Logo
>

Trump Ancam Eropa dengan Tarif 10 Persen demi Greenland

Presiden AS Donald Trump mengancam delapan negara Eropa dengan tarif impor sebagai tekanan politik terkait ambisinya atas Greenland.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Trump Ancam Eropa dengan Tarif 10 Persen demi Greenland
Donald Trump mengancam tarif impor 10 persen terhadap negara Eropa demi Greenland, memicu ketegangan baru dalam hubungan AS dan NATO. Foto: IG @whitehouse

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Donald Trump kembali bikin sekutu lama Amerika menelan ludah. Dari lapangan golf di West Palm Beach, Florida, Presiden Amerika Serikat itu melempar ancaman yang bikin Eropa panas dingin. Mulai Februari, ia bilang akan mengenakan pajak impor sebesar 10 persen terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa. Alasannya bukan perkara dagang biasa, melainkan karena negara-negara itu dianggap menghalangi ambisi Amerika Serikat menguasai Greenland.

    Delapan negara yang masuk daftar Trump adalah Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Ancaman itu tidak berhenti di situ. Trump juga mengultimatum, jika sampai 1 Juni tidak ada kesepakatan soal apa yang ia sebut sebagai pembelian Greenland secara penuh dan total oleh Amerika Serikat, maka tarif impor akan melonjak menjadi 25 persen.

    Langkah ini langsung dibaca sebagai sinyal bahwa Trump sedang menjadikan tarif dagang sebagai alat tekan politik. Greenland, wilayah semi-otonom milik Denmark yang juga anggota NATO, dianggap Trump sebagai aset strategis yang krusial bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

    Dalam unggahan di Truth Social, Trump terang-terangan membuka pintu negosiasi sambil tetap memamerkan otot ekonominya.

    “Amerika Serikat segera terbuka untuk bernegosiasi dengan Denmark dan atau negara-negara ini yang telah mempertaruhkan begitu banyak hal, meskipun kami telah melakukan banyak hal untuk mereka,” tulis Trump, dikutip dari AP, Minggu, 18 Januari 2026.

    Ancaman tarif ini berpotensi menjadi retakan serius dalam hubungan Amerika Serikat dengan mitra-mitra lamanya di NATO. Aliansi yang berdiri sejak 1949 itu selama puluhan tahun menjadi fondasi keamanan kolektif Eropa dan Amerika Utara. Namun Trump dikenal tidak segan menggunakan sanksi dagang untuk memaksa kawan maupun lawan tunduk pada kemauannya. Sebagian negara memilih berkompromi, sebagian lain melawan. China menjadi salah satu yang paling keras menentang.

    Situasi ini kian canggung karena Trump dijadwalkan terbang ke Swiss pada Selasa mendatang untuk menghadiri World Economic Forum di Davos. Di sana, ia hampir pasti akan bertemu langsung dengan para pemimpin Eropa yang baru saja ia ancam dengan tarif yang akan berlaku dalam hitungan minggu.

    Dari Kopenhagen, reaksi keras mulai bermunculan. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen mengaku terkejut. Menurutnya, ancaman Trump datang tak lama setelah pertemuan yang ia sebut konstruktif dengan pejabat tinggi Amerika Serikat di Washington.

    Nada serupa datang dari jantung Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bersama Ketua Dewan Eropa Antonio Costa memperingatkan bahwa kebijakan tarif tersebut berisiko merusak hubungan transatlantik dan memicu spiral konflik yang berbahaya. Mereka menegaskan Eropa tetap berkomitmen menjaga kedaulatannya.

    Sekutu Lama, Tekanan Baru dari Washington

    Masalahnya, ancaman Trump juga memunculkan tanda tanya besar soal teknis pelaksanaannya. Seorang diplomat Eropa yang berbicara dengan syarat anonim menyebut Uni Eropa adalah satu kawasan ekonomi tunggal dalam urusan perdagangan. Belum jelas bagaimana Gedung Putih akan menerapkan tarif itu secara hukum. Trump bisa saja menggunakan kewenangan darurat ekonomi, meski kewenangan tersebut kini sedang diuji di Mahkamah Agung Amerika Serikat.

    Obsesi Trump terhadap Greenland sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah lama menyatakan Amerika Serikat seharusnya memiliki pulau yang kaya mineral dan berpenduduk sekitar 57 ribu jiwa itu. Keinginan itu kembali menguat setelah operasi militer yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro awal bulan ini.

    Trump juga mengaitkan ancaman tarif dengan apa yang ia sebut sebagai pengerahan pasukan simbolik dari negara-negara Eropa ke Greenland. Ia berulang kali menyebut pulau itu penting bagi sistem pertahanan rudal Golden Dome milik Amerika Serikat. Ia juga mengklaim Rusia dan China berpotensi mencoba mengambil alih wilayah tersebut.

    Padahal, Amerika Serikat sebenarnya sudah memiliki akses militer ke Greenland sejak perjanjian pertahanan tahun 1951. Menteri Luar Negeri Denmark mencatat, sejak 1945 kehadiran militer Amerika di Greenland justru menyusut drastis. Dari ribuan personel di lebih dari 17 pangkalan, kini tersisa sekitar 200 tentara di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di barat laut pulau. Pangkalan itu berfungsi untuk peringatan rudal, pertahanan rudal, dan pengawasan luar angkasa bagi Amerika Serikat dan NATO.

    Di Eropa, penolakan terhadap ambisi Trump terus menguat. Meski beberapa negara sempat menerima tarif 15 persen tahun lalu demi menjaga hubungan ekonomi dan keamanan dengan Washington, kesabaran mulai menipis.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menyamakan ancaman tarif Trump dengan agresi Rusia di Ukraina.

    “Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan mempengaruhi kami, baik di Ukraina, Greenland, atau di mana pun di dunia ketika kami menghadapi situasi seperti ini,” kata Macron dalam unggahan yang diterjemahkan di platform X.

    Sementara itu, reaksi publik tidak kalah keras. Di ibu kota Greenland, Nuuk, ratusan warga turun ke jalan meski suhu mendekati titik beku, hujan, dan jalanan licin. Mereka berunjuk rasa mendukung pemerintahan sendiri Greenland. Ribuan orang juga berbaris di Kopenhagen, banyak di antaranya membawa bendera Greenland dan Denmark. Beberapa poster bernada sindiran ikut terbentang, seperti Make America Smart Again dan Hands Off.

    Seorang demonstran Denmark, Elise Riechie, menyampaikan pesannya sambil menggenggam dua bendera. “Ini penting bagi seluruh dunia. Ada banyak negara kecil. Tidak satu pun dari mereka untuk dijual,” katanya.

    Aksi protes ini berlangsung hanya beberapa jam setelah delegasi bipartisan anggota parlemen Amerika Serikat berkunjung ke Kopenhagen untuk meyakinkan Denmark dan Greenland bahwa mereka tetap mendapat dukungan dari Washington.

    Di sisi militer, Denmark mencoba menurunkan ketegangan. Mayor Jenderal Søren Andersen, pimpinan Joint Arctic Command, menegaskan Denmark tidak memperkirakan Amerika Serikat akan menyerang Greenland atau negara NATO lainnya. Ia menjelaskan bahwa pasukan Eropa yang baru-baru ini dikerahkan ke Nuuk hanya mengikuti latihan pertahanan Arktik.

    “Saya tidak akan masuk ke ranah politik, tetapi saya akan mengatakan bahwa saya tidak pernah mengharapkan negara NATO menyerang negara NATO lainnya,” kata Andersen dari atas kapal militer Denmark yang bersandar di Nuuk. “Bagi kami, bagi saya, ini bukan soal memberi sinyal. Ini tentang latihan unit militer, bekerja bersama para sekutu.”

    Denmark juga menggelar pertemuan perencanaan dengan sekutu NATO di Greenland untuk membahas keamanan Arktik menghadapi potensi ancaman Rusia. Amerika Serikat turut diundang dalam latihan Operation Arctic Endurance dalam beberapa hari ke depan.

    Selama dua setengah tahun memimpin pasukan di Greenland, Andersen mengaku belum pernah melihat kapal perang atau kapal tempur Rusia maupun China di sekitar pulau itu. Pernyataan ini berbanding terbalik dengan klaim Trump.

    Namun satu hal ditegaskan Andersen tanpa ragu. Jika, dalam skenario yang sangat kecil kemungkinannya, pasukan Amerika menggunakan kekuatan di wilayah Denmark, tentara Denmark punya kewajiban untuk melawan.

    Cerita Greenland pun belum selesai. Di antara tarif, diplomasi, dan latihan militer, satu hal makin jelas. Pulau es di utara itu kini berada di tengah tarik-menarik kekuatan besar dunia, dengan Eropa dan Amerika saling menguji batas kesetiaan lama.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).