KABARBURSA.COM - Kinerja keuangan PT Link Net Tbk (LINK) sepanjang Tahun Buku 2025 menunjukkan tekanan pada sisi profitabilitas dan struktur permodalan, meski pendapatan mencatat pertumbuhan dua digit.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Februari 2026, LINK membukukan pendapatan sebesar Rp3,08 triliun atau meningkat 22,22 persen dibandingkan 2024.
Sayangnya, kenaikan pendapatan tersebut belum mampu menahan laju beban. Total beban neto pada 2025 tercatat Rp4,52 triliun, naik 5,36 persen secara tahunan. Selisih antara pendapatan dan beban ini mendorong rugi sebelum pajak penghasilan sebesar Rp1,44 triliun.
Angka ini lebih rendah 18,64 persen dibandingkan rugi sebelum pajak 2024 yang mencapai Rp1,77 triliun.
Namun setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp5,71 miliar pada 2025, rugi tahun berjalan tercatat Rp1,45 triliun. Secara tahunan, rugi tahun berjalan disebut menurun 17,14 persen dibanding periode sebelumnya.
Di sisi lain, rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,45 triliun tercatat membengkak 22,88 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya.
Dampak akumulatif kerugian ini tercermin pada saldo laba dan ekuitas. Per 31 Desember 2025, saldo laba tersisa Rp464,55 miliar, turun 75,8 persen dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp1,92 triliun.
Ekuitas juga turun 29,14 persen menjadi Rp3,55 triliun dari Rp5,01 triliun pada akhir 2024. Penurunan ini menunjukkan tekanan langsung terhadap basis modal perusahaan.
Dari sisi struktur neraca, total liabilitas meningkat 8,75 persen menjadi Rp9,69 triliun pada akhir 2025. Kewajiban tersebut didominasi liabilitas jangka pendek sebesar Rp9,59 triliun, yang mencerminkan profil jatuh tempo yang lebih terkonsentrasi dalam jangka waktu dekat.
Peningkatan liabilitas di tengah penurunan ekuitas menyebabkan perubahan pada struktur permodalan.
Total aset per 31 Desember 2025 tercatat Rp13,24 triliun atau turun 4,89 persen dibandingkan akhir 2024. Penurunan aset berjalan seiring dengan penurunan kas dan setara kas yang tersisa Rp360,96 miliar, turun 17,22 persen dari posisi Rp436,04 miliar pada akhir 2024.
Pergerakan kas ini mencerminkan tekanan likuiditas di tengah peningkatan kewajiban jangka pendek.
Secara keseluruhan, laporan keuangan 2025 menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang belum diikuti perbaikan profitabilitas. Peningkatan beban dan tekanan pada struktur modal berdampak pada penurunan saldo laba dan ekuitas.
Pada saat yang sama, kenaikan liabilitas serta penurunan kas menjadi faktor yang membentuk ambaran kondisi keuangan LINK hingga akhir 2025.
Tekanan Jual Saham Besar
Melihat dari perdagangan terakhir PT Link Net Tbk (LINK), ada aktivitas yang relatif terbatas dengan tekanan jual yang masih membayangi pergerakan harga.
Saham LINK ditutup di level Rp2.790, menguat tipis 10 poin atau 0,36 persen dari harga sebelumnya Rp2.780. Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang Rp2.760 hingga Rp3.020, dengan pembukaan di Rp2.770 dan rata-rata harga transaksi di Rp2.877.
Nilai transaksi tercatat Rp468,9 juta dengan volume hanya 1,63 ribu lot dan frekuensi 58 kali. Angka ini mencerminkan likuiditas yang tipis dan minat transaksi yang terbatas. Dengan volume dan frekuensi yang rendah, pergerakan harga cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh antrean tipis di orderbook.
Struktur antrean menunjukkan ketimpangan cukup lebar antara sisi beli dan jual. Total lot pada sisi bid tercatat hanya 322 lot dengan 58 frekuensi, sedangkan sisi offer mencapai 1.623 lot dengan 99 frekuensi.
Perbandingan ini menandakan tekanan pasokan lebih dominan dibanding permintaan pada harga berjalan.
Di sisi beli, antrean terbesar berada di Rp2.710 sebanyak 41 lot dan Rp2.760 sebanyak 24 lot. Pada level harga penutupan Rp2.790, antrean bid tercatat hanya 3 lot. Sebaliknya, di sisi jual, tekanan paling tebal terlihat di Rp2.990 sebanyak 103 lot, disusul Rp2.880 sebesar 52 lot dan Rp2.930 sebanyak 50 lot.
Lapisan jual yang relatif lebih tebal di atas harga pasar menunjukkan adanya pasokan yang menunggu untuk dilepas ketika harga mendekati area tersebut.
Harga sempat menyentuh Rp3.020 sebagai level tertinggi intraday, namun tidak mampu bertahan dan kembali turun ke area Rp2.790. Pergerakan ini mencerminkan keterbatasan daya dorong beli di tengah tipisnya likuiditas.
Dengan total antrean jual hampir lima kali lipat lebih besar dibanding antrean beli, struktur mikro perdagangan memperlihatkan dominasi tekanan di sisi atas.
Kombinasi volume rendah, frekuensi terbatas, serta ketimpangan orderbook menggambarkan kondisi perdagangan yang relatif sepi dengan kecenderungan tekanan jual masih lebih kuat dibanding minat beli.
Harga mampu bertahan di atas Rp2.700, namun ruang kenaikan masih dibatasi oleh lapisan jual yang tebal di rentang Rp2.880 hingga Rp2.990.(*)