Logo
>

Trump dan Xi Bertemu di Tengah Krisis Energi, Taiwan dan AI Jadi Rebutan Baru

Pertemuan Trump dan Xi Jinping dibayangi perang Iran, krisis energi global, Taiwan, serta persaingan AI dan chip semikonduktor.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Trump dan Xi Bertemu di Tengah Krisis Energi, Taiwan dan AI Jadi Rebutan Baru
Trump bertemu Xi Jinping di tengah krisis energi global, isu Taiwan, perang Iran, dan persaingan AI yang memanas antara AS dan China. Foto: IG @whitehouse

KABARBURSA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing, China, Rabu waktu setempat untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan dua pemimpin negara adidaya itu berlangsung di tengah situasi global yang gelisah akibat perang, konflik dagang, hingga persaingan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Trump berangkat ke China saat posisinya di dalam negeri sedang tidak sepenuhnya aman. Popularitasnya tertekan akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, serta kenaikan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi global.

“Kami adalah dua negara adidaya. Kami negara paling kuat di dunia dari sisi militer. China dianggap nomor dua,” kata Trump kepada wartawan sebelum meninggalkan Gedung Putih, dikutip dari AP, Rabu, 13 Mei 2026

Meski tetap tampil percaya diri, Trump datang ke Beijing dengan agenda ekonomi yang cukup berat. Ia berharap bisa membawa pulang kesepakatan baru agar China membeli lebih banyak produk pangan dan pesawat buatan Amerika Serikat.

Trump bahkan terang-terangan menyebut perdagangan akan menjadi fokus utama pembicaraannya dengan Xi Jinping. “Lebih dari apa pun, kami akan bicara soal perdagangan,” ujarnya.

Pemerintahan Trump juga ingin membentuk semacam Dewan Perdagangan bersama China untuk meredam ketegangan dagang yang sempat memanas sejak perang tarif tahun lalu. Saat itu Trump menaikkan tarif impor, lalu dibalas China lewat pembatasan mineral tanah jarang yang sangat dibutuhkan industri teknologi Amerika Serikat.

Ketegangan itu sempat mereda setelah kedua negara menyepakati gencatan perang dagang selama satu tahun pada Oktober 2025.

Namun agenda Trump kali ini tetap dibayangi konflik Iran. Perang di Timur Tengah membuat Selat Hormuz praktis lumpuh dan menghambat distribusi minyak serta gas dunia. Akibatnya, harga energi melonjak tajam dan memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Trump mengklaim situasi Iran masih berada dalam kendali Amerika Serikat meski Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru saja mengunjungi Beijing pekan lalu. “Kami punya banyak hal untuk dibahas. Jujur saja, saya tidak akan bilang Iran salah satunya karena Iran sangat terkendali,” kata Trump.

Selain perdagangan dan Iran, isu Taiwan dipastikan ikut memanaskan pembicaraan. China keberatan dengan rencana Amerika Serikat menjual paket senjata senilai USD11 miliar atau sekitar Rp185,9 triliun kepada Taiwan.

Paket senjata itu sebenarnya sudah disetujui pemerintahan Trump sejak Desember lalu, tetapi belum direalisasikan. Trump mengatakan isu tersebut akan dibicarakan langsung dengan Xi Jinping.

Taiwan sendiri kini menjadi titik penting dalam persaingan teknologi global. Pulau itu merupakan produsen chip terbesar dunia dan menjadi tulang punggung pengembangan AI. Bahkan, impor Amerika Serikat dari Taiwan tahun ini disebut sudah melampaui impor dari China.

Trump juga membawa rombongan elite bisnis Amerika Serikat ke Beijing. Di antaranya CEO NVIDIA Jensen Huang serta bos Tesla dan SpaceX, Elon Musk.

Dalam perjalanan menuju Beijing menggunakan Air Force One, Trump menulis di media sosial bahwa permintaan pertamanya kepada Xi Jinping adalah membuka pasar China lebih luas bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.

“Saya akan meminta Presiden Xi, pemimpin dengan reputasi luar biasa, untuk membuka China agar orang-orang hebat ini bisa menunjukkan kemampuan mereka,” tulis Trump.

Meski Trump terus memamerkan optimisme, sejumlah pengamat menilai China justru datang ke meja perundingan dengan posisi lebih kuat.

Penasihat senior bidang bisnis dan ekonomi China di Center for Strategic and International Studies, Scott Kennedy, mengatakan Beijing saat ini memiliki posisi tawar yang lebih nyaman dibanding Washington.

“Selama tidak ada ledakan konflik dalam pertemuan dan Trump tidak kembali menaikkan eskalasi, China pada dasarnya keluar sebagai pihak yang lebih kuat,” kata Kennedy.

Selain isu dagang dan Taiwan, Trump juga disebut akan menawarkan pembicaraan soal pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat, China, dan Rusia.

Saat ini Pentagon memperkirakan China memiliki lebih dari 600 hulu ledak nuklir aktif dan jumlahnya bisa melampaui 1.000 unit pada 2030. Namun angka itu masih jauh dibanding Amerika Serikat dan Rusia yang masing-masing diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).