KABARBURSA.COM – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai stabilitas ringgit Malaysia dan dolar Singapura di tengah tekanan dolar Amerika Serikat tidak lepas dari kuatnya fundamental eksternal kedua negara tersebut.
Menurut Josua, pelemahan mata uang Asia sepanjang tahun ini sebenarnya terjadi secara luas, termasuk pada rupiah, peso Filipina, baht Thailand, hingga won Korea Selatan.
“Kalau kita melihat secara overall, kita bisa melihat bahwa dampaknya akan cukup masif,” ujar Josua, Selasa, 12 Mei 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun KabarBursa.com, rupiah tercatat melemah sekitar 3,7 persen secara year-to-date 2026 terhadap dolar Amerika Serikat. Sementara Baht Thailand juga melemah sekitar 2 persen sepanjang tahun ini.
Sementara won Korea Selatan turun lebih dari 4 persen akibat tekanan geopolitik dan arus modal keluar dari pasar keuangan Asia. Di sisi lain, ringgit Malaysia justru menguat sekitar 2,1 persen year-to-date terhadap dolar AS hingga awal Mei 2026.
Dolar Singapura juga menguat sekitar 1,4 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama. Josua mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi faktor fundamental yang berbeda dibanding negara Asia lain, termasuk Indonesia.
“Sekalipun memang ada beberapa currency lainnya yang relatif masih menguat, salah satunya ringgit Malaysia dan juga Singapura dolar. Tentunya kembali lagi, kondisinya mengapa dua currency ini juga tidak ikut melemah, karena tentunya ada faktor-faktor lain yang tidak dimiliki,” katanya.
Ia menilai salah satu faktor utama berasal dari kondisi neraca transaksi berjalan atau current account kedua negara yang relatif lebih kuat.
Melansir Bank Negara Malaysia, tercatat Negeri Jiran itu membukukan surplus current account sebesar 2,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV-2025.
Sementara Monetary Authority of Singapore melaporkan, Singapura mencatat surplus current account sekitar 17 persen terhadap PDB sepanjang 2025.
Sebaliknya, Indonesia diperkirakan masih mencatat defisit current account sekitar 0,4 persen terhadap PDB pada 2026.
Menurut Josua, faktor energi juga menjadi pembeda penting bagi Malaysia di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah.
“Salah satu tadi adalah mungkin rambatan dari kenaikan harga energi, terhadap ekonominya kita juga bisa melihat bagaimana struktur dari sisi neraca transaksi berjalan Malaysia dan juga Singapura yang memang relatif kuat, lebih kuat,” ujarnya.
Malaysia diketahui diuntungkan kenaikan harga energi global karena berstatus eksportir minyak dan liquefied natural gas (LNG). Reuters melaporkan kondisi tersebut membuat ringgit relatif lebih tahan terhadap tekanan geopolitik global dibanding mata uang negara importir energi seperti rupiah dan peso Filipina.
Data Department of Statistics Malaysia menunjukkan ekspor minyak dan gas menyumbang sekitar 18 persen dari total ekspor Malaysia pada 2025.
Sementara itu, dolar Singapura dinilai stabil karena ditopang surplus neraca jasa dan arus modal global yang masuk ke aset safe haven Asia.
MAS sendiri mempertahankan kebijakan penguatan nilai tukar dolar Singapura untuk menjaga stabilitas inflasi domestik. Di sisi cadangan devisa, Singapura tercatat memiliki devisa lebih dari USD370 miliar pada April 2026. Sementara cadangan devisa Malaysia berada di kisaran USD118 miliar dan Indonesia mencapai USD152,5 miliar pada April 2026.(*)