KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka saham (futures) Amerika Serikat naik tipis pada Minggu, 3 Mei 2026 malam, seiring investor mencermati perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah.
Seperti dilansir CNBC, kontrak berjangka S&P 500 naik sekitar 0,2 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 menguat 0,1 persen. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average juga bertambah 100 poin atau sekitar 0,2 persen.
Adapun pada perdagangan Jumat, 1 Mei 2026, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama mencetak rekor tertinggi baru, baik secara intraday maupun penutupan. Indeks pasar luas S&P 500 naik 0,29 persen, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi menguat 0,89 persen. Sebaliknya, Dow Jones justru bergerak berlawanan arah dengan turun 152,87 poin atau 0,31 persen.
Data ekonomi utama yang akan menjadi perhatian pekan ini adalah laporan ketenagakerjaan April, yang dijadwalkan rilis pada Jumat pukul 08.30 waktu setempat.
Konsensus Dow Jones memperkirakan ekonomi AS hanya menambah 53.000 lapangan kerja pada April, jauh di bawah angka sebelumnya sebesar 178.000, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di level 4,3 persen.
Pelaku pasar juga akan mencermati laporan keuangan dari Loews, Norwegian Cruise Line, dan Tyson Foods yang dijadwalkan rilis sebelum pembukaan perdagangan Senin.
Sementara itu dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Presiden Donald Trump mengumumkan “Project Freedom,” yang disebut sebagai upaya Amerika Serikat untuk membantu “membebaskan” kapal-kapal kargo dari negara yang tidak terlibat konflik Timur Tengah namun terdampak penutupan Selat Hormuz. Inisiatif ini dijadwalkan mulai berjalan pada Senin.
“Saya telah meminta perwakilan saya untuk memberi tahu bahwa kami akan berupaya maksimal untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan aman dari Selat tersebut,” tulis Trump.
“Dalam semua kasus, mereka menyatakan tidak akan kembali hingga kawasan tersebut aman untuk navigasi,” lanjut tulisan Trump itu.
Namun demikian, unggahan tersebut tidak menjelaskan secara rinci bagaimana langkah tersebut akan dilakukan.
Pengumuman ini muncul setelah Iran menyatakan pada Minggu bahwa pihaknya telah menerima tanggapan dari Amerika Serikat atas tawaran terbaru untuk pembicaraan damai.
Harga minyak pun turun, dengan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terakhir melemah sekitar 1,7 persen ke kisaran USD100 per barel.
Iran Diklaim Kirim Proposal Damai ke AS
Sebelumnya pada Jumat, Iran dilaporkan mengirimkan proposal perdamaian terbaru melalui mediator Pakistan, yang sempat mendorong optimisme investor bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat dapat tercapai.
Namun, Trump kemudian menyatakan tidak puas dengan tawaran tersebut dan menilai Iran hanya bersedia bernegosiasi karena tidak memiliki kekuatan militer lagi.
Harapan investor terhadap perkembangan di Timur Tengah serta kinerja laba kuartal pertama yang kuat telah mendorong pasar saham mencetak rekor baru dalam beberapa hari terakhir. Strategis kuantitatif Bank of America, Nigel Tupper, melihat alasan untuk tetap optimistis ke depan.
“Siklus laba global yang kuat serta sejumlah tema investasi yang masih berlanjut tetap mendukung kinerja pasar ekuitas global,” tulis Tupper dalam catatannya kepada klien pada Jumat.
Sementara itu, Kepala Strategi Investasi Wolfe Research, Chris Senyek, menilai kinerja solid dari perusahaan teknologi besar yang dikenal sebagai “Magnificent Seven” akan membuat tema kecerdasan buatan tetap dominan di pasar.
“Dengan kinerja laba perusahaan teknologi berkapitalisasi besar yang tetap kuat dan semakin memperkuat tema AI, kami menilai investor kemungkinan akan terus memburu saham teknologi yang dianggap unggul, termasuk di sektor semikonduktor dan memori,” ujarnya.(*)