KABARBURSA.COM - Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih bertahan meski ancaman resesi makin jelas di depan mata. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada bulan lalu, perusahaan-perusahaan AS menambah 151.000 lapangan kerja. Angka ini naik dari revisi 125.000 pekerjaan di Januari, tetapi masih di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan penciptaan 160.000 pekerjaan.
Sementara itu, tingkat pengangguran naik tipis menjadi 4,1 persen setelah jumlah warga AS yang menganggur bertambah sebanyak 203.000 orang. Sektor kesehatan, keuangan, serta transportasi dan pergudangan masih mengalami pertumbuhan lapangan kerja. Namun, sektor restoran dan bar kehilangan 28.000 pekerjaan di Februari. Angka ini melanjutkan tren negatif setelah kehilangan hampir 30.000 pekerjaan pada Januari.
Pemangkasan anggaran oleh pemerintah federal AS mulai terasa. Lembaga pemerintah memangkas 10.000 pekerjaan, jumlah terbesar sejak Juni 2022. Namun, analis memperkirakan efek pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di lembaga pemerintah baru akan terlihat dalam laporan ketenagakerjaan bulan Maret.
Ekonom senior di Wells Fargo, Sarah House, mengatakan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat, tetapi jauh dari kondisi setahun atau dua tahun lalu. Ia memperingatkan ancaman resesi semakin nyata seiring pemotongan belanja pemerintah, PHK di sektor publik, serta perang dagang yang terus memanas.
"Kita melihat banyak tekanan di pasar tenaga kerja yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemangkasan belanja pemerintah akan berdampak pada kontraktor dan lembaga nonprofit, sementara perang dagang yang meningkat juga memperberat beban ekonomi," ujar House, dikutip dari AP di Jakarta, Jumat 7 Maret 2025.
Sejak 2020, perekonomian AS mengalami pemulihan yang lebih kuat dari ekspektasi setelah dihantam pandemi. Namun, hal ini juga memicu lonjakan inflasi yang mencapai 9,1 persen pada Juni 2022, level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun. Bank Sentral AS (The Fed) merespons dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 11 kali sepanjang 2022-2023 sehingga membuatnya berada di level tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Kebijakan ini berhasil mendinginkan inflasi ke 2,4 persen pada September 2024 dan memungkinkan The Fed memangkas suku bunga tiga kali sepanjang tahun lalu. Namun, penurunan inflasi kini mulai melambat sehingga bank sentral menunda pemangkasan suku bunga lanjutan.
Pasar Kerja Mulai Melambat
Meskipun masih cukup kuat, pasar kerja AS tak lagi sekuat tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang 2024, rata-rata penciptaan lapangan kerja mencapai 168.000 per bulan. Angka ini jauh lebih rendah dibanding 216.000 pekerjaan per bulan pada 2023, 380.000 pada 2022, dan rekor 603.000 pada 2021 saat ekonomi bangkit dari pandemi.
Kenaikan upah rata-rata per jam hanya 0,3 persen di Februari, lebih rendah dari kenaikan 0,4 persen pada Januari. Data ini semakin memperkuat pandangan bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu.
Gubernur The Fed, Chris Waller, bahkan menegaskan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Maret sangat kecil kemungkinan terjadi. The Fed ingin melihat lebih banyak data sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Namun, jika pasar tenaga kerja mulai melemah signifikan dan angka pengangguran terus meningkat, tekanan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga akan semakin besar.
Sinyal Beragam dari Dunia Usaha
Di tengah ketidakpastian ekonomi, beberapa sektor tetap optimistis. Revive Environmental Technology LLC, sebuah perusahaan di Columbus, Ohio, tetap agresif dalam ekspansi. Chief Commercial Officer Revive, Rick Gillespie, mengatakan mereka akan merekrut 10 hingga 20 pekerja baru dalam beberapa bulan ke depan untuk menambah tenaga kerja mereka yang kini berjumlah 34 orang. Revive memiliki teknologi penghancuran bahan kimia beracun PFAS yang sering ditemukan di alat masak anti-lengket, jaket tahan air, dan limbah industri.
Ekonomi Amerika Serikat mulai mengalami guncangan. Pemilik waralaba perusahaan perekrutan Patrice & Associates, Sheela Mohan-Peterson, melihat semakin banyak eksekutif tingkat atas dari perusahaan bioteknologi dan teknologi yang mengirimkan lamaran kerja kepadanya. "Kami bicara soal orang-orang di level C-suite," kata Mohan-Peterson, merujuk pada jabatan tinggi seperti Chief Financial Officer (CFO), Chief Technology Officer (CTO), bahkan beberapa CEO.
Sebelumnya, hanya ada satu lamaran dari eksekutif tingkat atas per bulan. Namun, sejak akhir tahun lalu, jumlahnya meningkat menjadi satu atau dua per minggu. Tren ini semakin cepat dalam sebulan terakhir. Menurutnya, ini adalah dampak dari pemotongan anggaran federal yang berantakan.
"Terutama startup, mereka bergantung pada hibah federal untuk berkembang dan sekarang mulai melihat pendanaan itu menghilang atau terancam hilang," ujarnya. "Mereka harus memangkas eksekutif dengan gaji tinggi demi menghemat biaya karena tak bisa lagi mengandalkan hibah tersebut."
Mohan-Peterson yang sebelumnya bekerja sebagai pengacara di industri bioteknologi ini mulai menjalankan bisnis perekrutannya pada 2023. Saat itu, pasar tenaga kerja masih sangat kuat. "Tahun 2023 luar biasa. Banyak lowongan kerja," katanya. Namun, situasi berubah pada 2024. Perlambatan mulai terasa meskipun awalnya hanya sedikit. "Menjelang akhir tahun, semakin sulit menemukan posisi untuk pekerja yang sangat terampil," katanya.(*)