Logo
>

Populasi Sapi Perah Rendah, Peternak Keluhkan Minimnya Harga Susu

Ditulis oleh KabarBursa.com
Populasi Sapi Perah Rendah, Peternak Keluhkan Minimnya Harga Susu

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) turut mengajak para peternak sapi perah untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicangankan Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Dalam hal ini, peran peternak diharapkan bisa menyediakan susu yang berkualitas dan berkelanjutan.

    Kendati begitu, harga susu sapi segar masih menjadi persoalan yang dikeluhkan para peternak sapi perah dalam negeri. Padahal, harga susu sapi segara yang ideal secara otomatis bisa memacu para peternak menambah populasi ternaknya.

    Berdasarkan hasil riset Dewan Pakar Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf, harga susu yang sesuai dengan perhitungan untung dan rugi peternak menjadi salah satu penentu populasi sapi dalam negeri.

    "Hasil riset saya, harga itu paling menentukan untuk meningkatkan populasi. Jadi kalau harga bagus, kondisinya ideal, kan peternak otomatis pelihara sapi," kata Rochadi saat dihubungi KabarBursa.com, Jum'at, 27 September 2024.

    Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi perah dalam negeri mengalami penurunan jumlah. Merujuk data pada 2022, populasi sapi perah ada sebanyak 507.075 ekor. Angka tersebut menurun jika dibandingkan tahun 2021 sebesar 582.169 ekor sapi perah.

    Adapun berdasarkan data Kementan, program MBG sendiri membutuhkan sekitar 2,15 juta ekor sapi perah per tahun. Adapun Kementan sendiri berencana melakukan impor sapi perah dari Australia sebanyak 100.000 ekor, New Zealand 50.000 ekor, Brazil 1,5 juta ekor, dan Amerika Serikat 500 ribu ekor.

    Rochadi menilai pemerintah perlu memperbaiki harga susu sapi segar saat ini. Diketahui, harga susu sapi di peternak saat ini sebesar Rp6.000 per liter. Dia menilai, ketetapan harga susu tersebut tidak membawa keuntungan bagi peternak.

    Rochadi menilai idealnya harga susu sapi segar sebesar Rp10.000 per liter. Dengan kondisi harga yang ideal tersebut, Rochadi menilai tidak hanya otomatis menambah populasi sapi perah, tetapi juga menekan harga impor susu lantaran peternak menambah jumlah ternaknya.

    "(Harga) Pasaran pun sekarang di atas Rp10.000 per liter. Di peternak kan harga Rp6.000-Rp5.000 per liter. Nah ini rantai nilainya diperbaiki, rantai pasoknya diperbaiki," ungkapnya.

    Adapun berdasarkan data BPS, produksi susu sapi dalam tiga tahun terakhir mengalami penyusutan. Pada tahun 2021, BPS mencatat produksi susu sapi segar sebanyak 946.388,17 ton, kemudian menyusut menjadi 824.273,20 ton di tahun 2022. Sementara pada tahun 2023, produksi susu sapi meningkatkan meski tidak signifikan, yakni sebanyak 837.223,20 ton.

    Ajak Peternak Sukseskan MGB

    Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, mengajak serta peternak sapi untuk mendukung penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Prabowo Subianto. Dalam kesempatan tersebut, Amran berharap peran Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) dalam menyediakan daging dan susu sapi yang berkualitas dan berkelanjutan.

    Menurut Amran, program tersebut bukan sekedar program biasa karena terdapat potensi besar terutama dalam memperkuat ekonomi rakyat dan menjadikan Indonesia swasembada. Dia meyakini, kolaborasi bersama peternak dapat membawa Indonesia mencapai swasembada.

    "Mulai hari ini kita harus mengubah mindset untuk sukses untuk swasembada kalau kita bergerak bersama," kata Amran dalam keterangannya, Jum'at, 20 September 2024.

    Amran menuturkan, Prabowo Subianto memiliki perhatian yang besar terhadap petani dan peternak terutama dalam memenuhi pasokan daging dalam negeri. Karenanya, dia menilai komoditas daging yang menjadi bagian komponen gizi protein dapat ditingkatkan menjadi lebih besar lagi.

    "Dulu kita ada program Inseminasi Buatan dan kemudian ada program bibit unggul. Nah saya ingin program-program ini juga kembali jalan agar kita siap dengan berbagai program yang dijalankan bapak presiden terpilih Prabowo Subianto," katanya.

    Amran meyakini asosiasi peternak dapat membantu pemerintah mewujudkan swasembada daging dan menghentikan kebijakan impor. Artinya, tugas yang diemban ke depan hanya fokus pada pengembangbiakan dan penggemukan sapi nasional.

    "Jadi ke depan untuk kita mencapai swasembada itu harus memiliki mimpi tapi juga aksi. Jangan hanya mimpi tapi tidak aksi. Ingat, ini momentum emas, di mana ada presiden memiliki perhatian luar biasa terhadap peternak," katanya.

    Impor Sapi Melonjak

    BPS mencatat adanya peningkatan impor sapi atau lembu hidup pada Agustus 2024, naik 44,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini muncul menjelang pelantikan Prabowo Subianto sebagai presiden yang memiliki program unggulan susu gratis.

    Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebutkan secara bulanan (month-to-month), impor sapi ini justru mengalami penurunan sebesar 22,09 persen. “Impor binatang hidup jenis lembu kalau di HS-nya itu secara bulanan turun 22,09 persen, sedangkan secara tahunan naik 44,09 persen. Dan secara kumulatif naik 40,22 persen,” ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa, 17 September 2024.

    Berdasarkan data BPS, sapi impor ini mayoritas berasal dari Australia. Pada Agustus 2024, Indonesia mengimpor sapi senilai 44,75 juta dolar AS dari negara tersebut, setara dengan sekitar 686,15 miliar rupiah. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan Juli 2024 yang mencapai 57,44 juta dolar AS.

    Secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2024, total impor sapi mencapai 340,23 juta dolar AS, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 242,65 juta dolar AS. Volume impor sapi pun turut melonjak, mencapai 129.735 ton pada tahun 2024, naik dari 81.248 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

    Meningkatnya impor sapi ini juga berdampak pada neraca perdagangan Indonesia dengan Australia, mencatatkan defisit senilai 549,7 juta dolar AS. Meskipun demikian, defisit ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 600 juta dolar AS dan Agustus 2023 sebesar 678,6 juta dolar AS.

    Sebelumnya, sapi menjadi salah satu komoditas penting untuk meningkatkan produksi susu di Indonesia. Program susu gratis menjadi salah satu prioritas presiden terpilih Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming. Pemerintah bahkan berencana mendatangkan 1,3 juta sapi perah dari luar negeri guna mendukung program tersebut.

    Kementerian Pertanian baru-baru ini mengumumkan kerja sama investasi untuk pengembangan 100.000 ekor sapi perah di Indonesia. Kerja sama ini akan dilakukan antara PT Asiabeef Biofarma Indonesia (Asiabeef) dan Agropecuaria 31 (31 Group) dengan nilai investasi mencapai 4,5 triliun rupiah.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    KabarBursa.com

    Redaksi