KABARBURSA.COM – Masuknya UFC ke dalam ekosistem siaran Vidio dan NEX bukan sekadar kabar hiburan. Bagi pasar modal, ini sinyal lanjutan tentang bagaimana PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) mengunci pertumbuhan bisnis digital lewat konten premium berbayar, di tengah kompetisi ketat platform streaming dan tekanan monetisasi iklan.
Melalui kemitraan hak siar eksklusif jangka panjang, Vidio dan NEX resmi menjadi rumah UFC di Indonesia mulai Januari 2026. Seluruh ajang UFC—mulai dari Numbered Events hingga Fight Nights—akan ditayangkan secara langsung dan eksklusif. Kerja sama ini membuka sumber pendapatan baru berbasis subscription-driven content, model yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi tumpuan utama Vidio.
Bagi Emtek, UFC adalah aset konten dengan karakter berbeda dibanding sepak bola atau liga olahraga populer lainnya. Basis penggemarnya cenderung loyal, segmented, dan siap membayar, terutama untuk akses live. Ini membuat UFC relatif ideal sebagai produk premium monetisasi, bukan sekadar alat mendongkrak traffic.
Chief of Marketing Officer Vidio, Teguh Wicaksono, menyebut kemitraan ini memperkuat posisi Vidio di segmen olahraga tarung.
“Kami sangat bangga dan bersemangat menjadi rumah eksklusif UFC di Indonesia. Kerja sama ini tidak hanya memperkaya portofolio konten olahraga premium Vidio, tetapi juga menegaskan posisi kami sebagai satu-satunya platform OTT di Indonesia yang menjadi rumah combat sports paling lengkap dan bergengsi,” kata Teguh dalam siaran pers, Rabu, 21 Januari 2026.
Dari Konten ke Arus Kas
Dari sisi bisnis, kehadiran UFC memperluas potensi average revenue per user (ARPU) Vidio dan NEX. Paket langganan UFC dipatok mulai Rp49.000 per bulan, dengan opsi jangka panjang hingga tahunan. Model ini memberi visibilitas pendapatan yang lebih stabil dibandingkan iklan murni, terutama di tengah fluktuasi belanja iklan digital.
Head of Sports Business Emtek Group sekaligus CEO NEX, Hendy Lim, menyoroti kekuatan basis penggemar UFC di Indonesia. “UFC merupakan ajang olahraga kelas dunia dengan basis penggemar yang sangat kuat di Indonesia. Melalui NEX, kami menghadirkan siaran pertandingan UFC secara LIVE dengan kualitas HD di channel Champions Fight,’ katanya.
Ia menambahkan, paket UFC dihadirkan sebagai produk berbayar dengan nilai tambah hiburan lain. “Paket UFC dengan harga Rp49.000/30 hari kami hadirkan sebagai bagian dari komitmen NEX dalam menyuguhkan pengalaman menonton aksi petarung dunia secara lengkap dan terjangkau langsung dari rumah,” kata Hendy.
Bagi investor, poin pentingnya bukan hanya harga paket, tetapi potensi retensi pelanggan. Konten live yang rutin dan berjadwal memberi insentif bagi pelanggan untuk bertahan lebih lama—faktor kunci dalam menekan churn rate platform OTT.
Indonesia dalam Radar Global UFC
Dari sisi UFC, Indonesia dinilai sebagai pasar yang sedang tumbuh cepat di Asia Tenggara. Senior Vice President dan Head of Asia UFC, Kevin Chang, menyebut Indonesia sebagai salah satu pasar paling dinamis di kawasan.
Kolaborasi dengan Emtek diposisikan UFC sebagai upaya memperluas distribusi konten dengan mitra media lokal yang punya jangkauan besar. “Kolaborasi ini memungkinkan kami menghadirkan pengalaman menonton berkualitas tinggi kepada basis pelanggan Vidio dan NEX yang luas,” katanya.
Bagi pasar, pernyataan ini penting karena menegaskan bahwa kerja sama ini bukan lisensi jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang UFC di Indonesia—yang berarti stabilitas konten bagi Vidio.
Kemitraan ini akan dibuka dengan UFC 324: Gaethje vs. Pimblett pada 25 Januari 2026, disusul UFC 325: Volkanovski vs. Lopes 2 pada 1 Februari 2026. Jadwal event yang rapat di awal tahun memberi momentum akuisisi pelanggan sejak kuartal pertama.
Seluruh pertandingan dapat diakses lintas perangkat, dari ponsel, tablet, laptop hingga TV sehingga memperkuat ekosistem Vidio sebagai multi-device platform. Dari perspektif bisnis, ini memperluas peluang bundling dan cross-selling layanan Emtek lainnya.
Bagi pasar modal, masuknya UFC ke Vidio dan NEX adalah:
- Positif untuk positioning konten premium EMTK,
- Berpotensi memperkuat pendapatan berulang (recurring revenue),
- Namun tetap perlu dicermati dari sisi biaya lisensi dan profitabilitas jangka panjang.
UFC bukan konten murah. Tantangan Emtek ke depan adalah memastikan pertumbuhan pelanggan dan retensi cukup untuk menutup biaya hak siar, sekaligus menjaga margin di tengah persaingan OTT yang makin ketat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.