Logo
>

Tarif Trump Masih Jadi Pemberat, Pasar Asia Merosot

Ketegangan geopolitik akibat isu Greenland dan ancaman tarif Trump menekan mayoritas bursa Asia, memicu peralihan dana ke aset aman serta memperbesar kekhawatiran soal prospek perdagangan global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Tarif Trump Masih Jadi Pemberat, Pasar Asia Merosot
Sementara pasar Asia merosot, IHSG masih bertahan di zona hijau. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengintensifkan upayanya untuk mengambil kendali atas Greenland. 

    Ancaman pengenaan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa jika kesepakatan tak tercapai menghidupkan kembali wacana perdagangan bertema “jual Amerika”, di mana investor melepas aset-aset AS, mulai dari saham, dolar, hingga obligasi pemerintah.

    Sentimen tersebut terasa kuat sejak awal sesi Asia. Investor terlihat beralih ke aset safe-haven, dengan permintaan terhadap emas dan franc Swiss meningkat. 

    Indeks saham Asia-Pasifik terluas di luar Jepang versi MSCI turun 0,24 persen, menjauh dari rekor tertinggi yang sempat dicapai pekan lalu. Tekanan jual paling terasa di Jepang, dengan Nikkei 225 terkoreksi 1,11 persen ke level 52.991, sementara Topix melemah 0,84 persen ke 3.625.

    Di China, pergerakan indeks cenderung terfragmentasi. Shanghai Composite hampir stagnan dengan penurunan tipis 0,01 persen ke 4.113, namun Shenzhen Component terkoreksi lebih dalam 0,97 persen ke 14.155. CSI300 ikut melemah 0,33 persen ke 4.718. 

    Pasar Hong Kong, Indeks Hang Seng turun 0,29 persen ke 26.487. Tekanan juga terjadi di Korea Selatan, dengan Kospi melemah 0,39 persen ke 4.885, serta Australia, di mana ASX200 turun 0,66 persen ke 8.815. Taiwan menjadi salah satu pengecualian, dengan Taiex justru menguat 0,38 persen ke 31.759.

    Analis pasar senior di Capital.com Kyle Rodda, menilai pasar saat ini masih berharap ketegangan akan mereda dengan sendirinya. Namun, ia mengingatkan adanya risiko kebuntuan yang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. 

    “Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya bukan hanya ke sentimen, tapi juga ke kepercayaan investor dan prospek ekonomi,” ujarnya. Fokus pasar kini tertuju pada pertemuan di Davos, di mana Trump disebut akan kembali mengangkat isu akuisisi Greenland.

    Dari sisi mata uang Asia, pergerakan relatif campuran. Yen menguat 0,18 persen ke 157,83 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,19 persen ke 1,2827 per dolar AS. Dolar Australia menguat 0,31 persen ke 0,6735 per dolar AS. 

    Di sisi lain, rupiah melemah tipis 0,01 persen ke 16.956 per dolar AS, begitu pula rupee India yang turun 0,01 persen ke 90,925 per dolar AS. Yuan menguat 0,06 persen ke 6,9596 per dolar AS, ringgit naik 0,01 persen ke 4,0542 per dolar AS, dan baht Thailand menguat 0,49 persen ke 31,075 per dolar AS.

    Di tengah situasi ini, ketidakpastian tarif kembali menjadi faktor utama yang membebani pasar Asia. Bahkan jika terjadi de-eskalasi, para pelaku pasar menilai episode ini telah menambah lapisan risiko baru, terutama terkait kredibilitas kesepakatan dagang AS dengan mitra-mitranya.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79