KABARBURSA.COM – Harga batu bara global cenderung stabil pada perdagangan Kamis, 15 Mei 2025. Sentimen pasar energi masih dipengaruhi oleh pemulihan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, yang memberikan angin segar bagi sektor manufaktur Negeri Tirai Bambu.
Kesepakatan sementara antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia itu diyakini memberi ruang bagi lonjakan aktivitas industri yang selama ini tertahan oleh tensi perdagangan.
Harga batu bara Newcastle untuk kontrak pengiriman Mei tetap di level USD99 per ton, dan harga untuk Juni pun bertahan di USD101,9 per ton. Sementara kontrak Juli justru mencatat kenaikan tipis sebesar USD0,3 menjadi USD104,7 per ton.
Di pasar Eropa, batu bara Rotterdam juga mengalami penguatan. Harga kontrak Mei naik USD0,4 menjadi USD95, disusul Juni yang naik USD0,5 ke USD94,6, dan Juli naik lebih tinggi, sebesar USD1,25 ke posisi USD95,35.
Menurut laporan Oilprice, stabilnya harga batu bara ini bukan semata karena faktor pasokan dan permintaan, melainkan juga didorong sentimen global usai AS dan China menyepakati jeda perang dagang selama 90 hari. Kesepakatan tersebut mencakup penyesuaian ulang tarif secara menyeluruh selama masa perjanjian.
Pasar global merespons positif. Harga minyak mulai menguat, dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global pun mulai mereda, meskipun sifatnya masih sementara.
Salah satu indikator pemulihan yang paling mencolok terlihat dari aktivitas ekspor China. Hanya dua hari setelah kesepakatan diumumkan, pesanan kontainer dari China ke AS melonjak drastis hingga 277 persen.
Lonjakan tersebut diyakini akan mendongkrak kembali produksi pabrik yang selama ini melambat, sehingga kebutuhan energi, terutama dari sumber seperti batu bara dan gas, berpotensi kembali meningkat.
Meski saat ini pembangkit listrik tenaga angin dan surya di China tengah mencatatkan rekor kontribusi sebesar 39 persen pada kuartal I 2025, data ini dinilai sebagian besar tercipta karena turunnya aktivitas manufaktur sepanjang awal tahun.
Menurut lembaga pemantau energi Ember, angka itu naik 18 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan menjadi yang tertinggi sejauh ini.
Namun di balik pencapaian tersebut, ada catatan penting: seiring pulihnya sektor manufaktur, ketergantungan pada energi primer seperti batu bara diprediksi kembali meningkat. Hal ini karena batu bara, meskipun bukan energi bersih, masih menjadi andalan utama dalam menjawab kebutuhan beban dasar sistem kelistrikan yang besar dan stabil.
Biro Statistik Nasional China mencatat, permintaan listrik sempat turun 1,3 persen pada Januari dan Februari 2025, namun mulai membaik dan tumbuh 1,8 persen pada Maret.
Penurunan sementara pada pembangkit batu bara dan gas juga disebabkan naiknya kontribusi tenaga air serta cuaca yang relatif mendukung energi terbarukan. Namun dengan kebangkitan industri, arah tren konsumsi energi diperkirakan akan kembali mengarah ke atas.
Secara kapasitas, China kini mencatatkan perkembangan signifikan di sektor energi terbarukan. Total kapasitas terpasang pembangkit angin dan surya per April 2025 telah menembus 1.482 gigawatt, melebihi kapasitas pembangkit berbasis batu bara dan gas.
Angka ini merepresentasikan lebih dari 50 persen dari total kapasitas nasional. Namun, dari sisi pemanfaatan aktual, energi fosil masih tetap dominan terutama saat permintaan listrik melonjak.
Kestabilan harga batu bara dalam beberapa waktu terakhir juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap permintaan yang akan terus tumbuh. Pasar batu bara, meski terdampak oleh transisi energi global, tetap menjadi bagian penting dalam struktur energi negara-negara berkembang, terutama di kawasan Asia.
Dengan prospek manufaktur China yang kembali bergairah dan tensi dagang yang mereda, permintaan terhadap energi dasar seperti batu bara diperkirakan akan tetap kuat dalam jangka pendek.
Berdasarkan data historis dari Trading Economics, harga batu bara pernah menyentuh rekor tertinggi di angka US$457,80 per metrik ton, dan level terendahnya berada di kisaran US$48,40.
Rentang harga yang begitu lebar ini memperlihatkan betapa volatilnya komoditas batu bara, apalagi jika dikaitkan dengan sentimen pasar energi global, ketegangan geopolitik, serta pergeseran menuju energi terbarukan.
Pasar akan terus mencermati realisasi pemulihan industri serta arah kebijakan energi pemerintah China dalam menyikapi keseimbangan antara kebutuhan pertumbuhan dan transisi menuju energi hijau.
Harga Batu Bara Acuan Turun
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2025. Keputusan tersebut tercantum dalam Kepmen ESDM Nomor 175.K/MB.01/MEM.B/2025 yang diteken Menteri Bahlil Lahadalia pada Rabu, 14 Mei 2025.
Harga batu bara dengan nilai kalor tertinggi 6.322 GAR ditetapkan sebesar USD110,38 per ton. Angka ini turun signifikan dibanding harga di periode pertama Mei yang tercatat USD121,15 per ton. Batu bara jenis ini memiliki karakteristik kadar air total sebesar 12,26 persen, sulfur 0,66 persen, dan kandungan abu 7,94 persen.
Untuk kelas batu bara lainnya, penyesuaian harga juga terjadi. Batu bara kategori I dengan nilai kalor 5.300 GAR ditetapkan sebesar USD76,62 per ton, lebih rendah USD4,18 dari harga sebelumnya. Sementara itu, dua kategori dengan nilai kalor lebih rendah justru mengalami kenaikan harga.
HBA II (4.100 GAR) naik tipis ke USD50,58 per ton dari USD50,43, sedangkan HBA III (3.400 GAR) menguat menjadi USD35,42 per ton dari sebelumnya USD34,73.
Kondisi ini sejalan dengan tren pasar global. Data Trading Economics menunjukkan bahwa harga batu bara acuan Newcastle pada 15 Mei 2025 berada di kisaran USD99,82 per ton, mendekati ambang psikologis USD100.
Meski mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir, secara umum harga batu bara masih berada di bawah tekanan. Pada 23 April lalu, harga sempat jatuh ke titik terendah empat tahun terakhir di angka USD93,70 per ton.
Penguatan sementara ini dipicu oleh gangguan pasokan akibat cuaca buruk di Australia yang menghambat kegiatan ekspor. Namun secara keseluruhan, pelemahan permintaan global, khususnya dari Tiongkok, masih menjadi penekan utama harga. China sebagai konsumen batu bara terbesar dunia, belum menunjukkan peningkatan konsumsi yang berarti seiring pelemahan sektor industrinya.
Sementara itu, dari sisi suplai, pasar justru menghadapi lonjakan. Indonesia mencatat rekor produksi sebesar 836 juta ton sepanjang 2024. Angka ini 18 persen lebih tinggi dari target awal. Di waktu yang sama, pemerintah China juga bersiap menaikkan kapasitas produksi batu baranya sebesar 1,5 persen menjadi 4,82 miliar ton untuk tahun ini.
Lonjakan pasokan di tengah lesunya permintaan menciptakan ketimpangan yang cukup tajam di pasar batu bara global. Hal ini menjadi faktor utama yang mendorong penurunan harga kontrak berjangka batu bara, yang tercatat turun sekitar 20 persen sepanjang tahun 2025.
Meskipun transisi energi global ke arah sumber yang lebih bersih semakin kuat, batu bara masih menjadi komoditas penting dalam pemenuhan kebutuhan listrik di banyak negara, terutama negara berkembang.
Fluktuasi harga yang terjadi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri, yang harus menyesuaikan strategi mereka dalam menghadapi dinamika pasar yang tidak menentu.
Penyesuaian harga batu bara acuan nasional ini menjadi acuan penting bagi eksportir dan pelaku tambang dalam merancang strategi penjualan dan kontrak jangka pendek.
Dengan pasar global yang masih belum stabil, kehati-hatian tetap menjadi kunci, sambil mencermati perkembangan permintaan dari konsumen utama dan potensi gangguan suplai yang bisa kembali menggerakkan harga.(*)