KABARBURSA.COM – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai arus keluar dana asing atau capital outflow masih menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar keuangan Indonesia sepanjang tahun ini.
Menurut Josua, tekanan tersebut tidak hanya dipengaruhi kondisi global, tetapi juga meningkatnya kehati-hatian investor asing terhadap pasar domestik setelah munculnya perhatian dari lembaga internasional seperti MSCI.
“Karena tentunya apa yang terjadi kita alami dari sejak awal tahun sampai dengan bulan April yang lalu, sudah terjadi capital flight atau capital outflow dari pasar keuangan kita, dan salah satu faktornya juga dipengaruhi oleh keluarnya dana asing dari pasar saham, dan ini sangat dipengaruhi sekali oleh peringatan dari MSCI tersebut,” ujar Josua dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal 1, pada Selasa, 12 Mei 2026.
Tekanan terhadap pasar domestik juga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong investor global mengalihkan dana ke aset aman atau safe haven.
Menurut Josua, kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi lebih besar dibanding dampak perang dagang sebelumnya.
“Namun kalau kita mencermati bagaimana transmisi dari resiko global yang ada saat ini, memang shock dari perang dagang ini memang sudah relatif bisa diantisipasi, tapi memang konflik di Timur Tengah ini, ini yang memberikan tekanannya yang relatif lebih cepat dan lebih kuat,” katanya.
Ia mengatakan jalur transmisi tekanan global tersebut terjadi melalui kenaikan inflasi energi, ekspektasi suku bunga global, hingga meningkatnya permintaan terhadap dolar Amerika Serikat.
“Dan jalur transmisi yang tadi sudah kami sampaikan, inflasi energi, ekspektasi suku bunga global, dan juga permintaan dolar. Dan juga pada akhirnya akan ada shifting, ataupun perpindahan dari investor yang sebelumnya menempatkan di negara yang belum berkembang akan memindahkannya kepada aset-aset yang aman,” ujar Josua.
Tekanan capital outflow juga tercermin pada pergerakan rupiah sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Bank Indonesia JISDOR, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.400 per dolar Amerika Serikat.
Pada 5 Mei 2026, rupiah tercatat berada di level Rp17.425 per dolar AS. Sepanjang 2026, mata uang Garuda telah melemah lebih dari 4 persen dan sempat menyentuh Rp17.445 per dolar AS, menurut Reuters.
Bank Indonesia sebelumnya menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal seperti tensi geopolitik, suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta arus keluar modal asing dari pasar domestik.
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia menegaskan tetap melakukan intervensi di pasar domestik maupun offshore. Bank sentral juga memperketat aturan pembelian dolar AS guna membantu meredam tekanan terhadap rupiah.
Di sisi pasar modal, MSCI sebelumnya menyatakan akan memperpanjang review reformasi pasar modal Indonesia hingga Juni 2026. MSCI juga menyoroti isu market accessibility, transparansi pasar, hingga struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai ikut memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.(*)