KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat kembali menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Rabu, 2 Juli 2025 waktu New York.
Kenaikan ditopang ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve semakin dekat untuk menurunkan suku bunga acuannya.
Di sisi lain, mata uang Inggris, poundsterling, terpukul akibat tekanan yang muncul di pasar obligasi, menyusul ketidakpastian kebijakan fiskal domestik.
Sentimen penguatan dolar muncul setelah data tenaga kerja versi ADP menunjukkan penurunan perekrutan sektor swasta di bulan Juni, yang pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.
Meskipun data tersebut mencerminkan pelemahan ekonomi, investor justru menilainya sebagai ruang bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya, bahkan secepatnya pada September mendatang.
Indeks Dolar (DXY), yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang utama termasuk euro dan yen, naik 0,15 persen menjadi 96,786. Ini menjadi sinyal pemulihan setelah indeks tersebut mengalami tekanan selama sembilan hari berturut-turut.
Penguatan dolar juga selaras dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun, yang tercatat naik 1,2 basis poin ke level 3,789 persen.
“Dolar menguat cukup merata terhadap mata uang negara-negara G10, seiring dengan lonjakan hampir 20 basis poin pada imbal hasil AS,” ujar Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex LLC Marc Chandler.
Terhadap yen Jepang, dolar naik menjadi 143,63, menutup dua hari pelemahan. Dolar juga menguat atas franc Swiss ke posisi 0,7915.
Sementara terhadap euro, dolar bergerak sedikit lebih kuat di angka USD1,1797. Sebaliknya, euro justru mencatatkan penguatan 0,9 persen terhadap poundsterling.
Poundsterling Anjlok: Aksi Jual Besar-besaran Berlanjut
Dari Inggris, pasar menghadapi tekanan yang lebih berat. Poundsterling anjlok 0,79 persen menjadi USD1,3634, level terendah dalam sepekan terakhir, menyusul aksi jual besar-besaran di pasar obligasi.
Hal ini terjadi sehari setelah pemerintah Inggris memangkas rencana pemotongan tunjangan secara drastis, yang memicu kecemasan tentang stabilitas politik dan fiskal negara tersebut. Spekulasi juga menguat terkait nasib Menteri Keuangan Inggris di tengah guncangan tersebut.
“Bukan hanya sterling yang tertekan. Pasar obligasi Inggris juga mengalami tekanan tajam. Ini mencerminkan krisis kepercayaan terhadap pemerintahan saat ini,” kata Chandler.
Sementara itu, dari kawasan euro, inflasi tahunan tercatat naik tipis ke angka 2 persen, tepat di sasaran target Bank Sentral Eropa.
Meski menjadi kabar baik dari sisi harga, hal ini juga menandakan bahwa perhatian bank sentral kini akan beralih ke potensi volatilitas akibat arah kebijakan tarif dan fiskal di negara-negara zona euro.
Di AS, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan fiskal dalam negeri. RUU pemangkasan pajak dan belanja besar-besaran yang diusulkan Presiden Donald Trump lolos dari Senat dengan margin tipis.
Jika disetujui DPR, RUU tersebut berpotensi menambah utang nasional hingga USD3,3 triliun dalam 10 tahun ke depan. Di tengah dinamika fiskal dan politik ini, dolar tetap menjadi salah satu aset favorit pasar global.
Dari Asia, dolar mencatat kenaikan tipis atas yuan China di pasar offshore menjadi 7,161. Sedangkan terhadap dolar Kanada, greenback justru melemah 0,35% ke level 1,36.
Pelaku pasar kini menanti rilis laporan ketenagakerjaan AS versi Departemen Tenaga Kerja yang dijadwalkan Kamis, sehari sebelum libur nasional 4 Juli. Laporan ini akan menjadi kunci arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Jika data kembali menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa menguat lebih jauh dan dolar bisa terus mencuri perhatian di tengah gejolak global.(*)