Logo
>

Rupiah Melemah Tajam, Pasar Cemas Menanti Keputusan MSCI

Penguatan ekonomi domestik belum cukup solid untuk menopang kurs rupiah.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Rupiah Melemah Tajam, Pasar Cemas Menanti Keputusan MSCI
Rupiah Melemah Tajam, Pasar Cemas Menanti Keputusan MSCI. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah kembali tergelincir dan menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan belum mereda. Dalam sepekan ke depan, rupiah bahkan diproyeksikan bergerak melemah menuju area Rp17.550 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan ekonomi domestik belum cukup solid untuk menopang kurs rupiah. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, fondasi pertumbuhan tersebut dianggap belum benar-benar kokoh.

Menurut Ibrahim, akselerasi ekonomi yang terjadi lebih banyak ditopang konsumsi rumah tangga serta belanja pemerintah. Sementara investasi, yang seharusnya menjadi motor penggerak jangka panjang, belum menunjukkan dominasi berarti.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama sebesar 5,61 persen belum otomatis membuat rupiah perkasa. Struktur pertumbuhannya masih bertumpu pada konsumsi masyarakat dan belanja negara, bukan investasi,” ujarnya kepada awak media, Selasa, 12 Mei 2026.

Sentimen global turut memperkeruh suasana pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat menolak proposal perdamaian Iran. Situasi di kawasan strategis seperti Selat Hormuz memantik kecemasan pelaku pasar dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude.

Di saat bersamaan, indeks dolar AS mengalami penguatan signifikan. Kombinasi penguatan dolar dan meroketnya harga energi membuat ongkos distribusi serta transportasi global semakin mahal.

“Kenaikan harga minyak mentah tidak bisa dihindari. Dampaknya langsung terasa pada biaya transportasi yang melonjak,” kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, tekanan lain datang dari ancaman pemutusan hubungan kerja massal yang terus membayangi sektor padat karya. Ketidakstabilan rantai pasok dan tingginya biaya produksi dinilai mempersempit ruang industri untuk bertahan.

Sepanjang Januari hingga April 2026, sekitar 40 ribu pekerja dilaporkan terkena PHK. Gelombang pemangkasan tenaga kerja itu diperkirakan belum mencapai puncaknya dan masih berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

“Pengangguran riil terus meningkat. Kondisi ini membuat rupiah semakin sulit bangkit,” tutur Ibrahim.

Pasar juga tengah menanti keputusan MSCI terkait kemungkinan penurunan peringkat saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Isu tersebut menjadi variabel tambahan yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah, yang kini berada di salah satu titik terlemah sepanjang perjalanannya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.