KABARBURSA.COM – Bursa saham utama di Wall Street ditutup melemah tajam pada Senin, 7 Juli 2025, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif besar-besaran terhadap Jepang, Korea Selatan, dan beberapa mitra dagang lainnya.
Tekanan semakin berat saat saham Tesla merosot setelah CEO Elon Musk menyatakan akan membentuk partai politik baru.
Indeks-indeks utama memperdalam pelemahan setelah Trump mengumumkan besaran tarif yang akan diberlakukan terhadap impor dari Jepang dan Korea Selatan mulai 1 Agustus.
Saham semakin goyah ketika tarif tambahan diumumkan untuk Malaysia, Kazakhstan, Afrika Selatan, Laos, dan Myanmar pada sore hari.
Pekan sebelumnya, Nasdaq dan S&P 500 mencetak rekor penutupan tertinggi dalam tiga sesi berturut-turut, terutama setelah laporan tenaga kerja yang kuat. Namun, pasar langsung terguncang oleh isu tarif yang kembali mencuat.
“Pasar seolah-olah menganggap risiko tarif sudah lewat, tapi pengumuman baru ini membuat investor kembali waspada,” kata Emily Roland, Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments, Boston. “Investor tampaknya berharap pengumuman ini tidak bersifat permanen. Ini pola yang sering terjadi: diumumkan keras, kemudian dilunakkan.”
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 422,17 poin atau 0,94 persen ke 44.406,36. S&P 500 melemah 49,37 poin atau 0,79 persen ke 6.229,98, sedangkan Nasdaq terkoreksi 188,59 poin atau 0,91 persen ke 20.412,52.
Saham Tesla menjadi pemberat utama S&P 500 setelah merosot 6,8 persen. Penurunan ini terjadi usai Musk mengumumkan pembentukan partai politik baru bernama “America Party”, yang memanaskan konflik pribadinya dengan Trump. Ini adalah penurunan harian terbesar Tesla sejak 5 Juni 2025 dan menjadi level penutupan terendah sejak saat itu.
Investor juga mencermati kemungkinan pengumuman tarif baru lainnya. Trump menyatakan bahwa AS akan memberi notifikasi tarif tambahan kepada negara lain sebelum 9 Juli, dan tarif baru akan berlaku mulai 1 Agustus. Pada hari yang sama, Trump mengancam tarif tambahan 10 persen terhadap negara-negara yang dinilai mendukung “kebijakan anti-Amerika” dari blok BRICS.
Di awal April lalu, pasar saham sempat bergejolak usai Trump memperkenalkan tarif dasar 10 persen terhadap mayoritas negara dan tambahan hingga 50 persen, namun kemudian menangguhkannya selama 90 hari. Nasdaq sempat memasuki zona bearish saat itu, sebelum akhirnya kembali mencetak rekor di akhir Juni.
Pada perdagangan Senin, sembilan dari sebelas sektor di S&P 500 ditutup melemah. Sektor dengan penurunan terbesar adalah consumer discretionary yang turun 1,25 persen dan energi turun 1,04 persen. Sektor defensif seperti utilitas dan consumer staples justru menguat tipis masing-masing 0,17 persen dan 0,11 persen.
Saham WNS Holdings melesat 14,3 persen setelah perusahaan IT asal Prancis, Capgemini, menyepakati pembelian perusahaan outsourcing tersebut senilai USD3,3 miliar secara tunai.
Kebijakan tarif Trump juga meningkatkan kekhawatiran pasar akan inflasi, yang semakin mempersulit langkah The Fed dalam memangkas suku bunga. Risalah rapat The Fed bulan Juni yang akan dirilis Rabu ini diharapkan memberikan petunjuk arah kebijakan ke depan.
Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, pelaku pasar saat ini memperkirakan 95 persen kemungkinan suku bunga tetap pada bulan Juli, namun peluang pemangkasan pada September berada di kisaran 60 persen.
Fokus investor juga tertuju pada rencana pemangkasan pajak dan belanja pemerintah yang baru saja ditandatangani Trump pekan lalu. Kebijakan ini diperkirakan akan menambah defisit anggaran AS lebih dari USD3 triliun dalam dekade mendatang.
Volume transaksi di bursa AS mencapai 16,5 miliar saham pada Senin, lebih rendah dibanding rata-rata 18,18 miliar dalam 20 sesi terakhir.
Di NYSE, saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 3,44 banding 1. Di Nasdaq, 1.226 saham naik dan 3.354 saham turun, dengan rasio 2,74 banding 1. S&P 500 mencatatkan 25 saham mencapai level tertinggi 52 minggu, sementara Nasdaq mencetak 103 saham tertinggi baru dan 54 saham terendah baru. (*)