Logo
>

Fire Horse 2026 dan Siklus Uang di Bursa, Saat Strategi Lama Kehilangan Tenaga

Riset Kiwoom Sekuritas memproyeksikan rotasi sektor semakin cepat pada 2026, peran saham defensif bergeser, dan likuiditas mengalir ke emiten bertema pertumbuhan seperti digital, transisi energi, hilirisasi, serta proyek strategis nasional.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Fire Horse 2026 dan Siklus Uang di Bursa, Saat Strategi Lama Kehilangan Tenaga
Strategi buy and hold diproyeksikan tak lagi dominan pada 2026. Riset Kiwoom menunjukkan rotasi sektor makin agresif, dana selektif masuk ke saham growth, sementara sektor defensif berubah fungsi menjadi tempat parkir likuiditas. Foto: Hutama Prayoga/KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia tidak membaca 2026 sekadar sebagai pergantian tahun dalam kalender pasar. Tahun yang dalam penanggalan Tiongkok dikenal sebagai Fire Horse itu diposisikan sebagai fase ketika aliran uang berubah bentuk, bergerak lebih cepat, dan hanya singgah pada sektor yang memiliki cerita pertumbuhan paling jelas.

    Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut pertemuan elemen dalam tahun tersebut menggambarkan karakter pasar yang agresif, volatil, sekaligus selektif terhadap arah likuiditas. “Di tahun kuda api, strategi Buy-and-Hold tradisional akan tergerus oleh inflasi dan volatilitas. Pasar akan bergerak dalam rotasi sektor yang sangat cepat,” tulisnya dalam riset Year of the Fire Horse 2026 kepada KabarBursa.com, Senin, 16 Februari 2026.

    Dalam laporan itu, metafora Feng Shui bukan ditempatkan sebagai ramalan, melainkan sebagai kerangka untuk menjelaskan siklus energi pasar. Pertemuan elemen kayu dan api dimaknai sebagai fase akselerasi—periode ketika sesuatu yang telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir menemukan momentumnya untuk melonjak, tetapi dengan skalabilitas.

    Maknanya dalam bahasa bursa menjadi konkret, likuiditas tidak lagi menyebar ke seluruh sektor. Dana bergerak cepat, berpindah dari satu tema ke tema lain, dan hanya bertahan pada saham yang memiliki skalabilitas.

    Di sinilah Kiwoom memperkenalkan konsep yang mereka sebut sebagai anatomi Fire Horse, fase konvergensi berbagai faktor yang membentuk karakter pasar baru. Konvergensi tranformasi pasar—semisal transparansi bursa di Indonesia yang disorot lembaga internasional seperti MSCI—, volatilitas, hingga perubahan perilaku investor yang semakin berbasis momentum.

    Perbandingan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan indeks S&P 500 dalam laporan riset Kiwoom Sekuritas Year of the Fire Horse 2026. Grafik menunjukkan pergerakan IHSG yang sempat melampaui penguatan S&P 500 sebelum mengalami koreksi tajam. Foto: Dok. Trading View.


    Kondisi tersebut membuat kenaikan indeks tidak lagi identik dengan keuntungan bagi semua pelaku pasar. Return hanya muncul pada sektor tertentu. “Ini menciptakan siklus pertumbuhan agresif bagi sektor-sektor yang berbasis pada ekspansi cepat dan skalabilitas,” tulis Liza.

    Siklus Pasar: Dari Tema, Ekspansi, hingga Likuiditas

    Dalam riset itu, Kiwoom tidak hanya membaca arah pergerakan indeks dan arus dana, tetapi juga membedah siklus pasar melalui kerangka yang tidak lazim dipakai dalam laporan pasar modal. Dalam bagian bertajuk The Elemental Market Cycle: From Inception to Liquidity, Liza memetakan perjalanan sebuah tema investasi sejak lahir hingga menjadi pusat likuiditas, menggunakan analogi lima elemen.

    Dalam kerangka tersebut, fase awal ditempatkan pada elemen kayu yang melambangkan pembentukan ide dan ekspansi awal. Pada tahap ini sebuah sektor atau emiten masih berada di fase perintisan, narasinya mulai muncul tetapi belum menjadi perhatian utama pelaku pasar. Harga saham biasanya masih berada di level rendah karena validasi fundamental belum sepenuhnya terlihat.

    Ketika proyek mulai berjalan dan kinerja keuangan menunjukkan pertumbuhan, pasar memasuki fase api. Elemen ini menggambarkan puncak valuasi dan perhatian publik. Momentum harga tidak lagi hanya ditopang ekspektasi, tetapi juga oleh eksposur tinggi dan narasi yang semakin kuat. “Momentum didorong oleh narasi kuat dan high exposure,” tulis Liza dalam laporan tersebut.

    Diagram siklus pengendali lima elemen (metal, water, wood, fire, earth) yang digunakan dalam pendekatan feng shui untuk menjelaskan interaksi energi dalam membaca fase pergerakan pasar pada laporan riset Kiwoom Sekuritas bertajuk Year of the Fire Horse 2026.


    Setelah fase ekspansi, siklus bergerak ke elemen bumi yang mencerminkan konsolidasi aset fisik. Pada tahap ini volatilitas pasar mulai meningkat dan investor mencari penopang yang lebih nyata. Aset dengan basis fundamental kuat menjadi jangkar ketika euforia mulai mereda.

    Tahap berikutnya adalah elemen logam yang dikaitkan dengan pengetatan regulasi dan fokus pada efisiensi. Dalam fase ini, tata kelola menjadi faktor kunci agar sebuah emiten tetap bertahan. Pasar tidak lagi memberi premi hanya pada pertumbuhan, melainkan pada kualitas struktur keuangan dan governance.

    Siklus kemudian mengalir ke elemen air yang menggambarkan arus kas defensif dan manajemen likuiditas. Pada fase ini sektor-sektor yang stabil menjadi tempat parkir dana ketika risiko meningkat. Peran saham defensif bukan lagi sebagai mesin pertumbuhan, tetapi sebagai pelindung nilai portofolio.

    Sektor Defensif Berubah Fungsi

    Perubahan fase pasar yang diproyeksikan Kiwoom untuk 2026 juga menyentuh fungsi dasar saham-saham defensif yang selama ini menjadi jangkar portofolio investor. Liza menggambarkan bahwa stabilitas tidak lagi otomatis berbanding lurus dengan kinerja terbaik.

    Dalam konteks inilah sektor berbasis ekonomi digital, infrastruktur data, kecerdasan buatan, hingga transisi energi menjadi kandidat utama tujuan likuiditas. Sektor-sektor tersebut dianggap memiliki model bisnis yang mampu tumbuh eksponensial serta menawarkan proyeksi arus kas jangka panjang yang lebih terukur.

    Dalam fase seperti ini, saham-saham yang berada di pusat agenda strategis nasional, proyek hilirisasi, transisi energi, serta komoditas yang diuntungkan oleh dinamika geopolitik dinilai memiliki peluang lebih besar menjadi penggerak utama pasar. Dukungan kebijakan dan keberanian belanja modal menjadi katalis yang meningkatkan visibilitas kinerja emiten di mata investor.

    Dengan kata lain, peta permainan di Bursa Efek Indonesia bergerak menuju pasar yang lebih taktis. Stabilitas tetap dibutuhkan, tetapi bukan lagi sebagai sumber pertumbuhan utama. Likuiditas akan terus mencari sektor yang menawarkan cerita ekspansi paling meyakinkan dan kemampuan menghasilkan pertumbuhan dalam waktu relatif cepat.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).