KABARBURSA.COM - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim Indonesia masih mampu menunjukkan kinerja yang kuat sepanjang 2026.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen. Capaian ini relatif lebih besar jika dibandingkan dengan PDB Malaysia yang tumbuh di atas 5,3 persen.
Purbaya menyatakan, Indonesia hanya kalah dari Vietnam yang pada kuartal I 2026 meraih pertumbuhan PDB sebesar 7,8 persen.
Kinerja pertumbuhan nasional tersebut, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang diklaim tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 5,52 persen.
Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat yang tetap solid dan aktivitas ekonomi domestik yang masih bergerak positif.
"Kalau saya enggak salah ingat dari 5,61 persen itu, itu 2,9 persen dari belanja masyarakat. 1,7 persen dari investasi, sekitar 1,3 persen itu dari pemerintah. Jadi enggak benar bahwa daya beli masyarakat turun," ujar Purbaya dalam APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Selasa, 19 Mei 2026.
Kemenkeu juga mencatat, konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar 21,8 persen pada triwulan I 2026. Hal ini menandai perbaikan pola belanja Pemerintah yang selama ini terkonsentrasi di akhir tahun.
Sementara tingkat inflasi Indonesia per April tahun ini dinyatakan sebesar 2,42 persen. Menkeu menilai inflasi masih terkendali dan berada dalam target bank.
"Inflasi juga kita relatif terkendali. Pernah ada yang bilang bahwa inflasi kita enggak terkendali bahkan sampai double digit. Tapi ternyata sampai sekarang baru 2,41 persen. Jadi inflasi terkendali ini juga membantu daya beli masyarakat kita tidak bergerus," jelas Purbaya.
Ia juga sempat menyoroti subsidi BBM yang dinilai memberatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun Purbaya memastikan bahwa subsidi BBM masih dalam perhitungan yang aman.
"Subsidi BBM masih kita pertahankan sampai akhir tahun. Waktu itu kita memang sudah ambil angka rupiah tertentu yang berbeda dengan asumsi APBN yang kemarin. Jadi enggak usah khawatir, itu sudah kita perhitungkan," kata Bendahara negara tersebut.
Purbaya menambahkan, kondisi ekonomi nasional masih begitu menantang dengan kondisi ketidak pastian global yang mempengaruhi lonjakan harga komoditas.
"Kita masih menghadapi ketidak pastian di Timur Tengah yang membuat harga komoditas bertahan di level yang tinggi. Minyak, CPO (Crude Palm Oil), emas naik sedikit, tembaga juga naik. Jadi kita mengalami dunia yang seperti ini sekarang," pungkasnya.(*)