KABARBURSA.COM - Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan beruntun terhitung sejak bulan Mei 2020. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dalam News Letter Ekspor Impor edisi Oktober 2024, neraca perdagangan pada September 2024 mencatat surplus sebesar USD3,26 miliar.
Angka ini meningkat 17,37 persen dibandingkan surplus Agustus 2024 sebesar USD2,78 miliar. Surplus September terdiri dari defisit neraca migas sebesar USD1,36 miliar–turun 5,97 persen dari Agustus–dan surplus neraca nonmigas sebesar USD4,62 miliar, naik 9,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan surplus nonmigas September 2024 didorong oleh penurunan impor nonmigas sebesar 9,55 persen menjadi USD16,30 miliar. Di sisi lain, ekspor nonmigas mencapai USD20,91 miliar, turun 5,96 persen. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari-September 2024 mencapai USD21,98 miliar, terdiri dari surplus nonmigas USD37,03 miliar dan defisit migas sebesar USD15,05 miliar.
Namun, angka kumulatif itu menunjukkan pelemahan sebesar 20,71 persen secara tahunan. Penyebabnya adalah peningkatan defisit neraca migas sebesar 7,68 persen serta pelemahan surplus neraca nonmigas sebesar 11,20 persen. Tren surplus sejak Mei 2020 berlanjut hingga September 2024, mencatatkan rekor 53 bulan berturut-turut. Dengan surplus terbaru sebesar USD3,26 miliar, Indonesia berhasil mempertahankan posisi positif meski nilai tukar rupiah masih belum stabil.
Akan tetapi, surplus neraca perdagangan yang raih Indonesia dianggap semu lantaran kondisi tersebut tidak berdampak signifikan pada posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di samping itu, kinerja ekspor Indonesia juga masih didominasi oleh sektor hulu. Sementara di sektor hilir, kinerja ekspor Indonesia masih tertinggal beberapa negara tetangga.
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, mengatakan keterlambatan proses administrasi industri di Indonesia turut mempengaruhi kinerja ekspor di sektor hilir. Keterlambatan ini terjadi disebabkan oleh proses administrasi yang belum berjalan secara efisien sehingga menghambat kelancaran pengembangan usaha.
“Tentunya ini akan berpengaruh pada minat investor,” kata Reza kepada KabarBursa.com, Kamis, 14 November 2024.
Reza menjelaskan, investor membutuhkan kepastian hukum, aturan, dan proses yang efisien sehingga menarik untuk berinvestasi di sektor hilir. Jika investor menilai potensi hilir kurang menarik, besar kemungkinan potensi investasi Indonesia akan beralih ke hulu, bahkan mengalir ke asing.
“Bisa pindah ke negara tetangga yang mungkin bisa menawarkan proses yang lebih efisien, lebih mudah, dan lebih cepat. Apalagi kita mau bangun hilirisasi ini kan harus jelas biaya set-up-nya, benefit yang akan didapat, gimana maintenance-nya, dan lainnya,” kata dia.
Reza berharap pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto bisa mempercepat proses hilirisasi. Dengan begitu, negara akan mendapatkan nilai lebih dari proses pengolahan bahan baku tersebut.
Sepanjang Masih Proses, Minat Investor akan Tumbuh
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, berbeda pendapat. Ia menilai kinerja ekspor sektor hilir masih sangat bergantung pada segmentasi komoditas. Indonesia sendiri, kata dia, memiliki potensi di sektor pertambangan kendati masih tertinggal oleh Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Tapi itu bukan persoalan yang menggerus minat investor. Nafan menilai investor akan tetap melihat prospek emiten-emiten yang berkomitmen pada aspek hilirisasi produknya. Keyakinan itu juga didorong dengan komitmen pemerintah Indonesia yang tak henti-hentinya mendorong hilirisasi di berbagai sektor.
“Paling tidak, selama hilirisasi dijalankan terus (oleh pemerintah dan swasta), pasar atau para pelaku investor melihat bahwasanya trend foreign investment di tanah air itu terus menunjukkan tren yang meningkat,” kata Nafan kepada KabarBursa.com, Kamis, 14 November 2024.
Komitmen hilirisasi bisa dibuktikan sejak era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi pernah meminta agar ekspor bahan mentah ke beberapa negara funds economist dihentikan. Langkah tersebut dianggap mampu membawa investasi dari para pelaku investor asing. “Jadi itu meningkatkan foreign investment,” kata Nafan.
[caption id="attachment_99658" align="alignnone" width="1600"] Tangkapan layar - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan sambutan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2024 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat, 16 Agustus 2024. Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan Indonesia telah mengambil langkah besar untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah dengan tidak lagi mengekspor bahan mentah. Foto: YouTube DPR RI.[/caption]
Di samping itu, keterlambatan proses hilirisasi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh political will. Pengaruh tersebut, kata Nafan, berdampak pada implementasi proses hilirisasi yang saat ini dilakukan secara bertahap. “Kalau misalnya diakselerasikan, terjadi akselerasi. Tentu ini juga akan berpengaruh positif terhadap terciptanya sumber pertumbuhan ekonomi baru,” kata dia.
Butuh Waktu Lama
Dihubungi terpisah, Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, tak menampik kinerja ekspor sektor hilir Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga. Ia mengatakan akselerasi sektor hilirisasi membutuhkan waktu yang cukup lama.
Namun, Rully menilai kinerja ekspor sektor hilir tidak terlalu mempengaruhi minat investor. “Masih butuh waktu cukup lama untuk mendorong ekspor barang-barang hilir. Namun hal ini sendiri tidak terlalu besar pengaruhnya ke minat investor,” kata Rully kepada KabarBursa.com, Kamis, 14 November 2024.
Menurut Rully, emiten yang terlibat di sektor hilir biasanya ingin mempercepat belanja modal (Capital Expenditure). Belanja modal ini mencakup dana yang digunakan perusahaan untuk membeli, meningkatkan, atau merawat aset fisik yang mendukung operasional bisnis mereka. Di sisi lain, emiten di sektor tersebut juga perlu melakukan riset lebih jauh untuk memanfaatkan potensi hilirisasi.
“Salah satu cara yang paling penting adalah mempercepat capex (capital expenditure) serta melakukan research,” tutupnya.
Minim Ekspor Produk Hilir
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ariyo D. P. Irhamna, sebelumnya mengatakan ekspor Indonesia selama ini masih didominasi oleh sektor hulu.
Hal ini disebabkan kurangnya upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi yang sejalan dengan teknologi dan inovasi. “Kita tidak menguasai teknologi inovasi sehingga masih tergantung dengan inovasi teknologi investasi luar negeri,” kata Ariyo kepada KabarBursa.com, Selasa, 12 November 2024.
Ariyo merujuk pada data BPS yang mencatat kinerja ekspor Indonesia berdasarkan Kode HS. Data September 2024, misalnya, menunjukkan produk-produk dengan kode HS rendah, yang mewakili sektor hulu, masih menyumbang sebagian besar berat ekspor.
Misalnya, ikan, krustasea, dan moluska, mencatat nilai ekspor sebesar USD339,85 juta dengan berat mencapai 73,53 juta kilogram. Komoditas ini menjadi salah satu unggulan sektor hulu. Selain itu, kategori binatang hidup memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar USD360,23 ribu dengan berat 31,06 ribu kilogram. Komoditas ini mencerminkan ciri khas produk mentah dari sektor hulu yang nilai ekonominya rendah dibandingkan dengan produk yang telah diolah lebih lanjut.
[caption id="attachment_99449" align="alignnone" width="2492"] Data ekspor dan impor Indonesia berdasarkan kategori produk Kode HS pada September 2024. Data menunjukkan dominasi ekspor produk sektor hulu seperti ikan, krustasea, dan moluska (HS [03]) serta lemak dan minyak nabati (HS [15]). Meski surplus perdagangan terus dicapai, tantangan besar tetap ada untuk mendorong hilirisasi demi meningkatkan nilai tambah ekspor. Sumber: BPS.[/caption]Di sisi lain, sektor hilir menunjukkan tren yang berbeda. Produk seperti alas kaki mencatat nilai ekspor yang tinggi di sektor hilir sebesar USD597,60 juta dengan berat 31,29 juta kilogram. Produk ini mencerminkan hasil manufaktur yang telah melalui berbagai tahap pengolahan untuk menghasilkan barang jadi siap pakai. Alas kaki menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan industri hilir dalam memberikan nilai tambah yang signifikan meskipun volumenya jauh lebih kecil dibandingkan dengan sektor hulu.
Secara keseluruhan, data BPS September 2024 mencatat total nilai ekspor produk sektor hulu (termasuk barang intermediate) mencapai USD13,33 miliar (Rp211,31 triliun dengan kurs rupiah Rp15.849) dengan berat total 60,49 juta kilogram. Sementara itu, sektor hilir menyumbang nilai ekspor sebesar USD 1,35 miliar (Rp21,40 triliun), meskipun beratnya 113,93 juta kilogram.
Menurut Ariyo, sudah banyak hasil riset inovasi teknologi dalam negeri yang berpotensi untuk dikomersialisasikan demi mendukung hilirisasi. Tapi, hal ini masih butuh dukungan pemerintah untuk dikembangkan. Tak kalah penting, hilirisasi juga membutuhkan kepastian dalam kuantitas dan kualitas pasokan bahan baku yang memerlukan pembenahan di sektor hulu.
“Di Indonesia kondisi di hulu ini mayoritas masih dikelola secara tradisional dan kelembagaannya masih lemah sehingga kualitas dan kuantitas untuk industri hilir mengalami ketidakpastian,” kata Ariyo.
Investor tak suka dengan ketidakpastian. Ariyo pun memperingatkan situasi ini bisa menimbulkan persepsi negatif investor, termasuk mereka yang sudah berinvestasi. “Sehingga hal tersebut mempengaruhi keputusan potensial investor untuk investasi atau investor existing untuk pengembangan usaha,” katanya.
Sebagai solusi, Ariyo menyarankan pemerintah untuk membangun laboratorium khusus untuk pengolahan bahan baku menjadi produk bernilai tambah tinggi. Hal ini bertujuan agar para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maupun perguruan tinggi dapat mengembangkan riset yang mendukung hilirisasi.
Di samping itu, Ariyo mengatakan pemerintah perlu mendorong komersialisasi hasil riset dengan memberikan insentif kepada pelaku usaha untuk melakukan komersialisasi hasil riset dan teknologi dalam negeri. Pemberian insentifnya bisa dilakukan sesuai tahap pengembangan inovasi. “Sebab proses inovasi dari ide menjadi produk yang komersil di pasar itu ada tahapan-tahapannya. Dan setiap sektor atau produk berbeda. Secara kelembagaan, harus ada lembaga yang minimal berbentuk BLU (Badan Layanan Umum) yang bertugas untuk mendorong komersialisasi hasil riset invoasi dan teknologi dalam neger,” kata Ariyo.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.