KABARBURSA.COM – Pergantian tongkat estafet di tubuh Berkshire Hathaway mulai memunculkan tanda tanya besar di kalangan investor global. Sosok penerus Warren Buffett, Greg Abel, disebut-sebut tengah menimbang langkah strategis pertamanya sejak resmi memimpin konglomerasi itu awal bulan ini.
Isyarat perubahan arah datang dari pengumuman Kraft Heinz kepada otoritas pasar modal Amerika Serikat. Perusahaan makanan raksasa itu menyampaikan bahwa pemegang saham terbesarnya, Berkshire Hathaway, membuka kemungkinan untuk melepas sebagian atau seluruh kepemilikan sahamnya yang mencapai sekitar 325 juta lembar. Pernyataan ini segera memicu kegelisahan pasar dan menyeret saham Kraft Heinz turun hampir 4 persen dalam satu hari perdagangan.
Kepemilikan tersebut bukanlah investasi biasa. Buffett bersama firma investasi Brasil 3G Capital berada di balik penggabungan Kraft dan Heinz pada 2015. Saat itu, keduanya yakin merek-merek legendaris seperti Heinz, Kraft, dan Oscar Mayer memiliki daya tahan jangka panjang yang sulit ditandingi pesaing. Namun seiring waktu, keyakinan itu mulai terkikis oleh perubahan selera konsumen yang beralih ke produk segar dan merek toko yang lebih murah.
Berkshire bahkan sempat memangkas nilai investasinya di Kraft Heinz sebesar USD3,76 miliar pada pertengahan 2024, sebuah pengakuan tak langsung bahwa benteng keunggulan merek yang dulu dibanggakan ternyata tidak sekuat dugaan awal. Buffett juga diketahui menyimpan kekecewaan terhadap rencana manajemen Kraft Heinz yang hendak memecah perusahaan menjadi dua entitas terpisah. Ketegangan ini berujung pada mundurnya dua perwakilan Berkshire dari jajaran direksi Kraft Heinz tahun lalu.
Meski begitu, rencana penjualan ini tetap tergolong langkah yang jarang terjadi dalam sejarah panjang Berkshire. Selama lebih dari enam dekade memimpin, Buffett dikenal enggan melepas bisnis yang telah dibelinya, bahkan ketika prospek usaha tersebut meredup. Karena itu, sinyal potensi divestasi ini langsung dibaca sebagai kemungkinan pergeseran filosofi di bawah kepemimpinan Abel.
Berkshire sendiri memilih bungkam ketika dimintai tanggapan soal kemungkinan penjualan tersebut. Hingga kini belum ada bukti bahwa aksi jual sudah dimulai. Namun sejumlah analis menilai sinyal ini bisa menjadi awal dari peninjauan menyeluruh atas portofolio raksasa Berkshire yang nilainya melampaui USD300 miliar. Selain saham, konglomerasi ini juga menaungi bisnis asuransi seperti GEICO, utilitas energi, operator kereta api BNSF Railway, hingga beragam perusahaan manufaktur dan ritel.
Sejumlah pengamat pasar membaca gaya kepemimpinan Abel berpotensi berbeda dari pendahulunya. Jika transaksi penjualan Kraft Heinz benar-benar terealisasi, langkah itu bisa menjadi penanda perubahan pola pikir korporasi. Selama ini, Berkshire dikenal agresif membeli namun hampir tidak pernah menjual. Di bawah Abel, setiap unit usaha kemungkinan akan dievaluasi ulang dengan standar kelayakan yang lebih ketat, dan aset yang dinilai tak lagi memenuhi target bisa saja dilepas.
Abel sejatinya bukan figur baru di dalam organisasi. Sejak 2018, ia telah mengelola seluruh bisnis non-asuransi Berkshire. Namun statusnya sebagai CEO yang baru efektif per 1 Januari membuat setiap geraknya kini berada di bawah sorotan. Buffett memang masih menjabat sebagai ketua dewan, tetapi pasar ingin melihat sejauh mana Abel akan menorehkan jejaknya sendiri di konglomerasi legendaris tersebut.
Sebagian investor justru menyambut kemungkinan pelepasan saham Kraft Heinz dengan sikap pragmatis. Bagi mereka, aset ini dianggap sebagai pilihan paling mudah untuk dirapikan lebih dulu. Namun tantangan teknis juga tidak kecil. Melepas ratusan juta saham di pasar terbuka berisiko menekan harga secara drastis. Karena itu, muncul spekulasi bahwa Berkshire mungkin menunggu pembeli besar yang sanggup menyerap kepemilikan tersebut sekaligus.
Di sisi lain, Buffett sebelumnya telah menegaskan bahwa Berkshire tidak akan menerima penawaran penjualan blok saham jika tidak disertai perlakuan yang sama bagi seluruh pemegang saham Kraft Heinz. Sikap ini mempersempit opsi transaksi dan memperpanjang teka-teki mengenai bagaimana babak baru hubungan Berkshire dan Kraft Heinz akan berakhir.
Yang jelas, sinyal kecil dari laporan regulator ini sudah cukup untuk mengguncang pasar dan memunculkan satu pertanyaan besar. Apakah era Greg Abel akan menjadi masa ketika Berkshire mulai berani berpisah dengan warisan lama yang tidak lagi sejalan dengan arah masa depan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.