Logo
>

Harga Minyak Global Melambung 3 Persen, Kesepakatan AS-Vietnam Pemicu

Harga minyak naik 3 persen dipicu ketegangan Iran-IAEA dan kesepakatan dagang AS-Vietnam, meski lonjakan stok minyak mentah AS sempat menahan laju penguatan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Minyak Global Melambung 3 Persen, Kesepakatan AS-Vietnam Pemicu
Harga minyak dunia melambung didukung kerja sama dagang antara AS-Vietnam. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia mencatat lonjakan tajam pada perdagangan Rabu, 2 Juli 2025 waktu New York.

Kenaikan terjadi setelah pasar mencermati dua perkembangan global yang memberi dorongan kuat, yaitu ketegangan baru antara Iran dan pengawas nuklir PBB serta tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Vietnam.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, ditutup naik USD2 atau 3 persen ke level USD69,11 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI), patokan harga di AS, juga melonjak 3,1 persen menjadi USD67,45 per barel. 

Keduanya menguat di tengah sentimen geopolitik yang memanas dan kabar positif dari arena perdagangan internasional.

Salah satu pemicu utama pergerakan harga datang dari Teheran. Iran secara resmi menangguhkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Keputusan tersebut diambil setelah pemerintahnya mengesahkan undang-undang yang mengatur bahwa inspeksi terhadap fasilitas nuklir hanya bisa dilakukan dengan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi negara itu. 

Langkah ini diambil Iran sebagai bentuk protes, dengan tudingan bahwa IAEA berpihak pada Barat dan memberi pembenaran atas serangan udara Israel.

Meski belum ada gangguan langsung terhadap pasokan minyak dari kawasan tersebut, pelaku pasar tak mengabaikan risiko geopolitik yang meningkat. 

"Langkah Iran menambah lapisan ketidakpastian. Meskipun belum berdampak langsung ke pasokan, sentimen pasar jelas merespons," ujar analis UBS Giovanni Staunovo.

Kesepakatan AS-Vietnam Tetapkan Tarif 20 Persen

Dari sisi lain dunia, kabar baik datang dari jalur perdagangan. Pemerintah AS dan Vietnam mengumumkan tercapainya kesepakatan tarif setelah negosiasi pada menit-menit terakhir. 

Kesepakatan ini menetapkan tarif 20 persen untuk sejumlah besar ekspor dari negara Asia Tenggara tersebut. Pasar merespons positif perkembangan ini, yang dianggap dapat meredakan ketegangan dagang dalam waktu dekat. 

"Kesepakatan ini memberi dorongan pada selera risiko investor," tulis analis dari Ritterbusch and Associates.

Namun, euforia pasar tidak berlangsung mulus sepanjang hari. Di sesi awal, kenaikan harga sempat terpangkas setelah laporan mingguan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan lonjakan tak terduga pada persediaan minyak mentah domestik. 

Stok minyak naik 3,8 juta barel menjadi 419 juta barel dalam sepekan, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang justru memperkirakan penurunan sebesar 1,8 juta barel.

Kekhawatiran pun muncul dari sisi permintaan. Data EIA menunjukkan konsumsi bensin turun menjadi 8,6 juta barel per hari, jauh di bawah ambang batas 9 juta bph yang biasanya menjadi indikator pasar bahan bakar yang sehat selama musim panas. 

“Kondisi seperti ini menimbulkan tanda tanya, apalagi di puncak driving season,” ujar Direktur Energi di Mizuho Bob Yawger.

OPEC+ Bersiap Tambah Produksi

Sementara itu, dari sisi suplai global, pasar juga menyoroti rencana OPEC+ untuk menambah produksi. 

Empat sumber di dalam kelompok tersebut menyebut kepada Reuters bahwa OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, akan menaikkan produksi sebesar 411.000 barel per hari pada Agustus. Jumlah ini sama dengan kenaikan yang sudah disepakati untuk bulan Mei, Juni, dan Juli.

Arab Saudi bahkan telah lebih dulu meningkatkan ekspor minyaknya pada Juni sebanyak 450.000 barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya. Itu merupakan kenaikan terbesar dalam lebih dari setahun, menurut data Kpler. 

Namun, secara keseluruhan, volume ekspor dari negara-negara OPEC+ masih relatif stabil sejak Maret. Analis memprediksi tren ini akan terus berlangsung selama musim panas, mengingat permintaan energi di kawasan Teluk cenderung meningkat akibat suhu ekstrem.

Pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Kamis waktu setempat. Laporan ini dinilai penting untuk mengukur kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Tony Sycamore dari IG Markets, jika data mengindikasikan pelemahan ekonomi, The Fed kemungkinan lebih agresif menurunkan suku bunga, yang bisa mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan energi secara keseluruhan.

Dengan latar belakang geopolitik yang memanas, sinyal pemulihan dari perdagangan global, serta campuran data stok dan konsumsi, harga minyak saat ini bergerak di bawah pengaruh berbagai dinamika yang saling bertabrakan. 

Kenaikan tajam hari ini menjadi pengingat bahwa pasar energi tetap rentan terhadap faktor eksternal yang bisa berubah sewaktu-waktu.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79