KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia kembali tergelincir tajam. Penurunan sebesar 2 persen ini menghapus seluruh kenaikan yang tercipta pada sesi perdagangan sebelumnya, seiring investor mencermati sejumlah variabel panas: ketegangan tarif antara Amerika Serikat dan India, eskalasi perang di Ukraina, serta bayang-bayang gangguan distribusi minyak dari Rusia.
Minyak mentah Brent kontrak Oktober 2025 ditutup melemah sebesar USD1,58 atau 2,3 persen ke level USD67,22 per barel — sehari setelah menyentuh harga tertinggi sejak awal Agustus. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan yang sama turun USD1,55 atau sekitar 2,4 persen, ditutup pada USD63,25 per barel.
“Dengan volatilitas tinggi akibat konflik Ukraina dan tekanan perang tarif, pelaku pasar akan tetap bersikap hati-hati. Mereka enggan mengambil posisi jangka panjang,” ujar Tamas Varga, analis senior di PVM Oil Associates. Ia memproyeksikan bahwa harga Brent akan terus bergerak dalam rentang USD65 hingga USD74 dalam waktu dekat.
Reli harga minyak yang terjadi pada awal pekan ini dipicu oleh meningkatnya risiko terhadap pasokan global. Serangan Ukraina yang menargetkan infrastruktur energi Rusia menjadi pemicunya, disertai ancaman sanksi tambahan dari Amerika Serikat terhadap sektor energi Moskow.
Ukraina, yang tengah menanggapi serangan balasan Rusia ke fasilitas listrik dan gasnya, menargetkan jalur vital distribusi minyak Rusia. Akibatnya, aktivitas kilang terganggu, ekspor terhambat, dan kelangkaan bensin mulai terasa di sejumlah kawasan Rusia.
Tiga sumber Reuters yang memahami situasi menyebut bahwa Moskow telah merevisi target ekspor minyak mentahnya dari pelabuhan-pelabuhan barat, dengan pengurangan sekitar 200.000 barel per hari pada Agustus. Keputusan ini diambil setelah serangan pesawat nirawak Ukraina memaksa Rusia mengalihkan pengiriman dan memperbesar cadangan dalam negeri.
Di Washington, Presiden Donald Trump memperbarui ancamannya. Ia menyatakan akan menjatuhkan sanksi lebih keras kepada Rusia apabila tak ada kemajuan berarti dalam upaya menuju perdamaian dalam dua pekan ke depan.
Meski begitu, ketegangan diplomatik ini diwarnai upaya negosiasi senyap. Sejumlah sumber menyatakan bahwa pejabat tinggi AS dan Rusia diam-diam membicarakan skema kerja sama energi dalam pertemuan informal selama rangkaian pembicaraan damai bulan ini.
Dari sisi Asia, India menghadapi tekanan tambahan. Pemerintahan Trump dikabarkan siap menggandakan tarif impor atas sejumlah produk asal India hingga menyentuh angka 50 persen — angka tertinggi yang pernah diberlakukan Washington terhadap New Delhi.
“Tarif AS terhadap India bisa diberlakukan secepatnya besok. Ini akan mempersempit ruang gerak ekspor India dan pada saat yang sama menambah tekanan pada arus ekspor minyak Rusia, yang telah terganggu akibat serangan udara Ukraina terhadap kilang-kilang utama,” tulis Ritterbusch and Associates dalam catatan analis mereka.
Kombinasi tekanan geopolitik, risiko pasokan, dan kebijakan proteksionis membuat pasar minyak global kian sulit diprediksi. Untuk saat ini, investor memilih menahan diri di tengah gempuran ketidakpastian yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.(*)