KABARBURSA.COM - Perdebatan mengenai arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia kembali mengemuka di tengah tekanan hebat yang menghantam rupiah. Mata uang Garuda kini terjerembap ke kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah level yang memantik kecemasan baru di pasar keuangan domestik.
Di saat yang sama, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan Rabu 20 Mei 2026 siang. Pertanyaannya sederhana, tetapi dampaknya besar: apakah BI akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen atau justru menaikkannya menjadi 5 persen demi menahan laju pelemahan rupiah?
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai ruang kenaikan suku bunga mulai sulit dihindari. Menurut dia, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen merupakan langkah yang cukup rasional dalam situasi sekarang.
Ia mengakui kebijakan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memperlambat penyaluran kredit dan menahan laju ekspansi ekonomi. Namun, di tengah tekanan kurs yang terus membesar, prioritas utama bank sentral dinilai harus diarahkan pada stabilisasi rupiah.
Sepanjang pertengahan April hingga Mei 2026, Indonesia tercatat mengalami arus modal keluar atau capital outflow sebesar 15 juta dolar AS dari pasar saham. Sementara dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), dana asing yang keluar mencapai sekitar 0,4 miliar dolar AS sebelum akhirnya sempat terjadi inflow sekitar 0,22 miliar dolar AS pada 11-12 Mei.
Riefky juga menyoroti fenomena flattening yield curve, yakni menyempitnya selisih imbal hasil obligasi jangka pendek dan panjang. Fenomena itu menjadi sinyal bahwa investor mulai memandang risiko jangka pendek semakin tinggi. Dampaknya, tekanan jual lebih deras terjadi pada obligasi tenor pendek dibanding tenor panjang.
Dalam upaya mempertahankan pasokan valuta asing sekaligus menarik kembali arus modal masuk, Bank Indonesia diketahui meningkatkan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga sekitar Rp214 triliun sepanjang 2026. Tidak hanya itu, rata-rata tertimbang kupon SRBI juga naik menjadi 6,4 persen per 13 Mei, dibandingkan 5,89 persen pada pertengahan April dan 4,9 persen pada awal tahun.
Meski demikian, langkah intervensi tersebut dinilai belum cukup ampuh. Cadangan devisa Indonesia bahkan telah terkuras lebih dari 10 miliar dolar AS dalam empat bulan terakhir demi menopang stabilitas rupiah.
Riefky menilai performa rupiah tergolong paling rentan dibanding mayoritas mata uang negara berkembang lainnya. Sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd), rupiah telah melemah sekitar 5,50 persen dan hanya sedikit lebih baik dibanding lira Turki serta rupee India.
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah bukan semata dipicu faktor global. Persoalan domestik juga memainkan peran signifikan, terutama kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal pemerintah akibat rendahnya tax ratio nasional.(*)