KABARBURSA.COM — PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) pada Rabu, 20 Mei 2026. Namun, pertemuan pemegang saham kali ini berlangsung dalam situasi yang berbeda dibanding masa kejayaan batubara beberapa tahun lalu.
Di tengah pelemahan harga komoditas global, laba yang menyusut, serta tekanan pada harga saham dalam beberapa pekan terakhir, investor kini menunggu lebih dari sekadar keputusan pembagian dividen.
Tekanan pasar tercermin dari pergerakan saham MBAP. Pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, saham MBAP ditutup melemah 2,18 persen ke level Rp1.570. Dalam sepekan terakhir, koreksi mencapai sekitar 3,68 persen.
Padahal dari sisi valuasi, saham ini tampak relatif murah dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,61 kali atau diperdagangkan di bawah nilai bukunya. Namun murah secara aset belum tentu berarti murah secara prospek bisnis.
RUPS tahun ini berpotensi menjadi forum penting untuk menjawab keraguan tersebut. Berdasarkan agenda resmi yang disampaikan perseroan, salah satu mata acara utama RUPS ialah persetujuan penggunaan laba bersih tahun buku 2025.
“Memberikan persetujuan atas penggunaan laba bersih Perseroan yang diperoleh pada tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025,” tulis manajemen MBAP, yang dilihat, Selasa, 19 Mei 2026.
Selain itu, pasar juga berpotensi menyoroti agenda perubahan susunan pengurus. Perseroan mencantumkan agenda Pemberhentian dan Pengangkatan anggota Dewan Komisaris dan/atau Direksi dengan susunan yang akan disampaikan dalam Rapat.
Pergantian direksi atau komisaris pada emiten sumber daya biasanya tidak sekadar persoalan jabatan, tetapi dapat menjadi sinyal perubahan strategi bisnis, ekspansi, maupun arah diversifikasi.
MBAP pernah dikenal sebagai salah satu emiten batu bara dengan daya tarik dividen tinggi. Namun tekanan industri dalam dua tahun terakhir mulai mengubah pola tersebut.
Pelemahan harga batu bara global membuat margin keuntungan perusahaan ikut tergerus. Kondisi itu berdampak pada penurunan profitabilitas.
Daya tarik dividend play perlahan menurun. Dividen tunai yang dibagikan perusahaan dalam beberapa periode terakhir menunjukkan tren mengecil dibanding masa puncak supercycle komoditas.
Fenomena ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi sebagian emiten batu bara nasional. Ketika harga komoditas turun, perusahaan dipaksa memilih antara menjaga pembagian laba kepada investor atau menyimpan kas untuk ekspansi jangka panjang.
Pertanyaan penting bagi investor menjelang RUPS ialah apakah MBAP masih mempertahankan karakter sebagai emiten pembagi dividen tinggi atau mulai menggeser fokus menuju investasi bisnis baru.
Transformasi Energi Mulai Muncul, tapi Belum Teruji
Di tengah tekanan pada bisnis inti batu bara, MBAP mulai memperlihatkan arah diversifikasi. Perusahaan diketahui mengembangkan lini bisnis wood pellet atau biomassa, yang dipandang sebagai salah satu sumber energi alternatif beremisi lebih rendah dibanding batu bara konvensional.
Langkah ini dapat dibaca sebagai upaya antisipasi terhadap tren transisi energi global yang perlahan menekan prospek industri batubara jangka panjang. Namun transformasi semacam itu tidak terjadi instan.
Bisnis baru membutuhkan investasi, waktu, dan kepastian pasar. Kontribusi pendapatan dari segmen energi alternatif juga belum sepenuhnya mampu menggantikan dominasi batubara terhadap arus kas perusahaan.
Karena itu, investor kemungkinan akan menunggu penjelasan manajemen mengenai peta jalan diversifikasi serta target kontribusi bisnis baru terhadap pendapatan masa depan.
Dari sisi teknikal, pergerakan MBAP masih berada dalam tekanan jangka pendek. Harga saham berada di sekitar area rata-rata bergerak (moving average) dan mendekati batas bawah Bollinger Band, yang umumnya menunjukkan momentum melemah.
Sementara indikator MACD mulai menunjukkan penyempitan jarak antara garis sinyal dan garis utama. Kondisi ini sering diartikan pasar sebagai fase konsolidasi atau potensi pembalikan arah terbatas.
Level psikologis Rp1.560–Rp1.570 menjadi area support terdekat. Sedangkan kisaran Rp1.600 hingga Rp1.645 berpotensi menjadi area resistance apabila muncul sentimen positif pasca-RUPS.
Artinya, pasar tampak masih mengambil posisi menunggu keputusan dan pesan strategis dari manajemen.
Di samping itu, kinerja keuangan MBAP 2025 juga mengalami tekanan hebat. Perseroan mencatat penyusutan laba bersih yang sangat tajam, mencapai sekitar 92 persen secara tahunan menjadi hanya USD1,5 juta, dibandingkan perolehan laba USD19,1 juta pada periode sebelumnya.
Pelemahan profitabilitas tersebut berjalan seiring dengan turunnya pendapatan perusahaan. Sepanjang 2025, pendapatan MBAP terkoreksi sekitar 24 persen menjadi USD165 juta dari sebelumnya USD218 juta.
Kontributor utama pelemahan berasal dari segmen inti perusahaan, yakni bisnis batubara dan jasa pertambangan, yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan perseroan.
Di tengah tekanan bisnis utama, hanya segmen usaha udang yang menunjukkan pertumbuhan agresif. Pendapatan dari lini tersebut melonjak sekitar 328 persen menjadi USD3,3 juta. Namun kontribusinya terhadap total pendapatan masih sangat kecil, hanya sekitar 2 persen sehingga belum mampu menahan pelemahan bisnis utama.
Upaya efisiensi terlihat dari penurunan beban pokok pendapatan sekitar 15 persen menjadi USD147 juta serta pemangkasan beban usaha hingga 25 persen menjadi USD24 juta. Meski demikian, penghematan tersebut belum cukup mengimbangi penurunan pendapatan.
Akibatnya, laba bruto MBAP tergerus sekitar 62 persen menjadi USD18 juta. Tekanan lebih berat tampak pada laba usaha yang hampir habis, anjlok sekitar 98 persen hingga tersisa USD375 ribu sepanjang tahun.
Sementara dari sisi likuiditas, posisi kas dan setara kas perusahaan pada akhir 2025 tercatat sebesar USD74 juta atau sekitar Rp1,2 triliun. Nilai ini turun sekitar seperempat dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai USD98 juta.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.