Logo
>

INDEF Pastikan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2025 Tetap 5 Persen

Ditulis oleh Ayyubi Kholid
INDEF Pastikan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2025 Tetap 5 Persen

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) pesimis target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sebesar 8 persen dapat tercapai.

    Ekonom senior INDEF, Didik J. Rachbini, memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan di angka 5 persen akibat kontraksi di sektor manufaktur.

    “Saya dan juga rekan-rekan saya para ekonom muda di INDEF sudah memprediksi tingkat pertumbuhan tahun ini dan prediksi tahun depan akan stagnan 5 persen,” ujar Didik dalam keterangannya, Kamis, 26 Desember 2024.

    Menurutnya, stagnasi ekonomi disebabkan karena tidak adanya kebijakan yang mampu mengangkat sektor industri dari jebakan deindustrialisasi dini. Sementara Purchasing Managers Index (PMI) sektor industri terus menurun dan berada di bawah level 50 persen.

    “Dengan sektor industri yang diabaikan tanpa kebijakan berarti seperti ini, apakah layak kita berharap tumbuh 8 persen?” tambahnya.

    Didik menegaskan, selama bertahun-tahun sektor industri hanya tumbuh sekitar 3-4 persen. Angka ini dinilai tidak cukup untuk mencapai pertumbuhan di atas 5 persen, apalagi memenuhi target 7 persen yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo atau target 8 persen yang diusung Presiden terpilih Prabowo Subianto.

    “Jika industri tumbuh rendah seperti ini, maka lupakan target yang tinggi tersebut. Selama pemerintahan Jokowi sektor ini diabaikan sehingga target pertumbuhan 7 persen sangat meleset,” kata Didik.

    Reindustrialisasi Jadi Kunci

    Didik menyoroti pentingnya reindustrialisasi berbasis sumber daya alam Indonesia sebagai langkah keluar dari jebakan deindustrialisasi dini.

    “Sektor industri telah terjebak ke dalam proses deindustrialisasi dini sehingga jebakan ini harus diterobos dengan reindustrialisasi berbasis sumber daya alam Indonesia yang kaya, bersaing dan memenangkan pasar internasional yang luas,” tegasnya.

    Ia mencontohkan strategi resource-based industry dan export-led industry yang pernah dijalankan pemerintah Indonesia pada 1980-an dan awal 1990-an. Strategi ini berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 7-8 persen.

    “Tanpa perubahan strategi seperti ini, mustahil mencapai target pertumbuhan 8 persen. Strategi industri yang bersaing di pasar internasional menjadi kunci berhasil atau tidaknya target tersebut,” jelas Didik.

    Meski begitu, Didik mengakui bahwa kondisi global yang melambat membuat penetrasi pasar internasional semakin sulit.

    “Karena itu, pasar-pasar baru di luar Eropa, China, dan Amerika Serikat perlu dijadikan sasaran perdagangan luar negeri Indonesia. Para duta besar harus diberi target meningkatkan ekspor dan menjadikan neraca dagang bilateral positif,” paparnya.

    Perlu Dorong Investasi Masuk

    Wakil Rektor Universitas Paramadina Handi Risza Idris, menyoroti tantangan besar di balik target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen adalah mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Menurut Handi, investasi tidak hanya menjadi sumber daya penting dalam meningkatkan permintaan agregat dan pendapatan nasional, tetapi juga menjadi faktor kritis untuk mendorong produktivitas melalui ekspansi kapasitas produksi dan penciptaan lapangan kerja.

    Pengeluaran pada barang modal, seperti mesin-mesin baru atau pembangunan infrastruktur, merupakan langkah strategis yang dapat memperbesar kapasitas ekonomi dan memastikan daya saing di tingkat global.

    Namun, potret ekonomi Indonesia menunjukkan sejumlah tantangan struktural yang perlu segera diatasi. Salah satu persoalan mendasar adalah kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang merupakan indikator utama investasi dalam sektor riil, masih tertinggal dibanding konsumsi rumah tangga.

    Pada 2023, kontribusi PMTB terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di angka 29 persen, mencerminkan pertumbuhan investasi sebesar 5,15 persen. Angka ini jauh dari cukup untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

    Tren penurunan kontribusi investasi terhadap PDB telah terjadi sejak 2015, di mana angka tertinggi yang pernah dicapai adalah 32,81 persen. Kini, angkanya turun menjadi 29,33 persen, sejalan dengan stagnansi kontribusi sektor manufaktur yang berada di kisaran 18-19 persen.

    Stagnansi ini menggarisbawahi perlunya upaya nyata untuk menghidupkan kembali daya tarik investasi, memperkuat sektor manufaktur, dan mendorong diversifikasi ekonomi.

    Handi menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan investasi yang sangat besar untuk memenuhi ambisi tersebut. Dalam lima tahun ke depan, diperlukan suntikan dana sebesar Rp13.528 triliun, di mana setidaknya 30 persen dari jumlah ini harus berasal dari investasi langsung.

    Hal ini hanya akan mungkin tercapai jika pemerintah mampu meningkatkan kualitas iklim investasi secara menyeluruh. Transparansi birokrasi, pelayanan publik yang proaktif, serta penguatan kualitas sumber daya manusia merupakan elemen fundamental untuk memastikan lingkungan yang kondusif bagi investasi, baik domestik maupun asing.

    Lebih jauh, indikator efisiensi investasi atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) juga menjadi perhatian penting. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, rasio ICOR harus diturunkan ke kisaran 3 hingga 4. Ini memerlukan strategi peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi modern, inovasi berkelanjutan, dan fokus pada riset serta pengembangan yang mendalam.

    Dengan penguatan kualitas sumber daya manusia dan teknologi sebagai tulang punggung, Indonesia dapat mendorong produktivitas total sebagai fondasi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

    Rencana besar ini, meski penuh tantangan, memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, tanpa implementasi kebijakan yang tepat dan konsisten, cita-cita tersebut dapat dengan mudah berubah menjadi sekadar retorika belaka.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Ayyubi Kholid

    Bergabung di Kabar Bursa sejak 2024, sering menulis pemberitaan mengenai isu-isu ekonomi.