KABARBURSA.COM – Permata Bank mencatat lonjakan rasio dana murah (CASA) menjadi 63,9 persen pada akhir 2025. Capaian tersebut didapat seiring pertumbuhan CASA sebesar 20,1 persen secara tahunan.
Capaian ini diklaim mampu memperkuat struktur pendanaan bank di tengah persaingan likuiditas industri perbankan.
Peningkatan rasio CASA tersebut terjadi seiring pertumbuhan simpanan nasabah yang naik 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp192,8 triliun hingga akhir Desember 2025. Pertumbuhan dana murah menjadi penopang utama kenaikan dana pihak ketiga bank sepanjang tahun lalu.
Kinerja pendanaan tersebut berjalan seiring upaya bank menjaga struktur neraca tetap sehat, yang tercermin dari rasio Loan-to-Deposit (LDR) di level 84,5 persen pada akhir 2025.
Selain itu, rasio likuiditas berdasarkan ketentuan Basel III juga tetap berada jauh di atas batas minimum regulasi, dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) rata-rata mencapai 296,5 persen serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 126,8 persen.
Secara keseluruhan, Permata Bank mencatat total aset tumbuh 3,6 persen secara tahunan menjadi Rp268,3 triliun pada akhir 2025. Di sisi kinerja, total pendapatan bank naik 3,8 persen menjadi Rp12,6 triliun, sementara laba setelah pajak tercatat Rp3,6 triliun.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan kinerja bank sepanjang tahun lalu mencerminkan upaya menjaga pertumbuhan dengan pendekatan yang berhati-hati di tengah dinamika ekonomi.
Menurutnya, di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang tahun 2025, Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan.
“Kinerja kami mencerminkan fundamental yang resilien – terlihat dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah. Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari-hari, bisnis, dan keluarga mereka,” ujar Meliza dalam keterangan tertulis, Kamis, 12 Februari 2026.
Menurutnya, melalui penguatan kapabilitas digital, inovasi produk, dan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan. “Kami membangun bank yang bertumbuh secara bertanggung jawab, tetap dekat dengan nasabah, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Meliza.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit bank tumbuh 5,5 persen secara tahunan menjadi Rp163,3 triliun, dengan kualitas kredit tetap terjaga pada rasio NPL Gross sebesar 2,1 persen. Pertumbuhan kredit terutama ditopang segmen korporasi yang naik 11,2 persen menjadi Rp99,6 triliun.(*)