KABARBURSA.COM - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio, menyoroti urgensi industrialisasi sebagai faktor kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Menurut Andry, sektor industri, khususnya industri manufaktur, memiliki peran krusial dalam mendorong pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa saat ini kinerja industri di Indonesia belum cukup kuat untuk mencapai target tersebut.
Andry menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat sebagai salah satu motor penggerak utama perekonomian, terutama karena konsumsi domestik masih menjadi pilar utama pertumbuhan.
"Pekerjaan utama kita adalah menjaga daya beli masyarakat karena konsumsi merupakan motor penggerak utama ekonomi kita. Dari sisi sektoral, kita harapkan industri manufaktur bisa kembali berjaya," ujar Andry kepada Kabarbursa.com, Rabu, 16 Oktober 2024.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri manufaktur saat ini, terutama di sektor-sektor padat karya. "Yang terjadi saat ini adalah kinerja industri manufaktur tidak cukup mampu mendorong perekonomian. Banyak subsektor industri, terutama yang padat karya, justru tertekan," jelasnya.
Kondisi ini, menurut Andry, berdampak langsung pada peningkatan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran. Ia mengungkapkan bahwa salah satu masalah utama adalah sulitnya menciptakan industri baru yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
"Saat ini sangat sulit untuk menciptakan industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan, industri yang sudah ada banyak yang tidak mampu bertahan dan malah berkontribusi pada peningkatan angka pengangguran," jelasnya.
Menurut Andry, jika kinerja industri tidak segera diperbaiki, Indonesia bisa menghadapi lonjakan pengangguran di masa depan. "Kinerja industri yang kurang baik ini menjadi bom waktu yang berpotensi meningkatkan pengangguran ke depannya," tambahnya.
Untuk menghadapi tantangan ini, Andry berharap pemerintahan Prabowo memiliki strategi yang solid untuk memperbaiki stabilitas sektor industri. "Saya harap Pak Prabowo memiliki rencana yang tepat agar industri bisa stabil terlebih dahulu, sehingga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja di masa mendatang," pungkasnya.
Upaya memperkuat industri di Indonesia dinilai sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor yang tidak padat karya dan meningkatkan daya saing global. Dengan demikian, industrialisasi diharapkan dapat menjadi solusi untuk menurunkan angka pengangguran sekaligus mencapai target ambisius pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Kinerja Manufaktur RI Makin Moncer
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa sektor manufaktur Indonesia terus menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
Buktinya, pada triwulan II tahun 2024, pertumbuhan PDB Indonesia mencapai 5,05 persen, lebih tinggi dibandingkan banyak negara anggota G20, seperti China, Rusia, dan Brasil. Industri pengolahan nonmigas tetap menjadi kontributor terbesar PDB nasional dengan 16,70 persen dan pertumbuhan sektor ini mencapai 4,63 persen.
Sementara itu, berdasarkan data World Bank, menunjukkan bahwa nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia dengan nilai USD255 miliar pada tahun 2023. Capaian ini menjadikan Indonesia unggul dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Vietnam, juga melampaui beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Prancis, dan Inggris.
“Performa sektor manufaktur yang prima tersebut juga dipacu oleh akselerasi penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0. Ini merupakan strategi kunci bagi Indonesia untuk menjadi negara 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita
Oleh karena itu, pentingnya transformasi menuju industri 4.0 telah dicanangkan pada program Making Indonesia 4.0 sejak tahun 2018, yang menjadi kunci utama untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.
Pada kesempatan ini, Menperin mengapresiasi laporan survei pada 76 industri yang menyandang gelar “Champion INDI 4.0” karena telah mencapai hasil positif dalam upaya melakukan transformasi industri 4.0. Industri champion ini telah memenuhi kriteria-kriteria transformasi yang meliputi penurunan konsumsi energi mencapai 4 persen-40 persen, peningkatan produktivitas sebesar 5 persen-22 persen, dan penurunan cost production 3 persen-78 persen.
Data Kemenperin
Kemenperin mengungkap data, di tengah tantangan geoekonomi dan geopolitik global, industri manufaktur Indonesia tetap berperan signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Pada triwulan III 2023, kontribusi sektor ini mencapai 16,83 persen. Pertumbuhan industri manufaktur menembus angka 5,02 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 4,94 persen.
Selain itu, industri manufaktur konsisten menjadi kontributor terbesar dalam nilai ekspor. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), periode Januari-November 2023 mencatat ekspor produk manufaktur mencapai lebih dari USD171,23 miliar.
Laporan safeguardglobal.com menyebut Indonesia masuk 10 besar penyumbang produk manufaktur dunia, satu-satunya negara ASEAN dalam daftar tersebut. Indonesia berkontribusi sebesar 1,4 persen kepada produk manufaktur global, naik dari posisi 16 empat tahun lalu.
Menperin optimistis performa industri manufaktur akan semakin menjulang di tahun naga kayu. “Kami memproyeksi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas 2023 sebesar 4,81 persen, dan menargetkan 5,80 persen di 2024,” ujarnya.
Untuk mencapai target pertumbuhan 5,80 persen di 2024, Kemenperin menyiapkan berbagai strategi. Fokusnya adalah program prioritas seperti pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kompetensi, restrukturisasi mesin dan peralatan bagi industri kecil dan menengah (IKM), serta penumbuhan wirausaha baru dan pengembangan IKM startup berbasis teknologi.
Upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing industri dilakukan melalui program sertifikasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), hilirisasi sumber daya alam di tiga sektor: industri berbasis agro, bahan tambang dan mineral, serta migas dan batubara. “Kami juga akan melaksanakan program bantuan pemerintah untuk pembelian KBLBB roda dua baru, pengembangan kawasan industri, serta fasilitasi sertifikasi industri hijau,” tambahnya. Anggaran Kemenperin dalam APBN 2024 sebesar Rp3,76 triliun.
Menperin bertekad mengoptimalkan penyerapan anggaran untuk program prioritas dalam pengembangan industri nasional. Pada 2023, anggaran Kemenperin mencapai Rp4,53 triliun, termasuk anggaran belanja tambahan (ABT) subsidi motor listrik sebesar Rp1,4 triliun. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.