Logo
>

Wall Street Cetak Rekor Lagi, Investor Berpaling ke Laba Korporasi

Wall Street kembali cetak rekor di tengah sentimen positif Delta, Nvidia, dan harapan pemangkasan suku bunga, meski bayang-bayang tarif baru masih membayangi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Wall Street Cetak Rekor Lagi, Investor Berpaling ke Laba Korporasi
Ilustrasi: Wall Street di Amerika Serikat. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Bursa saham Amerika Serikat kembali mencetak rekor baru pada Kamis waktu AS, 10 Juli 2025, di tengah sentimen positif dari sektor transportasi dan teknologi. 

Investor tampak lebih memilih mencermati laporan kinerja emiten dan data ekonomi ketimbang mencemaskan rencana tarif baru dari mantan Presiden Donald Trump.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama membukukan penutupan tertinggi sepanjang masa, masing-masing naik 0,27 persen ke level 6.280,46 dan 0,09 persen ke 20.630,67. 

Indeks Dow Jones Industrial Average ikut menguat 192 poin atau 0,43 persen, hanya terpaut tipis dari rekor penutupan tertingginya pada Desember tahun lalu.

Kenaikan ini dipimpin oleh sektor transportasi, setelah Delta Air Lines melaporkan proyeksi laba kuartal ketiga dan sepanjang tahun yang melampaui ekspektasi pasar. 

Saham Delta melonjak 12 persen yang merupakan kenaikan harian terbesar sejak 2020. Kabar ini memicu lonjakan saham maskapai lain seperti United Airlines dan American Airlines, yang masing-masing terbang 14,3 persen dan 12,7 persen.

Kuatnya kinerja sektor ini mendorong indeks Dow Transportation ke posisi tertinggi sejak Februari, sebuah sinyal penting yang biasanya mencerminkan optimisme terhadap aktivitas ekonomi ke depan.

Nvidia Sentuh Valuasi USD4 Triliun, Tesla dan Kellogg Ikut Curi Perhatian

Dari sektor teknologi, Nvidia kembali menarik perhatian. Meskipun hanya naik tipis 0,7 persen, raksasa chip AI ini berhasil menembus valuasi pasar sebesar USD4 triliun untuk pertama kalinya, menjadikannya kontributor terbesar kedua bagi kenaikan S&P 500 hari itu.

Namun, performa saham teknologi besar tidak seragam. Netflix, Microsoft, dan Meta justru mengalami penurunan. Sebaliknya, saham Tesla naik 4,7 persen setelah perusahaan menetapkan jadwal rapat umum pemegang saham tahunan pada November, merespons desakan investor yang menginginkan kepastian agenda perusahaan.

Saham WK Kellogg juga mencatat lonjakan tajam sebesar 30,6 persen menyusul laporan bahwa produsen makanan asal Italia, Ferrero, sedang dalam pembicaraan akuisisi terhadap perusahaan sereal tersebut. 

Di sisi lain, Conagra Brands justru terkoreksi 4,4 persen karena mengoreksi proyeksi laba akibat lonjakan biaya impor, termasuk untuk produk seperti saus Hunt’s.

Data Pengangguran Redam Kekhawatiran The Fed

Di sisi makroekonomi, data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan tercatat 227.000 untuk pekan yang berakhir 5 Juli, lebih rendah dari perkiraan 235.000. 

Angka ini juga merupakan level terendah dalam tujuh pekan terakhir. Meskipun data sekitar libur nasional seperti 4 Juli kerap fluktuatif, hasil ini cukup untuk menenangkan pasar bahwa ketenagakerjaan tetap stabil.

“Gabungan laporan Delta dan data pengangguran yang relatif jinak membuat pelaku pasar kembali percaya diri,” ujar Chief Investment Strategist di Janney Montgomery Scott Mark Luschini. 

Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap dampak tarif terhadap inflasi tampaknya belum cukup kuat untuk menggoyahkan optimisme pelaku pasar.

Hal ini tercermin dari reaksi pasar terhadap pengumuman tarif baru dari Donald Trump, termasuk tarif 50 persen untuk tembaga yang berlaku mulai 1 Agustus dan ancaman tarif tambahan untuk ekspor dari Brasil. 

Sejumlah negara masih menanti kejelasan dari Gedung Putih, sementara investor tampaknya memilih bersikap menunggu.

Peluang Rate Cut September Naik

Risalah rapat The Fed untuk bulan Juni menunjukkan sebagian besar pejabat bank sentral masih membuka ruang pemangkasan suku bunga tahun ini. Mereka menilai potensi dampak tarif terhadap inflasi bersifat "sementara dan terbatas".

Meski pemangkasan suku bunga pada Juli kecil kemungkinannya, pasar menilai peluang penurunan 25 basis poin pada September kini mendekati 64 persen, mengacu pada data CME FedWatch.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, memperingatkan bahwa dampak penuh dari kebijakan tarif baru terhadap inflasi mungkin baru terasa pada akhir 2025 atau bahkan awal 2026. 

Itulah sebabnya, menurut Musalem, The Fed masih perlu berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam mengubah kebijakan suku bunga.

Pasar Abaikan Risiko, Sampai Kapan?

Bursa saham AS kembali menunjukkan daya tahan yang luar biasa, bahkan ketika risiko-risiko geopolitik dan kebijakan tarif muncul ke permukaan. 

Lonjakan indeks kali ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar lebih tertarik melihat fundamental emiten ketimbang mengkhawatirkan dinamika politik.

Namun perlu dicatat, musim laporan keuangan kuartal kedua akan segera dimulai pekan depan. Ini akan menjadi ujian nyata bagi ekspektasi pasar, apakah perusahaan mampu menjaga profitabilitas di tengah potensi kenaikan biaya akibat tarif dan perlambatan permintaan global.

Untuk saat ini, investor masih percaya bahwa ekonomi cukup kuat untuk menopang pertumbuhan, dan bank sentral cukup fleksibel untuk merespons jika diperlukan. Tapi seperti biasa di pasar keuangan: euforia bisa cepat berubah bila ekspektasi tak terpenuhi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79