KABARBURSA.COM – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan ekonomi global sedang menghadapi tekanan yang serius. ia menyoroti melemahnya aktivitas manufaktur dunia, gejolak geopolitik Timur Tengah, dan penurunan volume perdagangan global sebagai faktor utama yang kini mulai memberi dampak nyata terhadap perekonomian Indonesia.
“Kita masuk triwulan kedua yang baru saja selesai, yaitu April, Mei, dan Juni. Kita melihat bahwa aktivitas manufaktur dunia mengalami pelemahan. Indeks PMI manufaktur global mengalami kontraksi, dan tren ini turut dirasakan di Indonesia,” ungkap Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis, 3 Juli 2025.
Menurutnya, pelemahan aktivitas ekonomi global tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik yang memanas, terutama konflik antara Israel dan Iran yang turut didukung Amerika Serikat. Ketegangan ini sempat memicu lonjakan harga minyak hingga 8 persen saat pengeboman terjadi, meski harga kemudian kembali menurun.
Sementara itu, harga komoditas global tetap fluktuatif dan cenderung melemah. Ditambah lagi, tren perdagangan dan investasi internasional semakin suram.
“Pertumbuhan volume perdagangan global hanya tipis di atas nol, sementara investasi global menunjukkan tren penurunan. Situasi ini membuat IMF dan Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025,” ujar Sri Mulyani.
Di tengah kondisi eksternal yang kurang kondusif, Sri Mulyani memastikan bahwa indikator domestik masih dalam kendali. Ia menyebut inflasi nasional berada di level 1,9 persen, dengan inflasi inti tetap dalam pengawasan Bank Indonesia.
Namun demikian, sinyal perlambatan mulai terasa di berbagai sektor dalam negeri. Penjualan semen sempat melonjak pada Maret dan April, tapi kembali negatif di bulan Mei. Begitu pula dengan penjualan mobil yang mencatat penurunan cukup tajam di bulan yang sama.
“Aktivitas manufaktur nasional juga sudah masuk dalam zona kontraktif. Ini menggambarkan bahwa dampak dari perlambatan global mulai masuk ke dalam perekonomian domestik,” jelasnya.
Meski dihantam berbagai tekanan eksternal, Sri Mulyani menegaskan bahwa sektor perdagangan Indonesia masih menjadi titik terang. Neraca perdagangan nasional tetap positif, bahkan mencatat surplus signifikan sebesar USD24,6 miliar pada Mei 2025.
“Kita tetap harus waspada, tetapi juga optimis. Fondasi fiskal kita kuat dan masih bisa menjadi bantalan menghadapi risiko global,” katanya.(*)