-rata mencapai 2 persen PDB, lima kali lipat dari negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Selain itu, biaya adaptasi terhadap perubahan iklim di negara-negara ini juga diprediksi jauh lebih besar, mencapai 3,5 persen dari PDB per tahun, yang juga lima kali lebih tinggi dibandingkan negara-negara menengah ke bawah.

    “Negara-negara berpendapatan rendah harus meningkatkan investasi secara signifikan dan menunjukkan kinerja ekonomi yang jauh lebih baik jika ingin mencapai tujuan pembangunan pada tahun 2030,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

    Berikut adalah 26 negara termiskin di dunia menurut laporan Bank Dunia dalam konteks utang negara berpendapatan rendah:

    1. Afghanistan

    2. Burkina Faso

    3. Burundi

    4. Chad

    5. Republik Demokratie Kongo

    6. Ethiopia

    7. The Gambia

    8. Guinea-Bissau

    9. Haiti

    10. Liberia

    11. Madagascar

    12. Malawi

    13. Mali

    14. Mozambique

    15. Niger

    16. Rwanda

    17. Sierra Leone

    18. Somalia

    19. South Sudan

    20. Sudan

    21. Tanzania

    22. Togo

    23. Uganda

    24. Yemen

    25. Zimbabwe

    26. Republik Afrika Tengah

    Negara-negara ini mengalami kesulitan utang yang semakin meningkat, sebagian besar disebabkan oleh kondisi ekonomi yang memburuk akibat pandemi, krisis global, serta kerentanan terhadap bencana alam dan konflik bersenjata.

    Pembiayaan untuk Negara Termiskin

    Melihat situasi krisis yang dihadapi negara-negara termiskin, Bank Dunia berupaya meningkatkan penggalangan dana sebesar USD100 miliar melalui International Development Association (IDA). Dana ini ditujukan untuk membantu negara-negara berpendapatan rendah agar bisa lebih tahan menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi.

    Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, menyatakan International Development Association (IDA) telah berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup negara-negara berpendapatan rendah selama lima tahun terakhir. “IDA telah menyalurkan sebagian besar sumber daya keuangannya ke 26 negara berpendapatan rendah, menjaga mereka tetap bertahan melalui kemunduran bersejarah yang mereka derita,” kata Gill, dikutip dari Reuters, Senin, 14 Oktober 2024.

    Biasanya, dana IDA diperbarui setiap tiga tahun dengan kontribusi dari negara-negara pemegang saham Bank Dunia. Pada 2021, IDA berhasil mengumpulkan USD93 miliar, dan Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, menargetkan lebih dari USD100 miliar pada 6 Desember 2023.

    Selain itu, Bank Dunia juga memberikan rekomendasi untuk negara-negara ini. Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, Ayhan Kose, menyarankan agar mereka memperluas basis pajaknya dengan memperbaiki sistem administrasi pajak dan meningkatkan efisiensi belanja publik. Kose juga menambahkan, bantuan internasional yang lebih kuat, baik melalui perdagangan, investasi, maupun kolaborasi dengan IDA dan sektor swasta, sangat diperlukan untuk memobilisasi lebih banyak sumber daya dan mendukung reformasi struktural.

    “IDA adalah mitra pembangunan yang penting bagi negara-negara ini karena rekam jejak keberhasilannya, pilihan pembiayaannya yang terjangkau, serta keahliannya yang mendalam dalam pembangunan,” kata Kose.

    Asia Timur dan Pasifik Tumbuh Lebih Cepat

    Di tengah tantangan yang dihadapi negara-negara termiskin yang semakin terjebak utang dan menghadapi krisis ekonomi global, Bank Dunia juga memberikan perhatian pada kawasan yang menunjukkan pertumbuhan pesat, meskipun melambat. Di Asia Timur dan Pasifik, meski kawasan ini tetap menjadi motor penggerak ekonomi dunia, lajunya tidak secepat sebelum pandemi. Seiring dengan laporan Bank Dunia yang berfokus pada negara-negara berpendapatan rendah, kawasan Asia Timur dan Pasifik juga menghadapi dinamika tersendiri dalam proses pemulihan ekonominya.

    “Negara-negara di Asia Timur dan Pasifik terus menjadi lokomotif bagi ekonomi global. Namun, kecepatannya mulai melambat,” ujar Vice President of the World Bank for East Asia and the Pacific, Manuela V Ferro, dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa 8 Oktober 2024, lalu.

    Menurut proyeksi Bank Dunia, perekonomian kawasan ini akan tumbuh sebesar 4,8 persen pada 2024 dan 4,4 persen pada 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi April 2024 yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 4,5 persen pada 2024 dan 4,3 persen pada 2025. Kendati demikian, proyeksi ini tetap menunjukkan perlambatan signifikan dibandingkan periode 2015-2019, ketika rata-rata pertumbuhan mencapai 6,4 persen per tahun sebelum pandemi melanda.

    Manuela menekankan bahwa agar mampu mempertahankan momentum pertumbuhan dalam jangka menengah, negara-negara di kawasan ini harus segera berbenah dengan memodernisasi serta mereformasi struktur ekonominya. Langkah ini diperlukan untuk menghadapi dinamika perubahan pola perdagangan dan pesatnya perkembangan teknologi.

    Dalam laporan East Asia and The Pacific Economic Update edisi Oktober 2024 yang dirilis pada hari yang sama, Bank Dunia mengidentifikasi tiga faktor utama yang berpotensi mempengaruhi laju pertumbuhan Asia Timur dan Pasifik: pergeseran arus perdagangan dan investasi, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan global.

    Manuela menjelaskan bahwa ketegangan perdagangan yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah menciptakan peluang baru bagi negara-negara seperti Vietnam untuk mengambil peran yang lebih signifikan dalam rantai pasokan global dengan merangkul mitra dagang utama. Meski demikian, ruang gerak ini bisa menyempit jika aturan asal barang (rules-of-origin) yang lebih ketat diberlakukan untuk membatasi impor dan ekspor.

    Sebagai contoh, perusahaan Vietnam yang mengekspor ke AS mencatatkan pertumbuhan penjualan hampir 25 persen lebih cepat dibandingkan dengan penjualan ke destinasi lain selama periode 2018-2021. Namun, dinamika tersebut bisa berubah dengan pemberlakuan regulasi baru.

    Selain itu, Manuela menggarisbawahi bahwa negara-negara di sekitar Tiongkok telah meraup keuntungan besar dari pertumbuhan pesat ekonomi Tiongkok selama tiga dekade terakhir. Namun, seiring perlambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu, dampak positif ini pun turut memudar. Tercatat, impor Tiongkok hanya tumbuh 2,8 persen dalam tujuh bulan pertama 2024, jauh di bawah laju pertumbuhan tahunan hampir 6 persen selama dekade sebelumnya.

    Di sisi lain, ketidakpastian global juga berpotensi memberikan dampak negatif bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik. Di luar risiko geopolitik, ketidakpastian dalam kebijakan ekonomi global yang meningkat dapat menekan produksi industri dan menurunkan harga saham di kawasan hingga masing-masing 0,5 persen dan 1 persen.

    Untuk itu, Bank Dunia merekomendasikan agar negara-negara di Asia Timur dan Pasifik memperkuat pilar pertumbuhan domestik dengan segera melaksanakan reformasi mendalam yang selama ini tertunda. Selain itu, percepatan penyelesaian perjanjian perdagangan internasional yang lebih komprehensif, baik di dalam kawasan maupun dengan negara-negara ekonomi utama lainnya, dinilai penting untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih terbuka dan stabil.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).