Logo
>

MIND ID Tunjuk Bukit Asam (PTBA) Lanjutkan Proyek DME: Harga Batu Bara Hari ini

Di tengah harga batu bara dunia yang terkoreksi, pemerintah mempercepat proyek DME sebagai bagian dari agenda hilirisasi dan substitusi impor energi, dengan implikasi struktural bagi emiten tambang nasional.

Ditulis oleh Yunila Wati
MIND ID Tunjuk Bukit Asam (PTBA) Lanjutkan Proyek DME: Harga Batu Bara Hari ini
Ilustrasi tambang batu bara. Foto: AI untuk KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pemerintah Indonesia sedang mempercapat agenda menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), yang sebelumnya sempat gagal. Agenda ini dijalankan di tengah harga batu bara dunia yang terkoreksi.

    Diketahui, pada penutupan perdagangan pekan kemarin, Jumat, 9 Januari 2025, harga batu bara acuan Ice Newcastle turun tipis 0,10 persen ke level USD 107,30 per ton. Secara teknis, pelemahan ini memang sangat marginal, tetapi tetap penting sebagai sinyal bahwa pasar global masih berada dalam fase penyesuaian. 

    Sebenarnya, harga di level ini mencerminkan kondisi pasar yang relatif stabil, namun masih dengan bias melemah, seiring normalisasi permintaan dari negara-negara besar pascakrisis energi Eropa dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

    Batu bara dalam fase transisi. Namun, harga yang bertahan di kisaran USD 100–110 per ton menunjukkan bahwa pasar sudah meninggalkan fase ekstrem pascapandemi dan konflik geopolitik. Namun, untuk disebut masuk dalam fase oversupply yang agresif, belum terjadi. 

    Terkait dengan kelanjutkan program DME, ada kerja sama antara MIND ID dan Pertamina. Kerja sama ini menjadi sinyal bahwa proyek tersebut tidak lagi sekadar wacana, tetapi mulai masuk ke fase operasional dan eksekusi.

    MIND ID menunjut PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai pemasok dan Pertamina sebagai offtaker. Dari sisi ekonomi energi, rencana gasifikasi DME ini sangat kuat. Alasannya, konsumsi LPG nasional diproyeksikan mencapai 10 juta metrik ton pada 2026, sementara produksi domestik hanya 1,3–1,4 juta mt. 

    Artinya, Indonesia masih bergantung pada impor dalam skala besar. Konsumsi besar ini menekan langsung neraca perdagangan dan subsidi energi. Dalam konteks ini, DME bukan sekadar proyek industrial, melainkan instrumen fiskal dan geopolitik. Jika berhasil, ia berpotensi menekan impor, mengurangi tekanan APBN, dan memperkuat kemandirian energi.

    Rencana Presiden Prabowo untuk melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi, termasuk DME, pada awal 2026 memperkuat persepsi bahwa proyek ini kini berada dalam prioritas politik tingkat tinggi. 

    Dalam banyak kasus, proyek yang gagal di masa lalu seringkali kandas bukan karena teknologinya, tetapi karena lemahnya dukungan politik, ketidakpastian regulasi, dan ketergantungan pada investor asing. 

    Fakta bahwa proyek ini sempat ditinggalkan Air Products dari AS adalah contoh nyata. Kini, sinyal bahwa mitra baru dari China sedang dijajaki menunjukkan pergeseran pendekatan: lebih pragmatis, lebih fleksibel, dan lebih berorientasi eksekusi.

    Dari sudut pandang sentimen pasar, kombinasi antara harga batu bara yang relatif stabil dan dorongan kuat hilirisasi ini menciptakan dinamika baru bagi emiten batu bara nasional, terutama PTBA. 

    Batu bara tidak lagi hanya dinilai dari siklus ekspor dan fluktuasi harga global, tetapi mulai diposisikan sebagai bahan baku industri energi domestik. Ini mengubah cara investor membaca risiko jangka panjang sektor ini. 

    Karena, ketika batu bara dijadikan input untuk produk substitusi impor seperti LPG, volatilitas harga global menjadi kurang dominan dalam penilaian fundamentalnya.

    Singkatnya, penurunan tipis harga batu bara dunia pada level USD107 per ton tidak mengganggu narasi besar yang sedang dibangun pemerintah. Justru, ini mempertegas bahwa proyek DME tidak bergantung pada reli harga batu bara, melainkan pada logika substitusi impor, kemandirian energi, dan stabilitas pasokan. 

    Jika proyek ini benar-benar dieksekusi, maka batu bara Indonesia akan mengalami transformasi peran, dari komoditas ekspor siklikal menjadi fondasi industri energi domestik.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79