KABARBURSA.COM – Saham-saham Eropa sempat unggul di awal tahun 2025, mengalahkan Wall Street berkat kebijakan fiskal besar-besaran Jerman dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat. Namun, kini pasar saham AS telah menyusul.
Per akhir pekan lalu, indeks acuan STOXX 600 naik 6,6 persen sejak awal tahun, sedikit tertinggal dari S&P 500 yang tumbuh 6,8 persen.
Pada Maret lalu, STOXX sempat unggul hingga 10 poin persentase dibandingkan Wall Street, memicu harapan bahwa inilah saatnya pasar Eropa bangkit setelah bertahun-tahun tertinggal. Namun kini momentum tersebut mulai memudar, terutama karena kebangkitan kembali saham teknologi AS.
Meski demikian, kekuatan euro terhadap dolar menjadi faktor baru yang tidak bisa diabaikan. Mata uang euro telah menguat 14 persen terhadap dolar sejak awal tahun.
Teknologi AS Bangkit, Nvidia Melesat 45 Persen
Marija Veitmane, Kepala Riset Saham di State Street Global Markets, menyebut pemulihan Wall Street dimulai pertengahan April, bersamaan dengan bergesernya tensi dagang menjadi negosiasi. Namun titik balik sebenarnya adalah musim laporan kinerja, saat para CEO perusahaan teknologi mengumumkan proyeksi laba yang sangat kuat.
Sektor teknologi yang mencakup sepertiga dari bobot indeks S&P 500 tercatat melonjak 24 persen sejak April, meski sempat terkoreksi akibat pengumuman tarif Presiden Donald Trump.
Saham Nvidia, yang kembali menjadi perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, melonjak hingga 45 persen. Saat ini, belum ada satu pun saham Eropa yang bisa menyaingi performa Nvidia.
Valuasi AS Dinilai Terlalu Tinggi, Eropa Kembali Dilirik
Meski S&P 500 menyentuh rekor baru, tidak semua investor tergoda untuk kembali ke pasar AS. Madeleine Ronner, Manajer Portofolio Senior di DWS, memperingatkan bahwa valuasi tinggi di AS sangat rentan terhadap perubahan sentimen akibat isu seperti tarif.
“Pengumuman tarif memperlihatkan betapa cepatnya sentimen bisa berubah dan menunjukkan risiko dari valuasi tinggi tersebut,” kata Ronner.
Ia menambahkan bahwa valuasi saham Eropa kini lebih masuk akal karena kinerja laba per saham mulai pulih, memperkecil kesenjangan dengan AS.
DWS juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS dan Eropa akan setara pada 2025 dan 2026, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten Benua Biru.
Saham Pertahanan dan Bank Jadi Tulang Punggung STOXX 600
Namun lonjakan indeks STOXX 600 sebagian besar didorong oleh sektor pertahanan dan perbankan, yang masing-masing naik 50 persen dan 28 persen tahun ini.
Kedua sektor itu menyumbang lebih dari separuh return indeks, meski bobotnya hanya 16 persen, menurut BNP Paribas Exane.
Kenaikan tajam sektor pertahanan tidak mengherankan, karena negara-negara anggota NATO, khususnya Jerman—meningkatkan belanja militer secara besar-besaran. Meski begitu, valuasinya kini cukup tinggi.
Saham Rheinmetall, perusahaan senjata asal Jerman, diperdagangkan pada rasio PE di atas 50 kali, jauh lebih mahal dari Apple atau Microsoft yang ada di kisaran 30 kali.
Euro Perkasa, Jadi Daya Tarik Baru Pasar Eropa
Di sisi lain, penguatan euro menjadi cerita tersendiri. Mata uang tunggal Eropa ini sudah mendekati level tertinggi empat tahun dan hampir menembus USD1,20. Padahal, awal tahun lalu, banyak analis justru memperkirakan euro akan jatuh di bawah satu dolar, seiring kuatnya permintaan atas aset AS.
Namun ketika arus modal ke AS mulai melambat, euro langsung menguat tajam. Para pemegang saham dan obligasi AS dari luar negeri mulai melakukan lindung nilai terhadap risiko pelemahan dolar, yang memperkuat euro lebih lanjut.
George Saravelos, Kepala Strategi Valas di Deutsche Bank, mengatakan bahwa investor tidak perlu menjual aset AS untuk membuat dolar melemah—cukup dengan tidak membeli lebih banyak.
Valuasi Saham AS Jadi Tidak Menarik Bagi Investor Euro
Pergerakan mata uang juga berdampak pada daya tarik investasi saham lintas kawasan. Bagi investor AS, S&P 500 memang mencetak rekor baru. Namun jika dihitung dalam euro, indeks ini masih 9 persen di bawah puncaknya pada Februari lalu.
“Bagi investor berbasis euro, pergerakan mata uang telah memangkas sebagian besar keuntungan dari saham AS tahun ini,” ujar Ronner.
Ia menambahkan bahwa jika ada koreksi lebih lanjut, kerugian dalam euro bisa semakin besar.
Sebaliknya, meskipun STOXX 600 dalam mata uang lokal masih di bawah rekor bulan Maret, dalam hitungan dolar indeks ini justru mencetak rekor tertinggi pada akhir Juni. Ini menunjukkan bahwa faktor nilai tukar berperan besar dalam keputusan investasi lintas wilayah. (*)