Logo
>

Danantara Masih Diam Seribu Kata soal Arah Investasinya

Ketidakpastian arah pemanfaatan dana Danantara membuat pelaku pasar bertanya-tanya. Investor masih wait and see, menunggu sinyal jelas dari manajemen.

Ditulis oleh Dian Finka
Danantara Masih Diam Seribu Kata soal Arah Investasinya
Danantara pegang dana jumbo, tapi pasar masih bingung arah investasinya karena belum ada kejelasan dari manajemen. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.

KABARBURSA.COM - Dana besar kadang seperti teman yang suka janji traktir tapi tak pernah fix lokasi—bikin penasaran tapi juga bikin gelisah. Begitulah kira-kira yang lagi dirasain pasar terhadap Danantara. Duit sudah di tangan, tapi arahnya masih buram.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai saat ini belum ada guncangan berarti ke pasar saham imbas efek kondisi Danantara. Tapi ia mengingatkan, segala hal bisa berubah cepat tergantung satu hal, yakni soal cara Danantara komunikasi ke publik. Menurutnya, investor sedang menunggu katalis dari Danantara bukan karena santai, tapi karena belum dikasih kepastian.

“Sekarang belum berdampak signifikan. Investor masih wait and see. Yang terpenting adalah bagaimana Danantara menyampaikan informasi yang jelas dan konsisten ke publik,” ujar Ibrahim, kepada KabarBursa.com di Jakarta, Rabu, 30 April 2025.

Masih menurut Ibrahim, gejolak saham akhir-akhir ini bukan sepenuhnya karena urusan internal. Faktor eksternal seperti geopolitik dan nilai tukar rupiah justru lebih berperan. Tapi jangan salah, kalau direksi Danantara mulai buka suara soal kondisi keuangan dan rencana besar mereka, bisa jadi investor asing bakal balik kanan dan masuk berbondong-bondong.

“Kalau kemarin saham naik, itu lebih karena dorongan eksternal. Tapi ingat, kalau direksi Danantara aktif memberikan informasi tentang kondisi keuangan yang sehat, investor – terutama asing – akan masuk. Mereka pasti buru-buru serbu saham grup Danantara,” katanya.

Tapi kalau duit segede itu cuma mengendap di obligasi, pasar bisa kecewa. Apalagi kalau tak ada proyek riil yang digarap. Harapannya, dana jumbo itu bisa mendorong infrastruktur skala besar, bukan sekadar diputar-putar di instrumen keuangan.

“Kalau dana itu cuma parkir di instrumen keuangan tanpa ada proyek produktif, itu di luar ekspektasi pasar. Padahal harapannya Danantara bisa dorong pembangunan infrastruktur skala besar,” jelasnya.

Satu hal lagi yang jadi sorotan Ibrahim, yaitu soal tekanan ekonomi makro. Nilai tukar rupiah melemah, dolar AS menguat, harga-harga naik. Dan ternyata efeknya bisa sampai juga ke tukang bangun rumah.

“Saya bangun rumah saja, harga seng udah naik 30 persen. Dulu murah, sekarang mahal banget. Artinya, tekanan harga ini bisa mengganggu perencanaan investasi,” katanya.

Di tengah situasi seperti ini, menaruh dana di obligasi bisa jadi solusi jangka pendek yang masuk akal. Tapi tentu jangan lama-lama juga, karena makin lama menganggur, makin berat beban bunga yang harus ditanggung.

“Bisa saja sekarang dananya diparkir dulu buat bayar bunga ke pihak luar, seperti dari Qatar. Toh obligasi juga punya imbal hasil 6 persen-an. Tapi itu harus jangka pendek saja, jangan sampai berlarut,” kata Ibrahim. “Kalau dana sudah masuk tapi belum digunakan, ya malah jadi beban bunga buat Danantara.”

Sumber Kekayaan yang Diperoleh Danantara


Danantara memperoleh kekayaannya melalui konsolidasi aset BUMN yang dikelola secara langsung oleh lembaga ini. Tujuh BUMN besar yang menjadi bagian dari pengelolaan Danantara, seperti Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pertamina, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Telkom Indonesia, dan MIND ID, merupakan sumber utama kekayaan yang dikelola.

Dengan adanya pengalihan pengelolaan aset BUMN kepada Danantara, total aset yang dikelola diperkirakan mencapai Rp14.670 triliun (sekitar USD900 miliar). Modal awal yang digunakan oleh Danantara berasal dari dividen yang disetorkan oleh BUMN, yang kini dikelola langsung oleh Danantara. Sebagai langkah awal, Danantara memperoleh modal sebesar USD20 miliar (sekitar Rp327 triliun) dari dividen tahunan BUMN dan pemangkasan anggaran belanja negara.

Dividen BUMN yang disetorkan oleh perusahaan-perusahaan negara ini memberikan Danantara dana yang signifikan untuk membiayai proyek-proyek strategis nasional. 

Dana tersebut direncanakan untuk digunakan dalam membiayai sekitar 20 proyek besar, termasuk hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan sektor-sektor produktif lainnya. Danantara, melalui investasi strategis ini, bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Sebagai tanggapan mengenai transparansi dan progres Danantara, Ibrahim menyatakan meskipun banyak yang mengharapkan hasil cepat, pengelolaan aset ini memerlukan waktu yang lebih panjang untuk terlihat hasilnya. 

"Seperti yang disampaikan Pak Prabowo, dampak Danantara itu bukan sekarang, bisa 5 sampai 10 tahun lagi baru terasa. Saat ini baru tahap 'omong-omong' saja," katanya.

Menurutnya, proses penyusunan struktur dan penyelesaian pembentukan komisaris serta direksi adalah tahap penting yang harus selesai agar Danantara dapat bekerja efektif.

Dampak Pengelolaan Aset Danantara


Pengelolaan aset oleh Danantara memiliki dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing industri, dan penguatan posisi Indonesia di pasar global. Dengan total aset yang dikelola mencapai sekitar 60 pe dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, Danantara memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, meskipun dampak jangka panjang dari pengelolaan aset ini sangat besar, proses konsolidasi internal dan penyusunan struktur organisasi Danantara masih dalam tahap awal.

Ibrahim mencatat tahap penyusunan ini membutuhkan waktu, dan keberhasilan Danantara bergantung pada kesempurnaan struktur organisasinya. "Kalau internal sudah selesai, baru bicara ke luar. Investor harus sabar," jelasnya.

Sementara itu, meskipun ada ketidakjelasan mengenai alokasi dana investasi dari komitmen Qatar sebesar USD4 miliar, Analis Pasar Modal dari MikirDuit, Surya Rianto, melihat hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah besar. "Skema pengelolaan ini bukan soal mencari dana dulu, tapi ada dana dan mulai menggarap proyek yang dituju," ujarnya kepada KabarBursa.com.

Surya menekankan pentingnya transparansi dalam memberikan pembaruan berkala tentang portofolio investasi kepada pasar yang akan membantu menjaga kepercayaan investor.

Bagi investor domestik, terutama yang memiliki portofolio saham BUMN seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, Pertamina, PLN, Telkom, dan MIND ID, konsolidasi aset ke Danantara dapat memengaruhi likuiditas dan valuasi saham-saham tersebut. Proses pengalihan saham ke Danantara menimbulkan ketidakpastian jangka pendek perihal harga dan struktur kepemilikan. 

Meskipun demikian, jika Danantara berhasil meningkatkan efisiensi dan kinerja BUMN, potensi pertumbuhan jangka panjang dapat memberikan manfaat besar bagi investor yang tetap bertahan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Dian Finka

Bergabung di Kabar Bursa sejak 2024, sering menulis pemberitaan mengenai isu-isu ekonomi.