KABARBURSA.COM — Di mata banyak orang, manuver Presiden Amerika Serikat Donald Trump belakangan ini terdengar seperti lelucon geopolitik yang kelewat batas. Mengancam tarif ke negara-negara NATO karena menolak Amerika Serikat menguasai Greenland bukan cuma bikin dahi berkerut, tapi juga memancing tanya besar soal motif di baliknya. Apakah ini sekadar gaya Trump yang gemar bikin gaduh atau justru bagian dari kalkulasi yang lebih dingin?
Founder Pintar Saham, Ngurah Warman, melihat kegaduhan itu dari sudut yang berbeda. Baginya, apa yang dilakukan Trump tidak bisa langsung dicap sebagai kegilaan politik. Ada kemungkinan, semua ini justru sudah dihitung matang sebagai strategi.
“Banyak yang pikir Trump gila. Tapi menurut keyakinan saya, ini semua sudah dikalkulasi dengan matang. Keyakinan saya, bisa saja salah,” kata Ngurah dalam keterangan tertulis, Minggu, 18 Januari 2026.
Ngurah mengajukan beberapa dugaan yang menurutnya layak dipertimbangkan. Dugaan pertama berkaitan langsung dengan arah uang dan aset. Ia menduga Trump dan lingkar terdekatnya sudah menempatkan posisi besar di emas dan perak. Dalam logika pasar, kekacauan global kerap menjadi pupuk bagi kenaikan harga logam mulia.
“Makin kacau dunia, makin meroket harga emas dan perak,” ujarnya.
Dugaan kedua lebih politis dan menyentuh jantung konflik global. Menurut Ngurah, manuver Trump di Greenland berpotensi memecah fokus NATO yang selama ini terkunci di Ukraina. Jika perhatian aliansi itu terbelah, Rusia bisa mendapat ruang lebih leluasa untuk bergerak.
“Dengan Trump sibuk bikin perang di Greenland maka perhatian NATO yang selama ini fokus di Ukraina akan terpecah. Ukraina bisa langsung dicaplok Rusia,” kata Ngurah.
Ia melanjutkan, jika pada akhirnya NATO kembali fokus ke Greenland, Ukraina bisa terdorong meminta bantuan langsung ke Amerika Serikat. Dalam skenario itu, bantuan bukan cuma soal senjata atau dana, tapi bisa dibarengi kepentingan ekonomi, termasuk akses ke sumber daya.
Ngurah bahkan mengaitkannya dengan pola lama. Bantuan militer yang berujung pada konsesi tambang. Sebuah model yang, menurutnya, pernah terjadi di berbagai belahan dunia.
Dugaan ketiga menyentuh ranah domestik Amerika. Ngurah menilai isu Greenland bisa berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari perkara sensitif lain yang membelit Trump. Salah satunya, dokumen Epstein yang sempat menyeret nama Trump ke ruang publik.
“Dengan warga sibuk bahas Greenland, orang-orang lupa sama kasus Epstein,” kata Ngurah.
Di ujung analisanya, Ngurah menyimpulkan satu benang merah. Kekacauan yang diciptakan Trump, menurutnya, bermuara pada satu tujuan, yakni keuntungan. “Jadi kekacauan yang dibuat Trump ini menurut saya tujuannya adalah cuan,” tandas Ngurah.
Ia bahkan berseloroh, ide semacam ini terasa seperti datang dari perusahaan teknologi analitik yang gemar membaca peluang dari kekacauan global. “Ciptakan chaos, cari cuan. Rob in hood di negara tetangga yang sedang kebakaran,” ujarnya.
Pandangan Ngurah itu muncul di tengah eskalasi nyata di panggung internasional. Sejumlah media asing melaporkan bahwa Trump kembali serius mendorong upaya Amerika Serikat untuk “memperoleh” Greenland, wilayah otonom Denmark yang strategis di kawasan Arktik. Opsi yang dibahas tidak lagi sebatas wacana diplomatik, melainkan juga tekanan ekonomi.
Trump disebut mengancam akan mengenakan tarif impor 10 persen terhadap negara-negara Eropa, termasuk anggota NATO, jika terus menghalangi ambisi Amerika di Greenland. Ancaman tarif itu memicu reaksi keras dari Denmark dan sekutu Eropa lainnya, yang menegaskan bahwa Greenland bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan.
Di Greenland sendiri, penolakan datang dari berbagai lapisan masyarakat. Aksi protes bermunculan, menegaskan bahwa masa depan wilayah itu harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh tekanan ekonomi atau geopolitik dari luar.
Survei di Amerika Serikat pun menunjukkan dukungan publik terhadap ide menguasai Greenland relatif rendah. Mayoritas warga AS menilai langkah itu tidak sepadan dengan risiko konflik diplomatik dengan sekutu lama.
Meski demikian, Trump bersikukuh bahwa Greenland penting bagi keamanan nasional Amerika. Letaknya yang strategis, potensi sumber daya alam, dan posisi di jalur Arktik menjadi alasan utama yang terus diulang.
Di titik inilah analisis Ngurah menemukan relevansinya. Apakah Trump sedang memainkan catur geopolitik tingkat tinggi atau sekadar memanfaatkan kekacauan sebagai alat tawar ekonomi dan politik. Jawabannya belum tentu tunggal.
Namun satu hal jelas, Greenland kini bukan lagi pulau dingin di pinggir peta. Ia telah berubah menjadi panggung tarik-menarik kepentingan global, tempat tarif, tambang, perang, dan cuan bertemu dalam satu cerita yang sama.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.