Logo
>

Bursa Asia Bervariasi, Sentimen Terpecah di Tengah Ancaman Tarif Baru Trump

Bursa saham Asia dibuka bervariasi pada perdagangan Senin pagi. Sentimen pelaku pasar terpecah usai pernyataan Trump soal tarif baru pada mitra dagang utama AS.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bursa Asia Bervariasi, Sentimen Terpecah di Tengah Ancaman Tarif Baru Trump
Bursa Asia bergerak bervariasi di tengah kekhawatiran pasar atas ancaman tarif baru dari Trump yang dapat mengguncang perdagangan global. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.

KABARBURSA.COM – Perdagangan bursa saham Asia dibuka dengan arah yang bercampur pada Senin, 15 Juli 2025, menyusul pelemahan tipis di Wall Street setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq menyentuh rekor tertinggi pekan lalu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana penerapan tarif sebesar 30 persen atas barang impor dari Meksiko dan Uni Eropa. Pernyataan itu disampaikan lewat surat terbuka yang diunggah ke media sosial pada akhir pekan.

Namun reaksi pasar cenderung tenang. Sejumlah analis menilai investor masih menunggu perkembangan pembicaraan dagang menjelang tenggat waktu 1 Agustus. Ekspektasinya, kesepakatan dagang dapat tercapai sebelum kebijakan tarif benar-benar diberlakukan. Sementara itu, peso Meksiko sedikit melemah terhadap dolar AS, diperdagangkan di level 18,6 peso per dolar.

Dilansir dari AP di Jakarta, Senin, Bursa saham China justru mencatat kenaikan setelah pemerintah merilis data ekspor yang menunjukkan lonjakan pengiriman ke luar negeri bulan lalu. Kenaikan ini didorong jeda sementara dalam perang tarif, memicu percepatan pesanan sebelum tenggat negosiasi baru dengan AS pada 12 Agustus.

Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,5 persen ke posisi 24.253,18, dan Shanghai Composite juga menguat 0,5 persen ke level 3.526,75. Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,3 persen menjadi 39.459,20. Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 0,8 persen ke 3.200,25, ditopang sektor teknologi dan semikonduktor.
​​
Di Indonesia, dii tengah sentimen global yang kembali bergejolak, pasar saham Indonesia justru tampil cukup percaya diri. Hingga akhir sesi I perdagangan Senin, 14 Juli 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 36 poin atau naik 0,52 persen ke level 7.084.

Di Australia, indeks S\&P/ASX 200 nyaris tak berubah di level 8.577,80. Sedangkan Taiwan mencatat pelemahan paling dalam, dengan indeks acuan anjlok 2,3 persen.

Pasar saham Amerika Serikat menutup pekan lalu dengan nada negatif. Indeks S\&P 500 turun 0,3 persen ke 6.259,75, sehari setelah mencetak rekor tertinggi baru. Dow Jones jatuh 0,6 persen ke 44.371,51, dan Nasdaq terkoreksi 0,2 persen ke 20.585,53, meski sempat berfluktuasi sepanjang sesi.

Pekan lalu menjadi periode yang tak stabil bagi Wall Street, yang masih dibayangi ancaman tarif baru dari pemerintahan Trump terhadap negara-negara mitra dagang, termasuk Kanada. Investor juga mulai bersiap menyambut musim laporan keuangan kuartalan emiten besar.

Tarif Bisa Naik Hingga 200 Persen

Dalam suratnya kepada Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif menjadi 35 persen untuk berbagai barang impor dari Kanada. Angka ini jauh lebih tinggi dari tarif maksimum 25 persen yang pernah diberlakukan pada Maret lalu.

Awalnya, pemerintah AS menetapkan tenggat hingga Rabu pekan ini bagi negara-negara mitra untuk menyepakati kesepakatan dagang. Namun karena baru dua kesepakatan yang tercapai sejak April—dengan Inggris dan Vietnam—deadline diperpanjang hingga 1 Agustus.

Trump juga mengisyaratkan akan mengenakan tarif 200 persen atas obat-obatan dan 50 persen atas tembaga, menyamai tarif tinggi yang dikenakan pada baja dan aluminium.

Kebijakan tarif Trump yang diluncurkan pada musim semi lalu sempat mengguncang pasar keuangan global. Namun kini pasar relatif stabil, mencerminkan adaptasi investor terhadap pola kebijakan Trump yang kerap berubah cepat.

Dengan meredanya kepanikan tarif, fokus pasar dalam beberapa pekan ke depan akan bergeser ke musim laporan keuangan perusahaan. Sejumlah bank besar seperti JPMorgan Chase, Wells Fargo, dan Citigroup dijadwalkan merilis kinerja keuangan mereka pada Selasa.

Saham perusahaan drone, Red Cat Holdings, melonjak hingga 26,4 persen pada Jumat lalu. Lonjakan ini terjadi setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeluarkan perintah untuk meningkatkan produksi dan distribusi pesawat nirawak bagi kebutuhan militer.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).