KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia diperkirakan tidak akan langsung turun tajam meski muncul peluang kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah analis menilai, pelaku pasar masih menunggu bukti konkret implementasi di lapangan sebelum mengurangi premi risiko geopolitik.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan pasar minyak saat ini cenderung bersikap skeptis terhadap setiap perkembangan negosiasi, mengingat pengalaman sebelumnya yang kerap berakhir tanpa realisasi.
“Pasar minyak saat ini cenderung sangat skeptis dan kemungkinan besar tidak akan melakukan pricing in secara penuh dalam waktu singkat,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026.
Ia menjelaskan, trauma historis menjadi faktor utama yang membuat investor tidak langsung merespons positif setiap kabar kesepakatan.
Menurutnya, pelaku pasar lebih memilih menunggu bukti fisik di lapangan, seperti normalisasi aktivitas pengiriman minyak tanpa pengawalan militer tambahan di kawasan Teluk.
Selain itu, kompleksitas tuntutan terhadap Iran, termasuk terkait pembongkaran fasilitas nuklir, dinilai masih menjadi hambatan besar yang membuat pasar menahan ekspektasi.
“Selama Iran belum memberikan sinyal teknis yang jelas, seperti membuka akses penuh bagi inspektur internasional, pasar akan tetap menahan sebagian premi risiko,” kata dia.
Dalam jangka pendek, Wahyu memperkirakan respons pasar terhadap kabar positif hanya akan terbatas.
“Reaksi awal mungkin hanya berupa penurunan sekitar USD2–3 atau maksimal USD10 sebagai respons terhadap berita baik, namun penurunan total baru terjadi saat implementasi poin-poin krusial benar-benar dimulai,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa harga minyak saat ini masih mengandung premi risiko geopolitik yang signifikan, yang secara historis berada di kisaran USD5-10 per barel.
“Jika Selat Hormuz dinyatakan aman secara konkret, Brent berpotensi terkoreksi ke kisaran USD68 hingga USD72, mendekati nilai fundamentalnya tanpa gangguan keamanan,” kata Wahyu.
Sejalan dengan itu, pergerakan harga minyak terbaru menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik. Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent turun ke US$98,28 per barel, melemah 5,9 persen, sementara WTI turun ke USD87,68 per barel, terkoreksi 5,1 persen setelah muncul laporan dorongan gencatan senjata di Timur Tengah.
Sementara itu, Analis Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, mengatakan pasar mulai merespons meningkatnya peluang de-eskalasi konflik.
“Ekspektasi gencatan senjata sedikit meningkat dan aksi ambil untung sedang memimpin arah pasar,” ujarnya seperti dikutip Reuters, 25 Maret 2026.
Meski demikian, pergerakan harga dinilai masih sangat bergantung pada perkembangan berita. Strategis global J.P. Morgan Asset Management, Kerry Craig, menyebut pasar saat ini bergerak mengikuti dinamika informasi yang berkembang.
“Pasar saat ini memperdagangkan headline berita,” kata Craig.
Sementara itu, dari sisi fundamental, tidak terdapat perubahan signifikan yang dapat menjelaskan fluktuasi harga minyak yang tajam. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah meningkat 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar.
Di sisi lain, OPEC+ juga belum menunjukkan perubahan kebijakan produksi yang signifikan, sementara permintaan global belum mengalami lonjakan berarti.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga minyak saat ini dinilai masih didominasi oleh sentimen geopolitik, dengan arah selanjutnya sangat bergantung pada realisasi di lapangan, bukan sekadar kesepakatan di atas meja perundingan. (*)